psikologi perkembangan

Jebakan Dalam Mengasuh Anak
Kategori Anak Oleh : Ubaydillah, AN Jakarta, 8/1/2008

Jebakan 1 : Melarang Anak
Apa yang mudah kita lakukan saat mendapati anak yang maunya sendiri atau melakukan sesuatu yang kurang sopan? Yang paling mudah adalah melarangnya dengan nada marah. Sebagai orangtua, kita "berkuasa" melarang anak, dengan berbagai macam bentuk dan cara. Atau juga melakukan kebalikannya, misalnya, dengan membiarkan. Sebagai orang dewasa, kita punya pembenaran untuk membiarkan maupun melarang.

Yang sulit adalah bagaimana melihat dan menjadikan anak yang banyak maunya sendiri itu sebagai potensi kreativitas dan kemandirian yang perlu diarahkan dan dipupuk. Tapi dia tetap ingin "maunya sendiri dan sulit?" Itu pasti. Untuk menumbuhkan kreativitas dan kemandirian itu pasti tidak sesimpel memotongnya di tengah jalan.

Para pakar psikologi (Human Development: 1989) menyimpulkan bahwa untuk menumbuhkan kreativitas dan orisinilitas anak-anak itu dibutuhkan beberapa penyikapan penting, antara lain:
Menghormati hak anak untuk menginisiatifkan cara belajar yang pas untuk dirinya
Menghormati hak anak untuk ingin tahu dan mengalami
Menghormati hak anak untuk menolak / menerima berbagai masukan setelah mempertimbangkannya
Mendorong anak untuk lebih merasa tertantang dalam menghadapi masalah
Memberikan kesempatan untuk berkreasiJebakan

2 : Membandingkan anak
Apa yang mudah kita lakukan saat mendapati si anak punya prestasi sekolah yang tidak sama dengan adik atau kakaknya, lebih-lebih ditambah lagi dengan kebiasaannya yang suka melawan? Biasanya paling gampang adalah memberi judgment bahwa dia memang lain, terbelakang atau nakal, tidak seperti adik atau kakaknya yang pintar; Atau dengan memberikan permakluman bahwa memang dia sudah seperti itu dari sono-nya.

Yang sulit adalah bagaimana menemukan kelebihan yang tersembunyi sehingga kita tetap punya opini dan alasan positif untuk memperlakukannya secara positif. Tidak semua anak langsung ketahuan kelebihannya dengan jelas. Kita bisa membayangan bagaimana seandainya ibunya Edison itu termakan oleh omongan guru sang anak yang menyimpulkan si anak terbelakang? Untunglah si ibu tidak percaya dan melakukan hal-hal penting untuk membuktikan keyakinannya.

Jebakan 3 : Memanjakan anak Apa yang mudah kita lakukan ketika punya materi berlebih dan kita pun punya idealisme untuk memiliki anak agar dapat mewarisi kekayaan dan kebesaran kita? Yang paling mudah adalah memberikan daftar kepada anak tentang sejumlah kursus yang harus dimasuki dan seperangkat disiplin yang berisi perintah dan larangan. Atau juga melakukan sebaliknya, memanjakannya dengan berbagai fasilitas sampai membuat si anak tidak tahu lagi bagaimana mencuci piring dan tidak pernah menginjak dapur.

Yang sulit adalah bagaimana memfasilitasi proses perkembangan atas berbagai kapasitas yang seharusnya dibutuhkan anak di tengah-tengah kemakmuran dan kemanjaan (aktualisasi diri) sehinggan anak tetap memiliki kepekaan, ketahanan, dan anti mengandalkan. Di kampung-kampung kita dulu muncul stigma seolah-olah kalau orangtua itu semakin jaya, anaknya semakin tidak benar. Karena itu ada ungkapan: "generasti pertama membangun, generasi kedua merusak." Tapi, dengan pengetahuan dan kesadaran, stigma itu sudah mulai dilawan oleh realitas. Banyak orangtua yang bagus dan bagus pula dalam mendidik anaknya.

Itulah beberapa hal yang bisa kita sebut sebagai jebakan ekstrimitas dalam parenting. Kita cenderung memilih hal-hal mudah dengan cara terlalu membebaskan atau terlalu mengekang. Padahal hal-hal mudah itu tidak selamanya memberikan akibat yang mudah dihadapi. Apa akibatnya? Tergantung pada perjalanan hidup si anak. Kalau nanti si anak mendapatkan "hidayah", ia akan berinisiatif melakukan perbaikan dengan melakukan kebalikanya. Contohnya banyak kita temukan dari kehidupan para nabi atau orang biasa yang hebat.

