TAHAPAN PENELITIAN ILMIAH 0 komentar

Gambar 1. Tahapan Penelitian Ilmiah



Menggali dan Merumuskan Masalah

a. Menggali Masalah

Banyak masalah yang terdapat di alam semesta ini. Dari masalah sosial manusia, hewan atau mungkin juga tumbuhan sampai dengan masalah-masalah eksakta, dan bahkan masalah gaib. Masalah tersebut ingin dijawab, dipecahkan, diatasi, dicari jalan keluarnya secara ilmiah. Memang tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan kajian ilmiah atau hasil pikir manusia, misalnya masalah yang berkaitan dengan hal-hal yang gaib. Menggali masalah barangkali berbeda dengan “mencari-cari masalah”. Menggali masalah berarti mengungkapkan masalah-masalah yang ada, menyeleksi masalah yang penting dan mencoba memecahkan masalah tersebut untuk kesejahteraan bagi masyarakat luas. Oleh sebab itu, penelitian juga sebaiknya memperhatikan tata nilai di masyarakat.

Penelitian-penelitian yang bertentangan dengan tata nilai masyarakat memang perlu dihindari. Hal ini untuk mencegah timbulnya perilaku masyarakat yang cenderung negatif. Dalam masyarakat Islam, misalnya, adalah kurang tepat jika seorang peneliti meneliti bagaimana memproduksi babi yang efisien. Akan tetapi, barangkali akan relevan jika seorang peneliti meneliti dampak negatif mengkonsumsi daging babi dipandang dari sudut kesehatan.

Masalah penelitian bisa muncul dari ;

1. Dari kehidupan sehari-hari yang kita amati, rasakan, kita hayati dan kita renungkan.

2. Dari pembicaraan masyarakat luas yang sedang hangat.

3. Dari prioritas nasional dan atau prioritas topik penelitian yang diminta oleh penyandang dana.

4. Dari berbagai tulisan yang dimuat di berbagai media masa.

5. Dari buku-buku pelajaran yang memuat berbagai teori, konsep, atau prinsip.

6. Dari hasil-hasil penelitian baik dari peneliti maupun dari orang lain.

7. Dari diskusi-diskusi ilmiah, seminar, kuliah, wawancara dll.

8. Pengalaman pribadi atau orang lain.

9. Analisis bidang pengetahuan.

10. Ulangan serta perluasan penelitian.

11. Cabang studi yang sedang dikerjakan.

12. Praktek serta keinginan masyarakat.



b. Merumuskan Masalah

Setelah menemukan masalah yang menarik, langkah berikutnya adalah merumuskan masalah. Banyak pertimbangan yang harus dilakukan agar supaya masalah yang dipilih nantinya akan menjadi rumusan yang baik (yaitu yang penting, menarik, punya arti yang luas dan secara operasional dapat diteliti). Untuk itu, diperlukan kajian yang cukup agar suatu masalah dapat dirumuskan. Untuk itu yang bisa dilakukan antara lain adalah:

1. menetapkan alternatif masalah.

2. Mengadakan telaah kepustakaan dan studi pendahuluan.

3. Pilih salah satu masalah yang terbaik.

4. Telaah kepustakaan dan studi pendahuluan khusus.

5. Pahami kait berkaitnya masalah.

6. Nilailah luas sempitnya masalah.

7. Tetapkan sudut pandang atau pendekatan.
Rumuskan dengan jelas permasalahan yang ingin diteliti/ditulis. Uraikan pendekatan dan konsep untuk menjawab masalah yang diteliti/ditulis (kerangka pemecahan masalah), hipotesis (jika ada) yang akan diuji atau dugaan yang akan dibuktikan. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi dan lingkup yang menjadi batasan penelitian/tulisan. Uraian perumusan masalah tidak selalu dalam bentuk pertanyaan.

Kerangka pemecahan masalah merupakan kerangka berpikir secara teoritis maupun empirik untuk memecahkan masalah yang sudah diidentifikasi. Disini digambarkan berbagai alternatif pemecahan masalah yang mungkin dilakukan untuk memecahkan masalah yang dirumuskan. Bagaimana proses pemilihan alternatif itu sampai terpilih cara pemecahan yang paling baik yang akan dilakukan. Kemukakan alternatif terbaik untuk memecahkan masalah tersebut. Uraikan alasan logiknya mengapa kita mengemukankan hal tersebut. Kemukakan kelebihan “metode” pemecahan masalah dibandingkan dengan yang sudah ada sehingga diharapkan “metode” tersebut dapat memecahkan masalah tersebut di atas. Metode pemecahan masalah inilah yang nantinya dijabarkan dalam materi dan metode penelitian.



Merumuskan hipotesis

Penggunaan hipotesis dapat didasarkan kepada permasalahan dan tujuan penelitian kita. Tidak ada keharusan dalam sebuah penelitian dimulai dengan hipotesis. Sebagai contohnya adalah pada penelitian eksploratif. Pada penelitian jenis ini, hipotesis hampir sulit dirumuskan, sehingga banyak penelitian eksploratif tidak menggunakan hipotesis. Penelitian eksploratif merupakan penelitian pendahuluan, sebagai langkah awal untuk penelitian yang lebih mendalam. Meskipun demikian dalam penelitian eksploratif sekalipun harus ada pedoman yang dapat membatasi atau memberi pedoman atau arah penelitian yang hendak dilakukan. Oleh sebab itu, setidak-tidaknya suatu penelitian agar bisa dilakukan harus ada pertanyaan atau perumusan masalah yang hendak dikaji.

Lain halnya dengan penelitian yang langkah pokoknya disusun oleh komponen masalah-hipotesis-data-analisis-kesimpulan, maka hipotesis merupakan suatu keharusan. Pada jenis penelitian ini, hipotesis disusun berdasarkan teori-teori atau fakta-fakta yang telah ada. Hipotesis inilah yang kemudian diuji kebenarannya melalui penelitian.

Apa Itu Hipotesis?

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian. Dinyatakan sementara karena hipotesis disusun berdasarkan teori dan fakta yang ada, dimana hal ini perlu diuji kebenarannya.

Hipotesis amat berguna dalam penelitian antara lain sebagai berikut (Nazir, 1988):

a. memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.

b. Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta.

c. Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta ke dalam kesatuan penting dan menyeluruh.

d. Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta.

Menggali Hipotesis

Salah satu cara untuk menggali hipotesis adalah dari berbagai informasi baik dari karya ilmiah, buku, fenomena alam atau dari pengalaman pribadi maupun orang lain, wawasan, imajinasi, data yang tersedia dll.

Seperti yang telah penulis uraikan bahwa hipotesis dapat disusun dari fakta-fakta yang dirangkum dalam tinjauan pustaka. Dari analisis dan sintesis berbagai hasil penelitian, maka kita dapat menghasilkan simpulan. Simpulan dari telaah pustaka dapat merupakan konsep yang masih memerlukan pembuktian. Nah, konsep tersebut dapat dijadikan hipotesis dari penelitian anda. Mungkin pula setelah kita merangkai berbagai hasil penelitian diperoleh suatu konsep argumentatif yang secara logik dapat diterima tanpa harus dibuktikan melalui penelitian karena sudah terbukti kebenarannya dengan sendirinya. Konsep temuan anda tersebut dapat dijadikan dasar untuk menyusun hipotesis. Caranya, anda hubungkan konsep anda dengan fenomena lain yang berkaitan dengan masalah yang akan anda teliti.

Dari uraian tersebut, maka seorang peneliti harus mempunyai banyak informasi tentang masalah yang akan dipecahkan. Kita dapat mencari informasi dari berbagai artikel yang dapat kita cari di jurnal-jurnal ilmiah, internet atau sumber informasi lainnya. Banyak informasi saja tidak cukup. Peneliti harus mampu memilih informasi-informasi yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti serta kemudian menganalisis dan mensintesisnya sesuai dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan. Ini berarti seorang peneliti harus mampu menghubungkan suatu fakta dengan fakta yang lain dalam fenomena yang sedang/akan diteliti.

Merumuskan hipotesis

Setelah menggali hipotesis, tiba saatnya kita merumuskan hipotesis. Menurut Nazir (1988) bahwa dalam merumuskan hipotesis ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu (1) hipotesis harus dirumuskan secara jelas dan padat serta spesifik, (2) hipotesis sebaiknya dinyatakan dalam kalimat deklaratif, (3) hipotesis sebaiknya menyatakan hubungan antara dua atau lebih variable yang dapat diukur, (4) hipotesis harus dapat diuji, (5) hipotesis sebaiknya mempunyai kerangka teori.



Materi dan Metode Penelitian

Materi dan metode penelitian merupakan bagian yang utama dalam proposal penelitian. Untuk itu anda harus menguraikan metode penelitian secara bertahap sesuai dengan tuntutan permasalahan yang akan dipecahkan. Metodologi harus menjawab permasalahan, tujuan dan hipotesis penelitian anda. Seringkali kita gagal dalam menunjukkan keselasaran antara hal tersebut di atas dengan metode penelitian yang kita tulis.

Subjek dan Objek Penelitian

Subjek mengacu kepada sesuatu atau seseorang tempat kita memperoleh data, fenomena atau keterangan. Jika kita ingin meneliti perubahan pertumbuhan broiler, maka yang menjadi subjek penelitian adalah broiler, dan yang menjadi objek penelitian adalah perubahan pertumbuhan broiler. Jika kita akan meneliti keadaan penyelenggaraan perpustakaan perguruan tinggi di Propinsi Bengkulu, maka yang menjadi subjek penelitian adalah perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi tersebut. Yang menjadi sumber informasi bisa perpustakaannya itu sendiri (dokumen, koleksi, tata-ruang, katalogisasi, system klasifikasi, system pelayanan dll.) dan orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perpustakaan tersebut.

Isi Materi dan Metode Penelitian

Materi dan metode penelitian biasanya terdiri atas lokasi penelitian, waktu penelitian, rancangan penelitian, nama materi, metode penelitian, analisis statistik.

1. Lokasi penelitian

Sebutkan lokasi penelitian anda secara jelas. Lokasi penelitian bagi beberapa penelitian sangat penting, karena lokasi yang berbeda akan berpengaruh terhadap hasil penelitian anda. Sebagai contoh anda penelitian tentang pertumbuhan leguminosa. Pertumbuhan leguminosa akan berbeda pada ketinggian yang berbeda. Jika diperlukan data tentang iklim, letak geografi dll. dapat dicantumkan.

2. Waktu penelitian

Waktu penelitian berkaitan erat dengan kapan penelitian akan dilaksanakan. Untuk beberapa kajian bidang ilmu pencantuman waktu akan penting atau merupakan keharusan. Misalnya pada penelitian sosial pemilihan waktu yang berbeda dapat menghasilkan data yang berbeda pula. Kita juga mengetahui bahwa musim sangat berpengaruh terhadap hasil penelitian kita.

3. Alat dan bahan penelitian

Alat dan bahan yang perlu dijelaskan bagian ini adalah alat dan bahan utama penelitian anda. Pencantuman alat dan bahan harus dilengkapi dengan spesifikasi seperti nama dan diproduksi oleh perusahaan mana. Jika hewan perlu dicantumkan strain, umur, berat badan awal dsb., demikian pula jika anda menggunakan tumbuhan. Untuk senyawa kimia perlu dicantumkan nama senyawa kimia dan nama produsennya. Penulisan senyawa kimia atau yang lainnya tidak boleh dimaksudkan untuk promosi. Oleh sebab itu, pencantuman merek dagang tidak dibenarkan.

4. Rancangan penelitian

Pilihan jenis rancangan penelitian mana yang akan dilakukan harus selaras dengan perumusan masalah, hipotesis dan tujuan penelitian. Jika kita akan mengevaluasi ada tidaknya hubungan antara satu variable dengan variable lainnya, maka kita memilih rancangan penelitian korelasi. Jika kita akan mengevaluasi sebab akibat terjadinya sesuatu, atau mengevaluasi apakah suatu variable akan mengakibatkan sesuatu pada variable yang lain, maka kita memilih penelitian eksperimen. Jika kita memilih penelitian eksperimen, maka tentunya akan lebih lanjut rancangan statistik penelitian yang mana yang akan kita pilih, apakah rancangan acak lengkap, rancangan acak kelompok ataukah rancangan lainnya. Rancangan ini sekalilagi harus mampu menjawab hipotesis. Jika kita ingin mengetahui sejarah sesuatu hal, tentu dipilih penelitian historis. Untuk keperluan penentuan rancangan penelitian, maka anda perlu mempelajari secara mendalam tentang jenis/corak penelitian. Dalam rancangan penelitian ini juga dijelaskan perlakuan-perlakuan yang akan dilakukan (pada metode eksperimen). Penentuan perlakuan dilakukan berdasarkan hasil telaah pustaka dan untuk menjawab hipotesis dan atau perumusan masalah (bagi penelitian yang tidak ada hipotesisnya).

5. Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu, (1) tes, (2) angket, (3) wawancara, (4) observasi, dan (5) telaah dokumen. Penentuan teknik pengambilan data bergantung kepada tujuan penelitian dan jenis data yang akan diambil dan juga keadaan subjek atau sumber informasi penelitian. Jelaskan juga variable-variabel yang akan diukur. Untuk variable yang sifatnya telah diketahui dan disepakati oleh ilmuwan yang relevan tidak perlu dijelaskan, tetapi variable yang bersifat khusus dan belum disepakati perlu dijelaskan definisi operasionalnya.

6. Metode analitik laboratorium

Untuk penelitian jenis eksperimen, perlu dicantumkan metode analitiknya. Jika metode tersebut telah banyak diketahui secara luas, maka kita tidak perlu lagi menjelaskan tahapan analisisnya. Akan tetapi, jika kita melakukan modifikasi atau merupakan metode baru maka kita harus menjelaskannya secara rinci.

8. Teknik Analisis Data

Jelaskan teknik analisis data yang anda gunakan. Teknik ini tentunya digunakan untuk dapat menjawab hipotesis.

Agar bagian ini mudah dipahami oleh pembaca, maka anda sebaiknya menulis bagian ini setahap demi setahap. Memang, urutan judul dalam bagian (sub-bagian) materi dan metode tidak ada aturan penulisan urutan. Yang penting diperhatikan disini adalah urut-urutan yang logis dan jika perlu sesuai dengan tahapan penelitian, sehingga pembaca segera memahami bagian materi dan metode ini. Judul-judul pada sub-bagian akan membantu menjelaskan tatanan tulisan materi dan metode ini. Sub-judul yang baik akan membantu mempermudah pembaca menangkap rangkaian penelitian yang telah dilakukan.



Daftar Pustaka

Amirin, T. M. 1995. Menyusun Rencana Penelitian. PT Raja Grafindo Pustaka, Jakarta.

Lindsay, D. 1988. A Guide to Scientific Writing. (Penerjemah S. S. Achmadi). UI-Press, Jakarta.

Malo, M. 1997. Metode Penelitian Sosial. Universitas Terbuka, Jakarta.

Mullins, C. J. 1980. The Complete Writing Guide to Preparing Reports, Proposals, Memos, Etc. Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs, NJ.

Nazir, M. 1988. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Jakarta.

Santoso, U. 2006. Merancang Penelitian Berskala Nasional. Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, UNIB. Tidak Dipublikasikan.

Posted in perguruan tinggi | Tags: hipotesis, menggali masalah, perumusan masalah, PKM

PENELITIAN DESKRIPTIF APAKAH ITU ? 1 komentar

. Pengertian Penelitian Deskripsi

Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2006:72). Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnyakondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.

Furchan (2004:447) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status suatu gejala saat penelitian dilakukan. Lebih lanjut dijelaskan, dalam penelitian deskriptif tidak ada perlakuan yang diberikan atau dikendalikan serta tidak ada uji hipotesis sebagaimana yang terdapat pada penelitian eksperiman.

1.

Karakteristik Penelitian Deskriptif

Penelitian deskriptif mempunyai karakteristik-karakteristik seperti yang dikemukakan Furchan (2004) bahwa

(1) penelitian deskriptif cendrung menggambarkan suatu fenomena apa adanya dengan cara menelaah secara teratur-ketat, mengutamakan obyektivitas, dan dilakukan secara cermat.

(2) tidak adanya perlakuan yang diberikan atau dikendalikan, dan (3) tidak adanya uji hipotesis.

III. Jenis-jenis Penelitian Deskriptif

Furchan (2004:448-465) menjelaskan, beberapa jenis penelitian deskriptif,
yaitu;
(1) Studi kasus, yaitu, suatu penyelidikan intensif tentang individu, dan atau unit sosial yang dilakukan secara mendalam dengan menemukan semua variabel penting tentang perkembangan individu atau unit sosial yang diteliti. Dalam penelitian ini dimungkinkan ditemukannya hal-hal tak terduga kemudian dapat digunakan untuk membuat hipotesis.

(2) Survei. Studi jenis ini merupakan studi pengumpulan data yang relatif terbatas dari kasus-kasus yang relatif besar jumlahnya. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan informasi tentang variabel dan bukan tentang individu. Berdasarkan ruang lingkupnya (sensus atau survai sampel) dan subyeknya (hal nyata atau tidak nyata), sensus dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori, yaitu: sensus tentang hal-hal yang nyata, sensus tentang hal-hal yang tidak nyata, survei sampel tentang hal-hal yang nyata, dan survei sampel tentang hal-hal yang tidak nyata.

(3) Studi perkembangan. Studi ini merupakan penelitian yang dilakukan untuk memperoleh informasi yang dapat dipercaya bagaimana sifat-sifat anak pada berbagai usia, bagaimana perbedaan mereka dalam tingkatan-tingkatan usia itu, serta bagaimana mereka tumbuh dan berkembang. Hal ini biasanya dilakukan dengan metode longitudinal dan metode cross-sectional.

(4) Studi tindak lanjut, yakni, studi yang menyelidiki perkembangan subyek setelah diberi perlakukan atau kondisi tertentu atau mengalami kondisi tertentu.

(5) Analisis dokumenter. Studi ini sering juga disebut analisi isi yang juga dapat digunakan untuk menyelidiki variabel sosiologis dan psikologis.

(6) Analisis kecenderungan. Yakni, analisis yang dugunakan untuk meramalkan keadaan di masa yang akan datang dengan memperhatikan kecenderungan-kecenderungan yang terjadi.

(7) Studi korelasi. Yaitu, jenis penelitian deskriptif yang bertujuan menetapkan besarnya hubungan antar variabel yang diteliti.

5 kekuatan yang pengembangan potensi diri 0 komentar

Judul artikel ini mengatakan bahwa ada lima kekuatan yang bisa digunakan untuk mengembangkan potensi diri. Apakah lima kekuatan itu? Ini yang akan saya jelaskan secara urut di artikel ini.

Pertama, yaitu Kekuatan Keyakinan atau The Power of Belief. Mengapa harus dimulai dengan Kekuatan Keyakinan? Keyakinan adalah fondasi untuk melakukan apa saja. Kita baru akan bertindak bila kita merasa yakin mampu melakukan sesuatu. Jika tidak yakin maka upaya yang kita lakukan akan dikerjakan dengan setengah hati. Dan kita tahu, apapun yang dilakukan dengan setengah hati, tanpa kesungguhan, maka hasilnya pasti tidak akan pernah maksimal. Seringkali upaya kita, jika diawali dengan perasaan tidak yakin, akan berakhir dengan kegagalan.

Yakin pun ada syaratnya, tidak asal yakin. Yakin yang saya maksudkan di sini adalah yakin yang berlandaskan kebijaksanaan dan akal sehat. Tidak asal “yakin” dan “ngotot”.

Mengapa harus dilandasi kebijaksanaan?

Ya, karena yakin ini sebenarnya ada tiga macam. Pertama, yakin yang hanya bermain di level kognisi atau pikiran sadar. Kedua, yakin yang bermain pada level afeksi atau pikiran bawah sadar. Ada lagi yakin yang tipe ketiga yaitu yakin yang “ngaco” alias “ngawur”. Yakin tipe ini adalah yakin yang berlebihan atau overconfident tapi tidak ekologis.

Yakin tipe ketiga ini sangat berbahaya. Ini ada satu cerita nyata. Kawan saya pernah bercerita bahwa ada seorang kawannya, sebut saja Bu Yuni, yang setelah mengikuti suatu pelatihan motivasi, menjadi begitu semangat dan menjadi sangat-sangat yakin bahwa ia akan bisa sukses dalam waktu yang sangat singkat dan mudah.

Sepulang dari pelatihan itu Bu Yuni dengan “haqul yaqin” (sangat yakin) memutuskan bahwa ia dalam waktu maksimal 3 (tiga) bulan akan menjadi orang kaya dan akan berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp. 3 Miliar. Benar, anda tidak salah baca, 3 bulan untuk Rp. 3 miliar. Ck.. ck… ck… sungguh dahsyat sekali.

Kekuatan kedua untuk mengembangkan potensi diri adalah dengan Kekuatan Semangat atau The Power of Enthusiasm. Yang menjadi komponen atau bagian dari Kekuatan Semangat adalah konsistensi, persistensi, kegigihan, atau whatever it takes.

Tindakan yang dilandasi dengan suatu keyakinan yang teguh, bahwa kita pasti bisa berhasil, pasti akan dilakukan dengan penuh semangat. Semangat ini sebenarnya adalah motivasi intrinsik atau dorongan bertindak yang berasal dari dalam diri kita. Kekuatan Semangat ini yang membuat seseorang akan terus mencoba walaupun telah gagal berkali-kali. Kekuatan Semangat ini yang mendasari peribahasa “Tidak ada yang namanya kegagalan. Yang ada hanyalah hasil yang tidak seperti yang kita inginkan”, “Winners never quit. Quitters never win”, “Tidak penting berapa kali anda jatuh, yang penting adalah berapa kali anda bangkit setelah anda jatuh.”

Kekuatan Semangat ini yang menjadi pendorong Thomas Edison untuk terus mencoba walaupun ia telah berkali-kali “belum berhasil” menemukan bahan yang sesuai untuk membuat bola lampu listrik. Kekuatan Semangat ini pula yang mendorong Harland Sanders untuk terus menawarkan resep ayam gorengnya yang istimewa Kentucky Fried Chicken, walaupun ia telah ditolak berkali-kali.

Nah, bagaimana dengan kisah Bu Yuni? Saya lanjutkan ya ceritanya.

Bu Yuni, dengan bekal keyakinan yang “pasti” dan “kuat” memutuskan untuk menjalankan suatu usaha yang akan menjadi kendaraannya untuk mengumpulkan Rp. 3 miliar dalam waktu 3 bulan. Bu Yuni bekerja dengan sungguh serius.

Kekuatan ketiga adalah Kekuatan Fokus atau The Power of Focus. Fokus berarti kita hanya melakukan hal-hal yang memang berhubungan dengan target yang ingin kita capai. Pikiran kita menjadi sangat tajam, terpusat, seperti sinar laser yang siap untuk menembus berbagai penghalang. Kita tidak akan membiarkan berbagai cobaan atau distraksi membuat pikiran atau kegiatan kita menyimpang dari tujuan semula.

Saat Kekuatan Fokus bekerja kita akan sangat memperhatikan hal-hal detil dalam upaya mencapai keberhasilan. Kekuatan Fokus ini yang mendorong kita untuk menghasilkan master piece.

Sekarang saya lanjut lagi cerita tentang Bu Yuni. Apakah Bu Yuni fokus? Oh, sangat fokus. Begitu fokusnya sehingga ia bisa melihat banyak sekali peluang di sekitar dirinya. Bu Yuni mengajak kawannya kerjasama. Ia bahkan bersedia menanamkan modal yang cukup besar untuk mengembangkan bisnis kawannya karena ia yakin bisnis ini bisa memberikan sangat banyak uang dalam waktu yang singkat. Bahkan saat kawannya, yang selama ini telah menggeluti bisnis itu, mengatakan bahwa tidak mungkin bisa secepat itu perkembangan bisnisnya, walaupun mendapat suntikan dana besar, Bu Yuni tetap yakin, semangat, dan fokus berkata, “Ah, yang penting yakin. Kalau yakin maka segala sesuatu mungkin terjadi.”

Kekuatan keempat adalah Kekuatan Kedamaian Pikiran atau The Power of Peace of Mind. Kekuatan keempat ini sangat penting diperhatikan karena ini merupakan barometer untuk menentukan apakah keyakinan kita terhadap sesuatu itu ekologis atau tidak.

Saat kita yakin, semangat, dan fokus melakukan sesuatu maka kita perlu memeriksa apakah kita merasakan ketenangan baik di pikiran maupun di hati. Jika jawabannya “Tidak” maka kita perlu memeriksa ulang keyakinan kita.

Kita perlu memeriksa apakah keyakinan kita itu sudah benar-benar yakin ataukah lebih karena dorong emosi tertentu, misalnya emosi takut atau keserakahan.

Pada kasus Bu Yuni, ternyata ia sama sekali tidak merasakan kedamaian. Hal ini tampak dalam kehidupannya. Bu Yuni, dalam upaya mencapai targetnya, ternyata tidak mendapat dukungan dari suaminya. Bu Yuni tetap memaksakan kehendaknya. Ia bersikeras bahwa dengan keyakinannya yang pasti ia akan dapat mencapai apapun yang ia inginkan.

Apa yang terjadi? Bu Yuni sering ribut dengan suaminya dan selalu tampak murung dan stress.

Bila keyakinan kita bersifat ekologis, didasari dengan pikiran yang benar dan kebijaksanaan, maka saat kita bekerja keras dan giat untuk mencapai impian-impian kita, pikiran dan hati kita akan tetap merasa tenang, damai, dan bahagia. Ini adalah satu aspek penting yang jarang sekali diperhatikan oleh kebanyakan orang.

Perasaan tenang, damai, dan bahagia merupakan indikasi bahwa apa yang kita lakukan benar-benar kita yakini akan berhasil. Kita hanya tinggal melakukan kerjanya saja dan sukses sudah pasti akan kita dapatkan. Sukses hanyalah efek samping yang pasti akan terjadi.

Kekuatan kelima adalah Kekuatan Kebijaksanaan atau The Power of Wisdom. Kekuatan ini sangat penting karena digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap apa yang telah kita lakukan pada empat langkah pertama.

Dengan menggunakan kebijaksanaan kita dapat melakukan evaluasi dengan baik, benar,akurat, dan tanpa melibatkan emosi. Jika hasil yang dicapai belum seperti yang kita inginkan maka dengan menggunakan kebijaksanaan kita dapat mengetahui permasalahannya dan dapat meningkatkan diri kita.

Jika hasilnya sudah seperti yang kita inginkan maka, dengan menggunakan kebijaksanaan, kita dapat mempertahankan dan meningkatkan pencapaian itu.

Kebijaksanaan juga digunakan untuk memeriksa keyakinan atau kepercayaan yang menjadi langkah awal tindakan untuk mencapai goal. Dengan bijaksana kita dapat memeriksa keabsahan keyakinan kita. Apakah kita sudah benar-benar yakin secara benar ataukah kita sebenarnya tidak yakin tapi memaksa diri yakin karena kita takut?

Bu Yuni ternyata tidak menggunakan Kekuatan Keyakinan dalam mengejar impiannya. Setelah mendengar penjelasan kawan saya secara cukup detil saya akhirnya menyimpulkan bahwa Bu Yuni ini sebenarnya tidak yakin namun ia memaksakan kehendak, tanpa mempertimbangkan kondisi riil yang sedang ia alami, untuk bisa sukses.

Ternyata emosi yang mendorong Bu Yuni untuk “Yakin” adalah ketakutannya akan masa depan. Ia, setelah menghadiri seminar motivasi, menjadi “sangat yakin” dengan apa yang diajarkan oleh si pembicara dan akhirnya menjadi “buta” oleh emosinya sendiri.

Hal ini diperkuat lagi saat Bu Yuni mendapat peneguhan dari mentornya, pembicara tadi, yang mengatakan, “Pokoknya, kalo kamu yakin, maka kamu bisa mencapai apapun yang anda inginkan.”

Pembaca, belief seperti ini, yang menggunakan kata-kata “pokoknya”, yang saya kategorikan sebagai “belief” yang perlu diwaspadai. Belief ini seringkali tidak membumi dan menyesatkan.

Bila kita menggunakan lima kekuatan yang telah saya jelaskan dalam artikel ini maka dengan bekal yakin, semangat, fokus, damai, dan bijaksana niscaya kita akan dapat mengembangkan potensi diri secara optimal.

MENTAL BLOCK 0 komentar

MENTAL BLOCK … OH… MENTAL BLOCK

Proses pemrograman pikiran sebenarnya telah terjadi sejak seorang anak masih di dalam kandungan ibunya, sejak ia berusia tiga bulan. Pada saat ini pikiran bawah sadar telah bekerja sempurna, merekam segala sesuatu yang dialami seorang anak dan ibunya. Semua peristiwa, pengalaman, suara, atau emosi masuk ke dan terekam dengan sangat kuat di pikiran bawah sadar dan menjadi program pikiran.

Saat kita lahir, kita lahir hanya dengan satu pikiran yaitu pikiran bawah sadar. Bekal lainnya adalah otak yang berfungsi sebagai hard disk yang merekam semua hal yang kita alami. Sejak lahir, dan sejalan dengan proses tumbuh kembang, kita mengalami pemrograman pikiran terus menerus, melalui interaksi kita dengan dunia di luar dan di dalam diri kita.

Pada anak kecil, yang memprogram pikirannya adalah terutama kedua orangtuanya, pengasuh, keluarga, lingkungan, guru, televisi, dan siapa saja yang dekat dengan dirinya. Saat masih kecil pemrograman terjadi dengan sangat mudah karena pikiran anak belum bisa menolak informasi yang ia terima. Ketidakmampuan memfilter informasi ini disebabkan karena pada saat itu critical factor, atau faktor kritis, dari pikiran sadar belum terbentuk. Kalaupun sudah terbentuk critical factor masih lemah.

Pemrograman pikiran saat anak masih kecil terjadi melalui dua jalur utama yaitu melalui imprint dan misunderstanding. Definisi imprint adalah “A thought that has been registered at the subconscious level of the mind at a time of great emotion or stress, causing a change in behavior” atau imprint adalah apa yang terekam di pikiran bawah sadar saat terjadinya luapan emosi atau stres, mengakibatkan perubahan pada perilaku.

Misunderstanding adalah salah pengertian yang dialami seseorang saat memberikan makna kepada atau menarik simpulan dari suatu peristiwa atau pengalaman.

Baik imprint maupun misunderstanding, setelah terekam di pikiran bawah sadar, akan menjadi program pikiran yang selanjutnya mengendalikan hidup seseorang.

Satu hal yang perlu kita mengerti yaitu bahwa semua, saya ulangi… semua, program pikiran adalah baik. Program pikiran selalu bertujuan membahagiakan kita. Program pikiran diciptakan atau tercipta demi kebaikan kita berdasarkan level kesadaran dan kebijaksanaan kita saat itu.

Program pikiran menjadi mental block apabila bersifat menghambat kita dalam mencapai impian atau tujuan kita. Sebaliknya, program pikiran akan menjadi stepping block, batu lompatan, bila bersifat mendukung kita.

Anda jelas sekarang? Atau masih bingung?

Ok, saya kasih contoh ya biar lebih jelas.

Ini dari kasus klinis yang pernah saya tangani. Ada seorang wanita, sebut saja Rosa, cantik, ramah, cerdas, pintar cari uang, dan mandiri tapi sampai saat bertemu saya, usianya saat itu 35 tahun, masih jomblo alias single, belum dapat jodoh.

Rosa juga bingung mengapa ia sulit dapat jodoh. Ada banyak pria yang suka padanya. Namun setiap kali pacaran dan jika sudah masuk ke rencana untuk menikah, selalu muncul masalah sehingga hubungan mereka akhirnya putus.

Setelah dicari akar masalahnya, saya menemukan program pikiran, di pikiran bawah sadarnya, yang sangat baik namun justru bersifat menghambat dirinya untuk bisa dapat jodoh.

Apa itu?

Ternyata ayah Rosa meninggal saat ia masih kecil, usia tujuh tahun. Sejak saat itu ibunya yang bekerja keras menghidupi keluarga mereka. Bahkan pernah sampai jatuh sakit dan hampir meninggal.

Nah, saat ibunya sakit keras, Rosa berdoa dan mohon kesembuhan untuk ibunya. Dan dalam doanya ia berjanji bahwa ia akan membalas semua pengorbanan ibunya, setelah ia dewasa kelak, dengan selalu menyayangi dan mendampingi ibunya.

Janji ini ternyata masuk ke pikiran bawah sadarnya dan menjadi program. Benar, sejak saat itu dan hingga ia dewasa Rosa adalah anak yang begitu sayang pada ibunya. Selama ini program pikirannya telah sangat membantu Rosa dalam menjalani hidupnya. Rosa bekerja keras, menjadi anak yang sangat mencintai ibunya. Dan ibunya juga begitu bersyukur dan bahagia karena mempunyai anak yang begitu menyayanginya. Nah, program yang sangat positif ini tiba-tiba berubah menjadi program yang menghambat (baca: mental block) saat Rosa ingin berkeluarga.

Program ini menyabotase setiap upaya Rosa untuk mendapat pasangan hidup. Saat saya berdialog dengan “bagian” (baca: program) yang tidak setuju bila Rosa menikah, saya mendapat jawaban yang jelas dan lugas. Ternyata “bagian” ini khawatir Rosa tidak bisa menepati janjinya, menyayangi dan mendampingi ibunya karena bila menikah, menurut pemikiran “bagian” ini, Rosa harus mengikuti suaminya dan meninggalkan ibunya sendiri. “Bagian” ini tidak setuju dengan hal ini.

Nah, Anda jelas sekarang?

Saya beri satu contoh lagi biar lebih jelas.

Saya mendapat email dari seorang pembaca buku, sebut saja Bu Asri, yang mengeluh bahwa ia telah berusaha keras untuk menaikkan penghasilannya namun selalu gagal. Setelah membaca buku The Secret of Mindset dan mendengarkan CD Ego State Therapy ia menemukan program pikiran yang menghambat dirinya, khususnya di aspek finansial.

Ternyata dulu, saat akan menikah, ia mendapat wejangan dari ibunya, “Nak, ingat ya… nanti waktu menjadi seorang istri, cintai suamimu dengan tulus, baik di kala suka mapun duka, layani dengan sepenuh hati, tempatkan suami sebagai kepala rumah tangga, jaga perasaan dan harga diri suami, jangan melebihi suamimu….”

Pembaca, wejangan (baca: program) ini tentu sangat baik. Namun menjadi masalah karena program ini justru menghambat upaya Bu Asri meningkatkan penghasilannya. Selidik punya selidik ternyata penghasilan Bu Asri saat ini sama dengan penghasilan suaminya. Makanya, saat ia berusaha menaikkan income-nya selalu saja ada hambatan. Program ini yang menghambat dan tujuannya juga sangat “positif” yaitu agar Bu Asri bisa menjadi istri yang baik sesuai wejangan ibunya.

Bagaimana, jelas sekarang?

Suatu program, selama tidak bersifat menghambat diri kita maka jangan diotak-atik. Biarkan saja. Nggak usah bingung. Ada rekan yang, setelah membaca buku dan mengerti soal mental block, begitu giat mencari berbagai mental block-nya. Bahkan sampai mengeluh,”Pak, saya kok nggak menemukan mental block saya, ya?”

Lha, kalo memang nggak ada terus apa harus dipaksakan ada? Bukankah lebih baik bila waktu yang ada digunakan untuk belajar dan mengembangkan diri? Kekhawatiran karena tidak menemukan mental block justru bisa menjadi mental block baru.

Lalu, bagaimana sikap yang benar?

Ya, santai sajalah. Nggak usah aneh-aneh. Kita harus netral saja. Selama hidup kita happy, usaha lancar, semua berjalan seperti yang kita rencanakan dan harapkan maka nggak usah pusing soal mental block.

Mental block akan kita rasakan saat ada penolakan atau hambatan untuk mencapai suatu target yang lebih tinggi. Penolakan ini juga timbul saat kita ingin berubah.

Ini saya kutip email yang baru saya terima dari seorang pembaca buku saya:

“Saya ingin lebih memahami dan membaca buku-buku Anda. Saya beli The Secret of Mindset. Saat baca ada aja perasaan yang membuat saya malas, ngantuk dsb. Padahal saya sungguh ingin membaca buku TSOM. Bagaimana solusinya?”

Perasaan malas, mengantuk, dan berbagai perasaan lain yang menghambat upaya untuk berubah ini adalah ulah nakal dari mental block kita. Nah, ini saatnya kita perlu menemukan dan mengenali mental block ini. Setelah ditemukan… ya dibereskan. Gitu aja kok repot.

Intinya, jika Anda telah menetapkan target yang lebih tinggi, dari apa yang telah Anda capai saat ini, dan Anda merasa ada yang tidak enak di hati Anda maka ini indikasi adanya mental block.

Atau jika Anda mengalami kegagalan yang beruntun atau yang mempunyai pola kegagalan yang sama, maka ini indikasi sabotase diri alias mental block.

Mental block ini ada juga yang baik. Misalnya Anda telah berkeluarga. Dan ada kesempatan untuk selingkuh namun Anda tidak mau. Alasannya bisa macam-macam. Bisa takut dosa, takut masuk neraka, takut malu, takut ketahuan, bisa karena Anda tidak ingin melukai hati pasangan Anda, atau Anda setia pada janji pernikahan Anda, atau alasan apa pun. Yang pasti, ada satu program pikiran yang menghambat Anda melakukan sesuatu. Mental block ini tentunya perlu dipertahankan.

So… bersikaplah netral… jadilah orang yang Non-Block. Artinya Anda tidak neko-neko atau aneh-aneh. Cari mental block sesuai kebutuhan. Kalau sedikit-sedikit cari mental block … sedikit-sedikit cari mental block… maka saya khawatir Anda akan menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan resource yang Anda miliki untuk sesuatu yang tidak produktif. Kalau seperti ini…Anda masuk kategori Go-Block.[awg]

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology,pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis dua belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “5 Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, dan The Secret of Mindset . Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com dan www.adi

PANDUAN PENULISAN FORMAT SKRIPSI 0 komentar

PANDUAN PENULISAN SKRIPSI

I. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang Permasalahan
b. Rumusan Permasalahan
c. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

PENJELASAN
a. Latar Belakang Permasalahan

1) Latar Belakang Permasalahan merupakan penjelasan fenomena yang diamati dan menarik perhatian peneliti dan bukan merupakan alasan pemilihan judul.

2) Latar Belakang Penelitian apabila memungkinkan dapat didukung oleh data penunjang, yang dapat digali dari sumber utama dan/atau sumber kedua seperti Biro Pusat Statistik, hasil penelitian terdahulu, jurnal dan internet

3) Latar Belakang Penelitian memuat hasil penelitian terdahulu (dari jurnal) dengan menyebutkan sumber jurnal yang dipakai sebagai referensi.

4) Apabila perusahaan (sebagai sumber utama) belum menyajikan laporan keuangan, misalnya rasio keuangan (financial ratio), maka dalam Latar Belakang Penelitian disajikan minimal 3 periode atau tahun.

b. Rumusan Permasalahan

1) Rumusan permasalahan disajikan secara singkat dalam bentuk kalimat tanya, yang isinya mencerminkan adanya permasalahan yang perlu dipecahkan atau adanya permasalahan yang perlu untuk dijawab.

2) Rumusan permasalahan merupakan inti penelitian, sehingga bisa dipakai pertimbangan menyusun judul dan hipotesa

c. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1) Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh peneliti sebelum melakukan penelitian dan mengacu pada permasalahan. Berikut ini beberapa contoh cara pengungkapan tujuan penelitian yang umumnya diawali dengan kalimat tujuan penelitian adalah untuk …………. atau penelitian ini bertujuan untuk …………………dan sebagainya.

2) Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian, menguraikan kontribusi yang diharapkan dari hasil penelitian itu sendiri.

2. TINJAUAN PUSTAKA
a. Kerangka Teori
b. Hipotesis Penelitian

PENJELASAN
a. Kerangka Teori

1) Kerangka teori sebaiknya menggunakan acuan yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti dan acuan-acuan yang berupa hasil penelitian terdahulu (bisa disajikan di Bab II atau dibuat sub-bab tersendiri)

2) Cara penulisan dari subbab ke subbab yang lain harus tetap mempunyai keterkaitan yang jelas dengan memperhatikan aturan penulisan pustaka.

3) Penulisan nama pengarang dalam Endnotes atau Footnotes yang bersumber dari kepustakaan tidak perlu mencantumkan gelar akademik.

4) Untuk memperoleh hasil penelitian yang baik, studi pustaka harus memenuhi prinsip kemutakhiran dan keterkaitannya dengan permasalahan yang ada. Apabila menggunakan literatur dengan beberapa edisi, maka yang digunakan adalah buku dengan edisi terbaru, jika referensi tidak terbit lagi, referensi tersebut adalah terbitan terakhir. Dan bagi yang menggunakan Jurnal sebagai referensi pembatasan tahun terbitan tidak berlaku.

5) Semakin banyak sumber bacaan, semakin baik, dengan jumlah minimal 10 (sepuluh) sumber, baik dari teks book atau sumber lain misalnya jurnal, artikel dari majalah, Koran, internet dan lain-lain.

6) Pedoman kerangka teori di atas berlaku untuk semua jenis penelitian.

7) Dalam kerangka teori, peubah dicantumkan sebatas yang diteliti dan dapat dikutip dari dua atau lebih karya tulis/bacaan.

8) Teori bukan merupakan pendapat pribadi (kecuali pendapat tersebut sudah ditulis di BUKU)

9) Pada akhir kerangka teori bagi penelitian korelasional disajikan model teori, model konsep (apabila diperlukan) dan model hipotesis pada subbab tersendiri, sedangkan penelitian studi kasus cukup menyusun Model teori dan beri keterangan. Model teori dimaksud merupakan kerangka pemikiran penulis dalam penelitian yang sedang dilakukan. Kerangka itu dapat berupa kerangka dari ahli yang sudah ada, maupun kerangka yang berdasarkan teori-teori pendukung yang ada. Dari kerangka teori yang sudah disajikan dalam sebuah skema, harus dijabarkan jika dianggap perlu memberikan batasan-batasan, maka asumsi-asumsi harus dicantumkan.

b. Hipotesis Penelitian

Jika penelitian bersifat korelasional maka:
1) Hipotesis penelitian beraspek empiris disajikan pada akhir bab II dalam sub-sub tersendiri dengan memperhatikan teori pendukungnya, sedangkan hipotesis penelitian beraspek statistik disajikan dalam bab III.

2) Apabila analisis data (akhir bab IV) direncanakan tidak untuk menganalisis data secara luas baik masalah utama (mayor) maupun bagian-bagiannya (minor) maka dalam hipotesis tidak perlu dicantumkan hipotesis mayor dan minor.

3) Hipotesis harus berlandaskan teori, jika ingin mengubah harus mencantumkan alasan mengapa merubah teori tersebut.

3. METODE PENELITIAN

a. Jenis Penelitian
b. Peubah dan Pengukuran
c. Populasi dan Sampel
d. Metode Pengumpulan Data
e. Metode Analisis

PENJELASAN
a. Jenis Penelitian

Penelitian bisa bersifat kuantitaif maupun kualitatif, misalnya:

a) Historis;
b) Deskriptif;
c) Perkembangan;
d) Kasus dan penelitian lapangan;
e) Korelasional;
f) Kausal komparatif;
g) Eksperimen murni;
h) Eksperimen semu;
i) Kaji tindak.
1) Pemilihan jenis penelitian dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut :

a) Daya tarik permasalahan;
b) Kesesuaian dengan kemampuan dan latar belakang pendidikan;
c) Tersedianya alat dan kondisi kerja;
d) Kesesuaian dengan kemampuan untuk mengumpulkan data yang diperlukan;
e) Kesesuaian dengan waktu, tenaga dan biaya;
f) Resiko kegagalan.

2) Jenis penelitian dimaksud dapat dilacak dari judul, latar belakang permasalahan dan tujuan penelitian, sehingga dapat dijelaskan alasan penentuan jenis penelitian tertentu tanpa menyajikan definisi jenis penelitian itu sendiri.

b. Peubah dan Pengukuran

1) “Peubah (Variable) merupakan suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya.” ( Sugiyono, 2003, 32)
2) Peubah harus terukur

c. Populasi dan Sampel

1) “Populasi merupakan sekumpulan orang atau objek yang memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal dan yang membentuk masalah pokok dalam suatu riset khusus. Populasi yang akan diteliti harus didefinisikan dengan jelas sebelum penelitian dilakukan.” (Santoso & Tjiptono, 2002, 79)

2) “ Sampel adalah semacam miniatur (mikrokosmos) dari populasinya” (Santoso & Tjiptono, 2002, 80)

d. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data misalnya:

1) “Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telpon.
2) Kuesioner (angket) dapat dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
3) Observasi merupakan suatu proses yang komplek , suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.” (Sugiyono, 2003, 130-141)

e. Metode Analisis
Metode analisis disesuaikan dengan Rumusan Permasalahan pada Bab I
Jika metode analisis menggunakan regresi dengan Ordinary Least Square (OLS) Estimators, maka uji asumsi klasik harus dilakukan. Lihat buku "Ekonometrika Dasar" oleh Damodar Gujarati alih bahasa Sumarno Zain, 2000.


4. HASIL PENELITIAN DAN BAHASAN
a. Penyajian Data
Pada subbab ini dipaparkan data yang ada relevansinya dengan topik skripsi.
b. Analisis Data dan Interpretasi

5. SIMPULAN DAN SARAN a. Simpulan
b. Saran

PENJELASAN
a. Simpulan menjelaskan butir-butir temuan (hasil penelitian dan bahasan) yang disajikan secara singkat dan jelas.
b. Saran-saran merupakan himbauan kepada instansi terkait maupun peneliti berikutnya yang berdasarkan pada hasil temuan. Saran sebaiknya selaras dengan topik penelitian
Lampiran: memuat hal-hal atau informasi yang mendukung bab-bab sebelumnya, misalnya: data (hasil Questionaire, data time series), Laporan Keuangan perusahaan (Neraca, R/L dsb), informasi yang terkait dengan hasil (misal: olahan komputer, diskripsi , hasil uji validitas dan reliabilitas) dsb.

Salam IDTESIS
SANJAYA
Mobile: 0817-9448-173
email : idtesis@gmail.com
YM : Sanjaya_jk
situs : http://www.idtesis.com
blog : http://www.idtesis.blogspot.com

KLASIFIKASI PENGGOLONGAN TES-TES PSIKOLOGI 1 komentar

Berdasarkan aspek mental dan psikologis yang diungkap, maka secara garis besar tes psikologis dibagi menjadi dua macam, yaitu:

1. Mengungkap aspek kognitif (intelegensi)

Tes Binet
Tes Wechsler (Wechsler Adult Intelligence Scale, Wechsler Intelligence Scale for Children, Wechsler Preschool and Primary Scale for Intelligence)
Tes Raven (Standard Progressive Matrices, Coloured Progressive Matrices, Advanced Progressive Matrices)
TIKI (Tes Intelegensi Kolektif Indonesia)

2. Mengungkap aspek kepribadian
a. Teknik non proyektif (obyektif)

EPPS (Edwards Personal Preference Schedule)
MMPI (Minessota Multiphasic Personality Inventory)
16 PF
CAQ (Clinical Analysis Questionnaire)

b. Teknik proyektif

TAT (Thematic Apperception Test)
Tes Grafis
Tes Wartegg
SSCT (Sack Sentence Completion Test)
Tes Szhondi (sarana proyeksinya foto)
Tes Rorschach (salah satu tes bercak tinta)

MENGENAL TES PROYEKTIF 1 komentar

PROJECTIVE APPROACHES

Dalam tes-tes kepribadian dengan pendekatan proyektif, klien berespon terhadap stimulus yang tidak terstruktur dan ambigu sehingga tanpa sadar klien mengungkap struktur dasar dan dinamika kepribadiannya. Beberapa teknik proyektif yang terkenal dan digunakan secara luas antara lain tes Rorschach, Thematic Apperception Test (TAT), Children’s Apperception Test (CAT), tes Draw-A-Person (DAP), tes Make-A-Picture Story (MAPS), Michigan Picture Story Test, dan Sentence Completion Test.

THEMATIC APPERCEPTION TEST (TAT)
Dalam tes ini, klien diminta membuat cerita dari beberapa kartu bergambar yang disajikan satu persatu. Klien dapat menulis sendiri ceritanya atau examiner yang menulis cerita klien. Tugas klien adalah menceritakan apa yang sedang terjadi saat ini, sebelumnya (situasi apa yang menimbulkan peristiwa saat ini), bagaimana pikiran dan perasaan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita, dan bagaimana akhir dari cerita yang dibuat klien.

Cerita yang dibuat klien dianggap memiliki implikasi terhadap konflik atau pun masalah yang dialami klien. Interpretasi klinis yang dilakukan terfokus pada dimensi-dimensi seperti bagaimana tokoh-tokoh berinteraksi, tingkat kehangatan atau konflik dari interaksi tokoh-tokoh, impian atau cita-cita tokoh, harapan tokoh terhadap diri dan lingkungannya, dan level kematangan secara umum yang diindikasikan dari bentuk cerita. Tema-tema dari TAT dapat menggambarkan fungsi kepribadian secara luas dan bermanfaat dalam mengidentifikasi sumber utama konflik sehingga dapat ditentukan intervensi terapeutik yang sesuai. Cerita TAT pada dasarnya menggambarkan lingkungan seperti apa yang klien lihat di sekitar dirinya dan orang-orang seperti apa yang ia rasakan tinggal bersamanya di dunia ini.

Bentuk modifikasi dari TAT adalah CAT (Children’s Apperception Test), yang menyediakan gambar yang terfokus pada konflik, hubungan orang tua, permusuhan dengan saudara kandung, toilet training, dan situasi lain yang sering ditemui pada anak-anak.

Tes lain yang mirip dengan TAT dan CAT adalah Michigan Picture Story Test (MPST), terdiri dari material yang menggambarkan anak-anak dalam hubungannya dengan orang tua, polisi, dan figur otoriter lainnya, juga teman-teman. Tes ini sangat bermanfaat dalam melihat struktur dari sikap anak-anak terhadap orang dewasa dan teman-teman sekaligus mengevaluasi masalah yang mungkin timbul.

Selain itu ada juga tes Make-A-Picture Story (MAPS), yang memiliki kesamaan dengan MPST dalam hal tujuan dan potensi interpretasi yang dimiliki. Perbedaan MAPS dengan tes lain yaitu, pada MAPS klien diperbolehkan memilih karakter yang akan diletakkan pada latar belakang panggung yang kecil, untuk kemudian klien membuat cerita berdasarkan situasi tersebut.

FIGURE DRAWING

Beberapa pendekatan dalam mengevaluasi kepribadian dengan menggunakan gambar yang dibuat klien telah berkembang. Dalam hal ini, kemampuan menggambar bukanlah faktor utama. Salah satu bentuk tesnya adalah Draw-A-Person (DAP), dimana klien diminta untuk menggambar seorang lelaki dan perempuan menggunakan pensil dan kertas. Gambar orang dapat memberikan kesan pertama dengan segera, seperti sikap bermusuhan atau agresif, atau orang yang pasif dan submisif. Interpretasi juga didasarkan pada ukuran gambar, posisi, postur, apakah gambar orang terlihat percaya diri, ramah, dan sebagainya. Sebaiknya, dalam menginterpretasi DAP juga dikaitkan dengan temuan-temuan dari tes-tes lain.

INCOMPLETE SENTENCE TEST

Dalam metode proyektif ini, klien diberikan sejumlah kalimat yang belum selesai dan diminta untuk melengkapi kalimat sehingga menjadi kalimat yang memiliki arti. Kalimat-kalimat ini memiliki kecenderungan dalam aspek-aspek seperti preokupasi terhadap seksual, perasaan religius, hubungan dengan orang tua, teman, rasa takut, cemas, perasaan bersalah, sikap bermusuhan dan impuls agresi. Bentuk respon klien dapat memberikan insight ke dalam area konflik, termasuk juga kelebihan dan kekurangan dari kepribadian klien.

COMPETENCY SCREENING TEST

Psikolog terkadang dipanggil ke pengadilan untuk mengevaluasi status mental atau inteligensi seseorang untuk membantu pengadilan terkait dengan kasus orang tersebut. Untuk keperluan inilah Competency Screening Test dikembangkan. Tes ini dilakukan dengan cara melengkapi 22 kalimat, dimana setiap kalimat terkait dengan aspek peran terdakwa dalam pengadilan kriminal. Setiap item diskor 0, 1 atau 2 secara manual. Terdakwa yang mendapatkan skor 21 ke atas telah terbukti kompeten dalam pengadilan dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Tes ini membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit.

RORSCHACH TEST

Metode proyektif yang paling dikenal dan digunakan secara luas dalam melihat kepribadian seseorang adalah tes Rorschach. Dalam tes ini, klien diperlihatkan sepuluh kartu dengan bentuk ambigu hasil dari cipratan tinta yang hampir simetris. Lima kartu berwarna hitam, putih dan abu-abu yang berbayang, sedangkan lima kartu lainnya memiliki warna. Kebanyakan ahli setuju bahwa tes Rorschach ini merupakan teknik psikodiagnostik yang signifikan dan sensitif. Tes ini mengevaluasi emosi-emosi yang dialami klien dalam hidupnya, tingkat intelektual dan membantu menjelaskan komponen-komponen kepribadian seseorang.

Ada tiga kategori penting dalam memberikan skor pada tes ini, yaitu lokasi yang menunjukkan pada bagian mana respon dilihat oleh klien dalam kartu, determinan yang menunjukkan bagaimana respon tersebut dilihat, dan konten yang menunjukkan apa yang dilihat klien dalam kartu.

Para psikolog ahli yang sudah berpengalaman dalam tes ini, menemukan bahwa respon yang diberikan klien, baik anak-anak maupun dewasa, mengindikasikan beberapa tipe dari gangguan kepribadian dengan karakteristik respon tertentu. Misalnya pada gangguan psikotik dan skizofrenia lainnya, ditemukan bahwa respon yang diberikan seringkali ganjil dan aneh, kualitas bentuk biasanya lemah, dan ada ketidaksesuaian antara yang dilihat klien dengan stimulus sebenarnya dalam kartu. Klien-klien ini biasanya memfokuskan seluruh perhatian mereka pada detail-detail sementara komponen-komponen utama diabaikan. Terkadang mereka juga terlalu melibatkan emosi mereka pada kartu-kartu dan mempersonalisasikan persepsi mereka dalam cara tertentu sehingga mereka tidak mampu membedakan antara diri mereka dan kartu Rorschach.

Dalam beberapa kasus diagnostik dimana terdapat gangguan psikologis seperti gangguan pikiran yang signifikan, penggunaan tes Rorschach sangat disarankan. Tidaklah sulit dalam mengadministrasi maupun menskor tes ini, namun dalam menginterpretasi dibutuhkan psikolog yang handal dan berpengalaman.
© 2006 All Rights Reserved.
Want your own free website like this? Try Freewebs.