Tapi bila tidak, si anak akan membawa pengaruh itu ke dalam kultur hidupnya. Inilah yang kita kenal dengan istilah bawaan (trait). Bawaan ini ada yang positif dan ada yang negatif. Bawaan ini merupakan bagian dari diri seseorang yang sulit diubah, bukan karena faktor genetik, tapi karena sudah terlalu melekat. Karena itu kita temukan ada kemalasan bawaan dan kemalasan keadaan (misalnya karena gagal usaha, dimarahi, atau mood jelek). Kemalasan keadaan itu umumnya mudah diatasi. Ada cinta ilmu bawaan dan ada cinta karena keadaan. Cinta bawaan akan membuat seseorang tidak merasa bahagia kalau ilmunya tidak bertambah meskipun kekayaannya bertambah.

Karena tidak ada orangtua dan perjalanan anak yang sempurna, maka Tuhan memberikan fasilitas tambahan untuk perbaikan. Misalnya saja problem, krisis, musibah, dan hal-hal yang tidak kita inginkan lainnya. Konon, Mas Iwan Fals dulu menjadi proses parenting yang relatif "mudah". Ketika musibah terjadi, ia jadikan musibah itu sebagai perubahan ke arah yang lebih baik.

"Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskannyadalam enam bulan pertama." (Buckminster Fuller)

Beberapa Gaya Parenting
Diana Baumrind (1978) mengkelompokkan berbagai gaya parenting di dunia ini menjadi empat:

1. Authoritatif
Orangtua yang otoritatif memberikan arahan yang kuat pada seluruh aktivitas anak, namun tetap memberikan wilayah yang bebas ditentukan si anak. Orangtua dulu menjelaskannya dengan ungkapan: "pegang kakinya namun biarkan kepalanya bergerak". Mekanisme kontrol yang dipakai tidak kaku, tidak mengancamnya dengan hukuman, dan menghilangkan batasan-batasan yang tidak terlalu penting. Orangtua berusaha memberikan perhatian supaya anak memahami hal yang mendasar sebagai hal yang mendasar dan memahami hal yang tidak mendasar sebagai hal yang tidak mendasar.

2. Authoritarian
Orangtua yang authoritarian berusaha membentuk anak, mengontrol seluruh aktivitas anak berdasarkan nilai-nilai tradisional yang berlaku dalam keluarga, dan memberikan standar prilaku yang baku. Orangtua memegang kepalanya dan sekaligus kakinya. Orangtua lebih sering memberikan tekanan, kewajiban, menuntut ketaatan penuh, dan memberikan ancaman hukuman. Orangtua melihat anaknya adalah makhluk yang ia miliki sepenuhnya dan ingin dibentuk sesuai dengan keinginannya.

3. Permissive
Orangtua yang permisif cenderung mencari aman, menghindari hal-hal yang sulit, menerima atau mengikuti apa kemauan si anak secara utuh. Orangtua permisif membolehkan apa yang dinginkan anak. Anak diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengontrol tindakannya. Posisi orangtua di sini sebagai penegas saja atas apa yang dikonsultasikan anak kepadanya. Kalau anak bertanya boleh nggak minum es pada saat dia pilek, si orangtua bilang ya. Jawaban ya di situ karena orangtua tidak mau pusing mendengar anaknya menangis.

4. Neglectful
Orangtua yang neglectful di sini derajatnya lebih dari permisif. Kalau di permisif masih ada keterlibatan interaksi, tetapi untuk yang neglectful ini, orangtua sama sekali tidak terlibat kecuali sebatas memberikan kebutuhan fisik lahiriah si anak, seperti makan, minum, pakaian, atau obatan-obatan. Gaya neglectful ini sangat mudah diterapkan oleh orangtua yang bercerai atau yang sudah tidak harmonis lagi. Si ayah atau si ibu hanya berpatokan pada bukti transfer uang atau kirim wesel ke sebuah pesantren, ke kakek neneknya, atau ke sekolah berasrama lainnya.

Secara hitam putih teori, gaya yang paling bagus adalah yang pertama, otoritatif. Orangtua memberikan arahan, patokan dan pedoman yang jelas dan tegas, namun soal tehniknya dikembalikan ke anak dengan bimbingan dan pengembangan. Apa ada orangtua yang bisa begini seratus persen dan tidak pernah terjebak ke gaya lain? Kalau di prakteknya, mungkin kita bisa bersepakat mengatakan tidak ada orangtua yang bisa melakukan itu. Pasti pernah ada melesetnya.

Karena itu disebutnya sebagai gaya (style). Gaya kita bukanlah diri kita seutuhnya, melainkan diri kita pada mayoritasnya. Dan yang paling penting lagi adalah tujuan akhirnya. Mungkin kita harus permisif, namun itu kita jadikan sebagai perantara untuk menjadi otoritatif. Mungkin kita harus otoritarian, namun tujuan kita akhirnya adalah otoritatif.
"Hadapilah sesuatu yang terus berubah dengan melakukan perubahan yang terus menerus." (Tao)

Tiga Prinsip Menjadi Otoritatif:Dewasa kini sudah banyak dikembangkan berbagai tips, trik, dan teknik parenting. Ini bisa kita baca di buku, majalah, koran, internet, dan lain-lain. Namun kalau menelaah ke prakteknya, berbagai tips itu tidak bisa menggantikan sejumlah prinsip mendasar, yang jumlahnya tidak banyak, dan umumnya sudah kita ketahui. Prinsip itu mutlak dijalankan dan tidak ada penggantinya.

Peranannya mirip seperti rukun dalam ibadah yang tidak bisa di-copy-paste atau membayar orang lain. Apa saja prinsip itu? Di antaranya adalah:

1. KreatifDi lapangan, pasti ada perlawanan dan perdebatan. Kita sudah memberi arahan dan pedoman, misalnya jangan membeli sesuatu yang kegunaannya sedikit atau mubadzir. Tetapi si anak tetap tidak mau peduli. Jika kita kasih masukan yang lembut, dia tidak mendengar, tapi kalau kita kasih yang keras, kita takut memotong inisiatif. Bagaimana seperti ini?
Di sinilah pentingnya kreativitas. Artinya, kita perlu merasa tertantang untuk memunculkan berbagai ide, cara, penyikapan, dan perlakuan agar si anak tetap pada pedoman utama, namun tetap memperhatikan hak dia untuk berinisiatif atau mengambil keputusan. Rasa tertantang di sini menjadi kunci, sebab kalau ini hilang, kita akan cenderung menggunakan jurus yang mudah, yaitu menang-kalah. Kalau mau main kalah-menang, kita pasti menang.

2. Sabar Sabar di sini tentunya bukan membiarkan. Membiarkan adalah kelemahan, sedangakan kesabaran adalah kekuatan. Sabar adalah konsistensi untuk mengupayakan hal-hal yang baik atau yang bermanfaat lebih banyak, meskipun kita menghadapi penolakan atau hasilnya belum ketahuan. Pesan agama yang paling mendasar tentang kesabaran adalah jangan sampai kita memberikan reaksi negatif atas realitas permukaan. Reaksi ini sangat terkait dengan pemahaman.

Misalnya saja kita merasa bahwa pola asuh yang sudah kita perjuangkan sebegitu rupa selama ini tidak memberikan diferensiasi apa-apa pada anak kita. Menurut kita, biasa-biasa saja atau sama seperti anak orang lain yang diasuh secara ekstrim, dan semisalnya. Perasaan seperti ini bisa menggagalkan konsistensi kita. Padahal, secara konsepnya, semua orang punya kapasitas untuk menjadi konsisten asalkan terus mengembangkan kemampuannya dalam melihat dan memahami realitas ke tingkat yang lebih substansial atau esensial.

Kalau melihat bukti-bukti dari realitas yang lebih esensial, pola asuh tertentu itu pasti menghasilkan pribadi anak yang tertentu juga. Bahwa ada perbedaan yang cepat kelihatan dan ada yang lambat, ini soal proses dan keunikan juga. Ibarat orang yang menanam benih, tentu saja tergantung benihnya. Kalau yang kita tanam kelapa, pasti lama. Intinya, tanpa kesabaran kita akan gagal menjadi otoritatif meskipun sudah menerapkan berbagai tip.

3. Peduli Semua orangtua punya naluri untuk peduli pada anak. Bedanya, ada kepedulian yang digerakkan oleh dorongan untuk memenuhi kebutuhan anak berdasarkan perkembangannya. Orangtua melihat perkembangan anak lalu hasilnya digunakan untuk memberi sesuatu. Ada kepedulian yang digerakkan oleh keinginan subyektif orangtua saja. Orangtua memberi si anak tanpa / kurang melihat kebutuhannya. Ada juga kepedulian yang dikalahkan oleh egoisme, kemarahan, dan rasa malu sehingga tampilannya menjadi tidak peduli. Untuk menjadi otoritatif, peduli yang paling dibutuhkan adalah peduli yang dihasilkan dari bacaan kita terhadap perkembangan anak.

Semoga bisa kita praktekkan nanti setelah punya buah hati.

0 komentar: