<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149</id><updated>2011-07-07T13:07:33.232-07:00</updated><title type='text'>ThE CLuBs of PsYChOLoGY UPI YptK pAdaNg. semoga bermanfaat chayo...</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-4252137438411013343</id><published>2008-09-22T19:44:00.000-07:00</published><updated>2008-09-22T19:45:45.684-07:00</updated><title type='text'>TAHAPAN PENELITIAN ILMIAH</title><content type='html'>Gambar 1. Tahapan Penelitian Ilmiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggali dan Merumuskan  Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menggali Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak masalah yang terdapat di alam semesta ini. Dari masalah sosial manusia, hewan atau mungkin juga tumbuhan sampai dengan masalah-masalah eksakta, dan bahkan masalah gaib.  Masalah tersebut ingin dijawab, dipecahkan, diatasi, dicari jalan keluarnya secara ilmiah. Memang tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan kajian ilmiah atau hasil pikir manusia, misalnya masalah yang berkaitan dengan hal-hal yang gaib. Menggali masalah barangkali berbeda dengan “mencari-cari masalah”. Menggali masalah berarti mengungkapkan masalah-masalah yang ada, menyeleksi masalah yang penting dan mencoba memecahkan masalah tersebut untuk kesejahteraan bagi masyarakat luas. Oleh sebab itu, penelitian juga sebaiknya memperhatikan tata nilai di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian-penelitian yang bertentangan dengan tata nilai masyarakat memang perlu dihindari. Hal ini untuk mencegah timbulnya perilaku masyarakat yang cenderung negatif. Dalam masyarakat Islam, misalnya, adalah kurang tepat jika seorang peneliti meneliti bagaimana memproduksi babi yang efisien. Akan tetapi, barangkali akan relevan jika seorang peneliti meneliti dampak negatif mengkonsumsi daging babi dipandang dari sudut kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah penelitian  bisa muncul dari ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Dari kehidupan sehari-hari yang kita amati, rasakan, kita hayati dan kita renungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Dari pembicaraan masyarakat luas yang sedang hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Dari prioritas nasional dan atau prioritas topik penelitian yang diminta oleh penyandang dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Dari berbagai tulisan yang dimuat di berbagai media masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      Dari buku-buku pelajaran yang memuat berbagai teori, konsep, atau prinsip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.      Dari hasil-hasil penelitian baik dari peneliti maupun dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.      Dari diskusi-diskusi ilmiah, seminar, kuliah, wawancara dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.      Pengalaman pribadi atau orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.      Analisis bidang pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.  Ulangan serta perluasan penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.  Cabang studi yang sedang dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.  Praktek serta keinginan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Merumuskan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menemukan masalah yang menarik, langkah berikutnya adalah merumuskan masalah. Banyak pertimbangan yang harus dilakukan agar supaya masalah yang dipilih nantinya akan menjadi rumusan yang baik (yaitu yang penting, menarik, punya arti yang luas dan secara operasional dapat diteliti). Untuk itu, diperlukan kajian yang cukup agar suatu masalah dapat dirumuskan.  Untuk itu yang bisa dilakukan antara lain adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      menetapkan alternatif masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Mengadakan telaah kepustakaan dan studi pendahuluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Pilih salah satu masalah yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Telaah kepustakaan dan studi pendahuluan khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      Pahami kait berkaitnya masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.      Nilailah luas sempitnya masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.      Tetapkan sudut pandang atau pendekatan.&lt;br /&gt;Rumuskan dengan jelas permasalahan yang ingin diteliti/ditulis. Uraikan pendekatan dan konsep untuk menjawab masalah yang diteliti/ditulis (kerangka pemecahan masalah), hipotesis (jika ada) yang akan diuji atau dugaan yang akan dibuktikan. Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi dan lingkup yang menjadi batasan penelitian/tulisan. Uraian perumusan masalah tidak selalu dalam bentuk pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kerangka pemecahan masalah merupakan kerangka berpikir secara teoritis maupun empirik untuk memecahkan masalah yang sudah diidentifikasi. Disini digambarkan berbagai alternatif pemecahan masalah yang mungkin dilakukan untuk memecahkan masalah yang dirumuskan. Bagaimana proses pemilihan alternatif itu sampai terpilih cara pemecahan yang paling baik yang akan dilakukan. Kemukakan alternatif terbaik untuk memecahkan masalah tersebut. Uraikan alasan logiknya mengapa kita mengemukankan hal tersebut. Kemukakan kelebihan “metode” pemecahan masalah dibandingkan dengan yang sudah ada sehingga diharapkan  “metode” tersebut dapat memecahkan masalah tersebut di atas. Metode pemecahan masalah inilah yang nantinya dijabarkan dalam materi dan metode penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merumuskan hipotesis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Penggunaan hipotesis dapat didasarkan kepada permasalahan dan tujuan penelitian kita. Tidak ada keharusan dalam sebuah penelitian dimulai dengan hipotesis. Sebagai contohnya adalah pada penelitian eksploratif. Pada penelitian jenis ini, hipotesis hampir sulit dirumuskan, sehingga banyak penelitian eksploratif tidak menggunakan hipotesis. Penelitian eksploratif merupakan penelitian pendahuluan, sebagai langkah awal untuk penelitian yang lebih mendalam. Meskipun demikian dalam penelitian eksploratif sekalipun harus ada pedoman yang dapat membatasi atau memberi pedoman atau arah penelitian yang hendak dilakukan. Oleh sebab itu, setidak-tidaknya suatu penelitian agar bisa dilakukan harus ada pertanyaan atau perumusan masalah yang hendak dikaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan penelitian yang  langkah pokoknya disusun oleh komponen masalah-hipotesis-data-analisis-kesimpulan, maka hipotesis merupakan suatu keharusan. Pada jenis penelitian ini, hipotesis disusun   berdasarkan teori-teori atau fakta-fakta yang telah ada. Hipotesis inilah yang kemudian diuji kebenarannya melalui penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Itu  Hipotesis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian. Dinyatakan sementara karena hipotesis disusun berdasarkan teori dan fakta yang ada, dimana hal ini perlu diuji kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Hipotesis amat berguna dalam penelitian antara lain sebagai berikut (Nazir, 1988):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.       memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.      Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.       Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta ke dalam kesatuan penting dan menyeluruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.      Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggali Hipotesis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Salah satu cara untuk menggali hipotesis adalah dari berbagai informasi baik dari karya ilmiah, buku, fenomena alam atau dari pengalaman pribadi maupun orang lain, wawasan, imajinasi, data yang tersedia dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang telah penulis uraikan bahwa hipotesis dapat disusun dari fakta-fakta yang dirangkum dalam tinjauan pustaka. Dari analisis dan sintesis berbagai hasil penelitian, maka kita dapat menghasilkan  simpulan. Simpulan dari telaah pustaka dapat merupakan konsep yang masih memerlukan pembuktian. Nah, konsep tersebut dapat dijadikan hipotesis dari penelitian anda. Mungkin pula setelah kita merangkai berbagai hasil penelitian diperoleh suatu konsep argumentatif yang secara logik dapat diterima tanpa harus dibuktikan melalui penelitian karena sudah terbukti kebenarannya dengan sendirinya. Konsep temuan anda tersebut dapat dijadikan dasar untuk menyusun hipotesis. Caranya, anda hubungkan konsep anda dengan fenomena lain yang berkaitan dengan masalah yang akan anda teliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dari uraian tersebut, maka seorang peneliti harus mempunyai banyak informasi tentang masalah yang akan dipecahkan. Kita dapat mencari informasi dari berbagai artikel yang dapat kita cari di jurnal-jurnal ilmiah, internet atau sumber informasi lainnya. Banyak informasi saja tidak cukup. Peneliti harus mampu memilih informasi-informasi yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti serta kemudian menganalisis dan  mensintesisnya sesuai dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan. Ini berarti seorang peneliti harus mampu menghubungkan suatu fakta dengan fakta yang lain dalam fenomena yang sedang/akan diteliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merumuskan hipotesis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Setelah menggali hipotesis, tiba saatnya kita merumuskan hipotesis. Menurut Nazir (1988) bahwa dalam merumuskan hipotesis ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu (1) hipotesis harus dirumuskan secara jelas dan padat serta  spesifik, (2) hipotesis sebaiknya dinyatakan dalam kalimat deklaratif, (3) hipotesis sebaiknya menyatakan hubungan antara dua atau lebih variable yang dapat diukur, (4) hipotesis harus  dapat diuji, (5) hipotesis sebaiknya mempunyai kerangka teori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi dan Metode Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi dan metode penelitian merupakan bagian yang utama dalam proposal penelitian. Untuk itu anda harus menguraikan  metode penelitian secara bertahap sesuai dengan tuntutan permasalahan  yang akan dipecahkan. Metodologi harus menjawab permasalahan, tujuan dan hipotesis penelitian anda. Seringkali kita gagal dalam menunjukkan keselasaran antara hal tersebut di atas dengan metode penelitian yang kita tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subjek  dan Objek Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Subjek mengacu kepada sesuatu atau seseorang tempat kita memperoleh data, fenomena atau keterangan. Jika kita ingin meneliti perubahan pertumbuhan broiler, maka yang menjadi subjek penelitian adalah broiler, dan yang menjadi objek penelitian adalah perubahan pertumbuhan broiler. Jika kita akan meneliti keadaan penyelenggaraan perpustakaan perguruan tinggi di Propinsi Bengkulu, maka yang menjadi subjek penelitian adalah perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi tersebut. Yang menjadi sumber informasi bisa perpustakaannya itu sendiri (dokumen, koleksi, tata-ruang, katalogisasi, system klasifikasi, system pelayanan dll.) dan orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perpustakaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi Materi dan Metode Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Materi dan  metode penelitian biasanya terdiri atas lokasi penelitian, waktu penelitian, rancangan penelitian, nama materi, metode penelitian, analisis statistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Lokasi penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sebutkan lokasi penelitian anda secara jelas. Lokasi penelitian bagi beberapa penelitian sangat penting, karena lokasi yang berbeda akan berpengaruh terhadap hasil penelitian anda. Sebagai contoh anda penelitian tentang pertumbuhan leguminosa. Pertumbuhan leguminosa akan berbeda pada ketinggian yang berbeda. Jika diperlukan data tentang  iklim, letak geografi dll. dapat dicantumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Waktu penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Waktu penelitian berkaitan erat dengan kapan penelitian akan dilaksanakan. Untuk beberapa kajian bidang ilmu pencantuman waktu akan penting atau merupakan keharusan. Misalnya pada penelitian sosial pemilihan waktu yang berbeda dapat menghasilkan data yang berbeda pula. Kita juga mengetahui bahwa musim sangat berpengaruh terhadap hasil penelitian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Alat dan bahan penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Alat dan bahan yang perlu dijelaskan  bagian ini adalah alat dan bahan utama penelitian anda. Pencantuman alat dan bahan harus dilengkapi dengan spesifikasi seperti nama dan diproduksi oleh perusahaan mana. Jika hewan perlu dicantumkan strain, umur, berat badan awal dsb., demikian pula jika anda  menggunakan tumbuhan. Untuk senyawa kimia perlu dicantumkan nama senyawa kimia dan nama produsennya. Penulisan senyawa kimia atau yang lainnya tidak boleh dimaksudkan untuk promosi. Oleh sebab itu, pencantuman merek dagang tidak dibenarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Rancangan penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pilihan jenis rancangan penelitian mana yang akan dilakukan harus selaras dengan perumusan masalah, hipotesis dan tujuan penelitian. Jika kita akan mengevaluasi ada tidaknya hubungan antara satu variable dengan variable lainnya, maka kita memilih rancangan penelitian korelasi. Jika kita akan mengevaluasi sebab akibat terjadinya sesuatu, atau mengevaluasi apakah suatu variable akan mengakibatkan sesuatu pada variable  yang lain, maka kita memilih penelitian eksperimen. Jika kita memilih penelitian eksperimen, maka tentunya akan lebih lanjut rancangan statistik penelitian yang mana yang akan kita pilih, apakah rancangan acak lengkap, rancangan acak kelompok ataukah rancangan lainnya. Rancangan ini sekalilagi harus mampu menjawab hipotesis. Jika kita ingin mengetahui sejarah sesuatu hal, tentu dipilih penelitian historis. Untuk keperluan penentuan rancangan penelitian, maka anda perlu mempelajari secara mendalam tentang jenis/corak penelitian. Dalam rancangan penelitian ini juga dijelaskan perlakuan-perlakuan yang akan dilakukan (pada metode eksperimen). Penentuan perlakuan dilakukan berdasarkan hasil telaah pustaka dan untuk menjawab hipotesis dan atau perumusan masalah (bagi penelitian yang tidak ada hipotesisnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Teknik pengumpulan data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu, (1) tes, (2) angket, (3) wawancara, (4) observasi, dan (5) telaah dokumen.  Penentuan teknik pengambilan data bergantung kepada tujuan penelitian dan jenis data yang akan diambil dan juga keadaan subjek atau sumber informasi penelitian. Jelaskan juga variable-variabel yang akan diukur. Untuk variable yang sifatnya telah diketahui dan disepakati oleh ilmuwan yang relevan tidak perlu dijelaskan, tetapi variable yang bersifat khusus dan belum disepakati perlu dijelaskan definisi operasionalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Metode analitik laboratorium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Untuk penelitian jenis eksperimen, perlu dicantumkan metode analitiknya. Jika metode tersebut telah banyak diketahui secara luas, maka kita tidak perlu lagi menjelaskan tahapan analisisnya. Akan tetapi, jika kita melakukan modifikasi atau merupakan metode baru maka kita harus menjelaskannya secara rinci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Teknik Analisis Data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaskan teknik analisis data yang anda gunakan. Teknik ini tentunya digunakan untuk dapat menjawab hipotesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar bagian ini mudah dipahami oleh pembaca, maka anda sebaiknya menulis bagian ini  setahap demi setahap. Memang, urutan judul dalam bagian (sub-bagian) materi dan metode tidak ada aturan penulisan urutan. Yang penting diperhatikan disini adalah urut-urutan yang logis dan jika perlu sesuai dengan tahapan penelitian, sehingga pembaca segera memahami bagian materi dan metode ini. Judul-judul pada sub-bagian akan membantu menjelaskan tatanan tulisan materi dan metode ini. Sub-judul yang baik akan membantu mempermudah pembaca menangkap rangkaian penelitian yang telah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amirin, T. M.  1995. Menyusun Rencana Penelitian. PT Raja Grafindo Pustaka, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lindsay, D. 1988. A Guide to Scientific Writing.  (Penerjemah S. S. Achmadi). UI-Press, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malo, M. 1997. Metode Penelitian Sosial. Universitas Terbuka, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mullins, C. J. 1980. The Complete Writing Guide to Preparing Reports, Proposals, Memos, Etc. Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs, NJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nazir, M. 1988.  Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santoso, U. 2006. Merancang Penelitian Berskala Nasional. Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, UNIB. Tidak Dipublikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posted in perguruan tinggi | Tags: hipotesis, menggali masalah, perumusan masalah, PKM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-4252137438411013343?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/4252137438411013343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=4252137438411013343&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/4252137438411013343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/4252137438411013343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/tahapan-penelitian-ilmiah.html' title='TAHAPAN PENELITIAN ILMIAH'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-7248241581379248677</id><published>2008-09-22T19:38:00.000-07:00</published><updated>2008-09-22T19:40:10.485-07:00</updated><title type='text'>PENELITIAN DESKRIPTIF APAKAH ITU ?</title><content type='html'>. Pengertian Penelitian Deskripsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya (Sukmadinata, 2006:72). Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnyakondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furchan (2004:447) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status suatu gejala saat penelitian dilakukan. Lebih lanjut dijelaskan, dalam penelitian deskriptif tidak ada perlakuan yang diberikan atau dikendalikan serta tidak ada uji hipotesis sebagaimana yang terdapat pada penelitian eksperiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Karakteristik Penelitian Deskriptif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian deskriptif mempunyai karakteristik-karakteristik seperti yang dikemukakan Furchan (2004) bahwa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) penelitian deskriptif cendrung menggambarkan suatu fenomena apa adanya dengan cara menelaah secara teratur-ketat, mengutamakan obyektivitas, dan dilakukan secara cermat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) tidak adanya perlakuan yang diberikan atau dikendalikan, dan (3) tidak adanya uji hipotesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;III. Jenis-jenis Penelitian Deskriptif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furchan (2004:448-465) menjelaskan, beberapa jenis penelitian deskriptif, &lt;br /&gt;yaitu; &lt;br /&gt;(1) Studi kasus, yaitu, suatu penyelidikan intensif tentang individu, dan atau unit sosial yang dilakukan secara mendalam dengan menemukan semua variabel penting tentang perkembangan individu atau unit sosial yang diteliti. Dalam penelitian ini dimungkinkan ditemukannya hal-hal tak terduga kemudian dapat digunakan untuk membuat hipotesis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Survei. Studi jenis ini merupakan studi pengumpulan data yang relatif terbatas dari kasus-kasus yang relatif besar jumlahnya. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan informasi tentang variabel dan bukan tentang individu. Berdasarkan ruang lingkupnya (sensus atau survai sampel) dan subyeknya (hal nyata atau tidak nyata), sensus dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori, yaitu: sensus tentang hal-hal yang nyata, sensus tentang hal-hal yang tidak nyata, survei sampel tentang hal-hal yang nyata, dan survei sampel tentang hal-hal yang tidak nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Studi perkembangan. Studi ini merupakan penelitian yang dilakukan untuk memperoleh informasi yang dapat dipercaya bagaimana sifat-sifat anak pada berbagai usia, bagaimana perbedaan mereka dalam tingkatan-tingkatan usia itu, serta bagaimana mereka tumbuh dan berkembang. Hal ini biasanya dilakukan dengan metode longitudinal dan metode cross-sectional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Studi tindak lanjut, yakni, studi yang menyelidiki perkembangan subyek setelah diberi perlakukan atau kondisi tertentu atau mengalami kondisi tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Analisis dokumenter. Studi ini sering juga disebut analisi isi yang juga dapat digunakan untuk menyelidiki variabel sosiologis dan psikologis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) Analisis kecenderungan. Yakni, analisis yang dugunakan untuk meramalkan keadaan di masa yang akan datang dengan memperhatikan kecenderungan-kecenderungan yang terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7) Studi korelasi. Yaitu, jenis penelitian deskriptif yang bertujuan menetapkan besarnya hubungan antar variabel yang diteliti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-7248241581379248677?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/7248241581379248677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=7248241581379248677&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/7248241581379248677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/7248241581379248677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/penelitian-deskriptif-apakah-itu.html' title='PENELITIAN DESKRIPTIF APAKAH ITU ?'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-1880080769613578006</id><published>2008-09-20T21:41:00.000-07:00</published><updated>2008-09-20T21:42:12.157-07:00</updated><title type='text'>5 kekuatan yang pengembangan potensi diri</title><content type='html'>Judul artikel ini mengatakan bahwa ada lima kekuatan yang bisa digunakan untuk mengembangkan potensi diri. Apakah lima kekuatan itu? Ini yang akan saya jelaskan secara urut di artikel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, yaitu Kekuatan Keyakinan atau The Power of Belief. Mengapa harus dimulai dengan Kekuatan Keyakinan? Keyakinan adalah fondasi untuk melakukan apa saja. Kita baru akan bertindak bila kita merasa yakin mampu melakukan sesuatu. Jika tidak yakin maka upaya yang kita lakukan akan dikerjakan dengan setengah hati. Dan kita tahu, apapun yang dilakukan dengan setengah hati, tanpa kesungguhan, maka hasilnya pasti tidak akan pernah maksimal. Seringkali upaya kita, jika diawali dengan perasaan tidak yakin, akan berakhir dengan kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakin pun ada syaratnya, tidak asal yakin. Yakin yang saya maksudkan di sini adalah yakin yang berlandaskan kebijaksanaan dan akal sehat. Tidak asal “yakin” dan “ngotot”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus dilandasi kebijaksanaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, karena yakin ini sebenarnya ada tiga macam. Pertama, yakin yang hanya bermain di level kognisi atau pikiran sadar. Kedua, yakin yang bermain pada level afeksi atau pikiran bawah sadar. Ada lagi yakin yang tipe ketiga yaitu yakin yang “ngaco” alias “ngawur”. Yakin tipe ini adalah yakin yang berlebihan atau overconfident tapi tidak ekologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakin tipe ketiga ini sangat berbahaya. Ini ada satu cerita nyata. Kawan saya pernah bercerita bahwa ada seorang kawannya, sebut saja Bu Yuni, yang setelah mengikuti suatu pelatihan motivasi, menjadi begitu semangat dan menjadi sangat-sangat yakin bahwa ia akan bisa sukses dalam waktu yang sangat singkat dan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari pelatihan itu Bu Yuni dengan “haqul yaqin” (sangat yakin) memutuskan bahwa ia dalam waktu maksimal 3 (tiga) bulan akan menjadi orang kaya dan akan berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp. 3 Miliar. Benar, anda tidak salah baca, 3 bulan untuk Rp. 3 miliar. Ck.. ck… ck… sungguh dahsyat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan kedua untuk mengembangkan potensi diri adalah dengan Kekuatan Semangat atau The Power of Enthusiasm. Yang menjadi komponen atau bagian dari Kekuatan Semangat adalah konsistensi, persistensi, kegigihan, atau whatever it takes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan yang dilandasi dengan suatu keyakinan yang teguh, bahwa kita pasti bisa berhasil, pasti akan dilakukan dengan penuh semangat. Semangat ini sebenarnya adalah motivasi intrinsik atau dorongan bertindak yang berasal dari dalam diri kita. Kekuatan Semangat ini yang membuat seseorang akan terus mencoba walaupun telah gagal berkali-kali. Kekuatan Semangat ini yang mendasari peribahasa “Tidak ada yang namanya kegagalan. Yang ada hanyalah hasil yang tidak seperti yang kita inginkan”, “Winners never quit. Quitters never win”, “Tidak penting berapa kali anda jatuh, yang penting adalah berapa kali anda bangkit setelah anda jatuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan Semangat ini yang menjadi pendorong Thomas Edison untuk terus mencoba walaupun ia telah berkali-kali “belum berhasil” menemukan bahan yang sesuai untuk membuat bola lampu listrik. Kekuatan Semangat ini pula yang mendorong Harland Sanders untuk terus menawarkan resep ayam gorengnya yang istimewa Kentucky Fried Chicken, walaupun ia telah ditolak berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana dengan kisah Bu Yuni? Saya lanjutkan ya ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Yuni, dengan bekal keyakinan yang “pasti” dan “kuat” memutuskan untuk menjalankan suatu usaha yang akan menjadi kendaraannya untuk mengumpulkan Rp. 3 miliar dalam waktu 3 bulan. Bu Yuni bekerja dengan sungguh serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan ketiga adalah Kekuatan Fokus atau The Power of Focus.  Fokus berarti kita hanya melakukan hal-hal yang memang berhubungan dengan target yang ingin kita capai. Pikiran kita menjadi sangat tajam, terpusat, seperti sinar laser yang siap untuk menembus berbagai penghalang. Kita tidak akan membiarkan berbagai cobaan atau distraksi membuat pikiran atau kegiatan kita menyimpang dari tujuan semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Kekuatan Fokus bekerja kita akan sangat memperhatikan hal-hal detil dalam upaya mencapai keberhasilan. Kekuatan Fokus ini yang mendorong kita untuk menghasilkan master piece.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya lanjut lagi cerita tentang Bu Yuni. Apakah Bu Yuni fokus? Oh, sangat fokus. Begitu fokusnya sehingga ia bisa melihat banyak sekali peluang di sekitar dirinya. Bu Yuni mengajak kawannya kerjasama. Ia bahkan bersedia menanamkan modal yang cukup besar untuk mengembangkan bisnis kawannya karena ia yakin bisnis ini bisa memberikan sangat banyak uang dalam waktu yang singkat. Bahkan saat kawannya, yang selama ini telah menggeluti bisnis itu, mengatakan bahwa tidak mungkin bisa secepat itu perkembangan bisnisnya, walaupun mendapat suntikan dana besar, Bu Yuni tetap yakin, semangat, dan fokus berkata, “Ah, yang penting yakin. Kalau yakin maka segala sesuatu mungkin terjadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan keempat adalah Kekuatan Kedamaian Pikiran atau The Power of Peace of Mind. Kekuatan keempat ini sangat penting diperhatikan karena ini merupakan barometer untuk menentukan apakah keyakinan kita terhadap sesuatu itu ekologis atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita yakin, semangat, dan fokus melakukan sesuatu maka kita perlu memeriksa apakah kita merasakan ketenangan baik di pikiran maupun di hati. Jika jawabannya “Tidak” maka kita perlu memeriksa ulang keyakinan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu memeriksa apakah keyakinan kita itu sudah benar-benar yakin ataukah lebih karena dorong emosi tertentu, misalnya emosi takut atau keserakahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus Bu Yuni, ternyata ia sama sekali tidak merasakan kedamaian. Hal ini tampak dalam kehidupannya. Bu Yuni, dalam upaya mencapai targetnya, ternyata tidak mendapat dukungan dari suaminya. Bu Yuni tetap memaksakan kehendaknya. Ia bersikeras bahwa dengan keyakinannya yang pasti ia akan dapat mencapai apapun yang ia inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi? Bu Yuni sering ribut dengan suaminya dan selalu tampak murung dan stress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila keyakinan kita bersifat ekologis, didasari dengan pikiran yang benar dan kebijaksanaan, maka saat kita bekerja keras dan giat untuk mencapai impian-impian kita, pikiran dan hati kita akan tetap merasa tenang, damai, dan bahagia. Ini adalah satu aspek penting yang jarang sekali diperhatikan oleh kebanyakan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan tenang, damai, dan bahagia merupakan indikasi bahwa apa yang kita lakukan benar-benar kita yakini akan berhasil. Kita hanya tinggal melakukan kerjanya saja dan sukses sudah pasti akan kita dapatkan. Sukses hanyalah efek samping yang pasti akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan kelima adalah Kekuatan Kebijaksanaan atau The Power of Wisdom. Kekuatan ini sangat penting karena digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap apa yang telah kita lakukan pada empat langkah pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan kebijaksanaan kita dapat melakukan evaluasi dengan baik, benar,akurat, dan tanpa melibatkan emosi. Jika hasil yang dicapai belum seperti yang kita inginkan maka dengan menggunakan kebijaksanaan kita dapat mengetahui permasalahannya dan dapat meningkatkan diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hasilnya sudah seperti yang kita inginkan maka, dengan menggunakan kebijaksanaan, kita dapat mempertahankan dan meningkatkan pencapaian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijaksanaan juga digunakan untuk memeriksa keyakinan atau kepercayaan yang menjadi langkah awal tindakan untuk mencapai goal. Dengan bijaksana kita dapat memeriksa keabsahan keyakinan kita. Apakah kita sudah benar-benar yakin secara benar ataukah kita sebenarnya tidak yakin tapi memaksa diri yakin karena kita takut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Yuni ternyata tidak menggunakan Kekuatan Keyakinan dalam mengejar impiannya. Setelah mendengar penjelasan kawan saya secara cukup detil saya akhirnya menyimpulkan bahwa Bu Yuni ini sebenarnya tidak yakin namun ia memaksakan kehendak, tanpa mempertimbangkan kondisi riil yang sedang ia alami, untuk bisa sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata emosi yang mendorong Bu Yuni untuk “Yakin” adalah ketakutannya akan masa depan. Ia, setelah menghadiri seminar motivasi, menjadi “sangat yakin” dengan apa yang diajarkan oleh si pembicara dan akhirnya menjadi “buta” oleh emosinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diperkuat lagi saat Bu Yuni mendapat peneguhan dari mentornya, pembicara tadi, yang mengatakan, “Pokoknya, kalo kamu yakin, maka kamu bisa mencapai apapun yang anda inginkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca, belief seperti ini, yang menggunakan kata-kata “pokoknya”, yang saya kategorikan sebagai “belief” yang perlu diwaspadai. Belief ini seringkali tidak membumi dan menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita menggunakan lima kekuatan yang telah saya jelaskan dalam artikel ini maka dengan bekal yakin, semangat, fokus, damai, dan bijaksana niscaya kita akan dapat mengembangkan potensi diri secara optimal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-1880080769613578006?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/1880080769613578006/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=1880080769613578006&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/1880080769613578006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/1880080769613578006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/5-kekuatan-yang-pengembangan-potensi.html' title='5 kekuatan yang pengembangan potensi diri'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-3452032770251776634</id><published>2008-09-20T21:19:00.000-07:00</published><updated>2008-09-20T21:23:51.118-07:00</updated><title type='text'>MENTAL BLOCK</title><content type='html'>MENTAL BLOCK … OH… MENTAL BLOCK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pemrograman pikiran sebenarnya telah terjadi sejak seorang anak masih di dalam kandungan ibunya, sejak ia berusia tiga bulan. Pada saat ini pikiran bawah sadar telah bekerja sempurna, merekam segala sesuatu yang dialami seorang anak dan ibunya. Semua peristiwa, pengalaman, suara, atau emosi masuk ke dan terekam dengan sangat kuat di pikiran bawah sadar dan menjadi program pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita lahir, kita lahir hanya dengan satu pikiran yaitu pikiran bawah sadar. Bekal lainnya adalah otak yang berfungsi sebagai hard disk yang merekam semua hal yang kita alami. Sejak lahir, dan sejalan dengan proses tumbuh kembang, kita mengalami pemrograman pikiran terus menerus, melalui interaksi kita dengan dunia di luar dan di dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada anak kecil, yang memprogram pikirannya adalah terutama kedua orangtuanya, pengasuh, keluarga, lingkungan, guru, televisi, dan siapa saja yang dekat dengan dirinya. Saat masih kecil pemrograman terjadi dengan sangat mudah karena pikiran anak belum bisa menolak informasi yang ia terima. Ketidakmampuan memfilter informasi ini disebabkan karena pada saat itu critical factor, atau faktor kritis, dari pikiran sadar belum terbentuk. Kalaupun sudah terbentuk critical factor masih lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemrograman pikiran saat anak masih kecil terjadi melalui dua jalur utama yaitu melalui imprint dan misunderstanding. Definisi imprint adalah “A thought that has been registered at the subconscious level of the mind at a time of great emotion or stress, causing a change in behavior” atau imprint adalah apa yang terekam di pikiran bawah sadar saat terjadinya luapan emosi atau stres, mengakibatkan perubahan pada perilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misunderstanding adalah salah pengertian yang dialami seseorang saat memberikan makna kepada atau menarik simpulan dari suatu peristiwa atau pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik imprint maupun misunderstanding, setelah terekam di pikiran bawah sadar, akan menjadi program pikiran yang selanjutnya mengendalikan hidup seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang perlu kita mengerti yaitu bahwa semua, saya ulangi… semua, program pikiran adalah baik. Program pikiran selalu bertujuan membahagiakan kita. Program pikiran diciptakan atau tercipta demi kebaikan kita berdasarkan level kesadaran dan kebijaksanaan kita saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program pikiran menjadi mental block apabila bersifat menghambat kita dalam mencapai impian atau tujuan kita. Sebaliknya, program pikiran akan menjadi stepping block, batu lompatan, bila bersifat mendukung kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda jelas sekarang? Atau masih bingung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, saya kasih contoh ya biar lebih jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dari kasus klinis yang pernah saya tangani. Ada seorang wanita, sebut saja Rosa, cantik, ramah, cerdas, pintar cari uang, dan mandiri tapi sampai saat bertemu saya, usianya saat itu 35 tahun, masih jomblo alias single, belum dapat jodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa juga bingung mengapa ia sulit dapat jodoh. Ada banyak pria yang suka padanya. Namun setiap kali pacaran dan jika sudah masuk ke rencana untuk menikah, selalu muncul masalah sehingga hubungan mereka akhirnya putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dicari akar masalahnya, saya menemukan program pikiran, di pikiran bawah sadarnya, yang sangat baik namun justru bersifat menghambat dirinya untuk bisa dapat jodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata ayah Rosa meninggal saat ia masih kecil, usia tujuh tahun. Sejak saat itu ibunya yang bekerja keras menghidupi keluarga mereka. Bahkan pernah sampai jatuh sakit dan hampir meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saat ibunya sakit keras, Rosa berdoa dan mohon kesembuhan untuk ibunya. Dan dalam doanya ia berjanji bahwa ia akan membalas semua pengorbanan ibunya, setelah ia dewasa kelak, dengan selalu menyayangi dan mendampingi ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji ini ternyata masuk ke pikiran bawah sadarnya dan menjadi program. Benar, sejak saat itu dan hingga ia dewasa Rosa adalah anak yang begitu sayang pada ibunya. Selama ini program pikirannya telah sangat membantu Rosa dalam menjalani hidupnya. Rosa bekerja keras, menjadi anak yang sangat mencintai ibunya. Dan ibunya juga begitu bersyukur dan bahagia karena mempunyai anak yang begitu menyayanginya. Nah, program yang sangat positif ini tiba-tiba berubah menjadi program yang menghambat (baca: mental block) saat Rosa ingin berkeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ini menyabotase setiap upaya Rosa untuk mendapat pasangan hidup. Saat saya berdialog dengan “bagian” (baca: program) yang tidak setuju bila Rosa menikah, saya mendapat jawaban yang jelas dan lugas. Ternyata “bagian” ini khawatir Rosa tidak bisa menepati janjinya, menyayangi dan mendampingi ibunya karena bila menikah, menurut pemikiran “bagian” ini, Rosa harus mengikuti suaminya dan meninggalkan ibunya sendiri. “Bagian” ini tidak setuju dengan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Anda jelas sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beri satu contoh lagi biar lebih jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendapat email dari seorang pembaca buku, sebut saja Bu Asri, yang mengeluh bahwa ia telah berusaha keras untuk menaikkan penghasilannya namun selalu gagal. Setelah membaca buku The Secret of Mindset dan mendengarkan CD Ego State Therapy ia menemukan program pikiran yang menghambat dirinya, khususnya di aspek finansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dulu, saat akan menikah, ia mendapat wejangan dari ibunya, “Nak, ingat ya… nanti waktu menjadi seorang istri, cintai suamimu dengan tulus, baik di kala suka mapun duka, layani dengan sepenuh hati, tempatkan suami sebagai kepala rumah tangga, jaga perasaan dan harga diri suami, jangan melebihi suamimu….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca, wejangan (baca: program) ini tentu sangat baik. Namun menjadi masalah karena program ini justru menghambat upaya Bu Asri meningkatkan penghasilannya. Selidik punya selidik ternyata penghasilan Bu Asri saat ini sama dengan penghasilan suaminya. Makanya, saat ia berusaha menaikkan income-nya selalu saja ada hambatan. Program ini yang menghambat dan tujuannya juga sangat “positif” yaitu agar Bu Asri bisa menjadi istri yang baik sesuai wejangan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana, jelas sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu program, selama tidak bersifat menghambat diri kita maka jangan diotak-atik. Biarkan saja. Nggak usah bingung. Ada rekan yang, setelah membaca buku dan mengerti soal mental block, begitu giat mencari berbagai mental block-nya. Bahkan sampai mengeluh,”Pak, saya kok nggak menemukan mental block saya, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha, kalo memang nggak ada terus apa harus dipaksakan ada? Bukankah lebih baik bila waktu yang ada digunakan untuk belajar dan mengembangkan diri? Kekhawatiran karena tidak menemukan mental block justru bisa menjadi mental block baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana sikap yang benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, santai sajalah. Nggak usah aneh-aneh. Kita harus netral saja. Selama hidup kita happy, usaha lancar, semua berjalan seperti yang kita rencanakan dan harapkan maka nggak usah pusing soal mental block.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mental block akan kita rasakan saat ada penolakan atau hambatan untuk mencapai suatu target yang lebih tinggi. Penolakan ini juga timbul saat kita ingin berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini saya kutip email yang baru saya terima dari seorang pembaca buku saya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ingin lebih memahami dan membaca buku-buku Anda. Saya beli The Secret of Mindset. Saat baca ada aja perasaan yang membuat saya malas, ngantuk dsb. Padahal saya sungguh ingin membaca buku TSOM. Bagaimana solusinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan malas, mengantuk, dan berbagai perasaan lain yang menghambat upaya untuk berubah ini adalah ulah nakal dari mental block kita. Nah, ini saatnya kita perlu menemukan dan mengenali mental block ini. Setelah ditemukan… ya dibereskan. Gitu aja kok repot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, jika Anda telah menetapkan target yang lebih tinggi, dari apa yang telah Anda capai saat ini, dan Anda merasa ada yang tidak enak di hati Anda maka ini indikasi adanya mental block.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau jika Anda mengalami kegagalan yang beruntun atau yang mempunyai pola kegagalan yang sama, maka ini indikasi sabotase diri alias mental block.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mental block ini ada juga yang baik. Misalnya Anda telah berkeluarga. Dan ada kesempatan untuk selingkuh namun Anda tidak mau. Alasannya bisa macam-macam. Bisa takut dosa, takut masuk neraka, takut malu, takut ketahuan, bisa karena Anda tidak ingin melukai hati pasangan Anda, atau Anda setia pada janji pernikahan Anda, atau alasan apa pun. Yang pasti, ada satu program pikiran yang menghambat Anda melakukan sesuatu. Mental block ini tentunya perlu dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So… bersikaplah netral… jadilah orang yang Non-Block. Artinya Anda tidak neko-neko atau aneh-aneh. Cari mental block sesuai kebutuhan. Kalau sedikit-sedikit cari mental block … sedikit-sedikit cari mental block… maka saya khawatir Anda akan menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan resource yang Anda miliki untuk sesuatu yang tidak produktif. Kalau seperti ini…Anda masuk kategori Go-Block.[awg]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology,pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis dua belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “5 Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, dan The Secret of Mindset . Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com dan www.adi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-3452032770251776634?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/3452032770251776634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=3452032770251776634&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/3452032770251776634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/3452032770251776634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/mental-block.html' title='MENTAL BLOCK'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-4693218212087039453</id><published>2008-09-20T18:11:00.000-07:00</published><updated>2008-09-20T18:19:03.102-07:00</updated><title type='text'>PANDUAN PENULISAN FORMAT SKRIPSI</title><content type='html'>&lt;strong&gt;PANDUAN PENULISAN SKRIPSI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN &lt;br /&gt;a. Latar Belakang Permasalahan&lt;br /&gt;b. Rumusan Permasalahan&lt;br /&gt;c. Tujuan dan Kegunaan Penelitian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN &lt;br /&gt;a. Latar Belakang Permasalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Latar Belakang Permasalahan merupakan penjelasan fenomena yang diamati dan menarik perhatian peneliti dan bukan merupakan alasan pemilihan judul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Latar Belakang Penelitian apabila memungkinkan dapat didukung oleh data penunjang, yang dapat digali dari sumber utama dan/atau sumber kedua seperti Biro Pusat Statistik, hasil penelitian terdahulu, jurnal dan internet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Latar Belakang Penelitian memuat hasil penelitian terdahulu (dari jurnal) dengan menyebutkan sumber jurnal yang dipakai sebagai referensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Apabila perusahaan (sebagai sumber utama) belum menyajikan laporan keuangan, misalnya rasio keuangan (financial ratio), maka dalam Latar Belakang Penelitian disajikan minimal 3 periode atau tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Rumusan Permasalahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Rumusan permasalahan disajikan secara singkat dalam bentuk kalimat tanya, yang isinya mencerminkan adanya permasalahan yang perlu dipecahkan atau adanya permasalahan yang perlu untuk dijawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Rumusan permasalahan merupakan inti penelitian, sehingga bisa dipakai pertimbangan menyusun judul dan hipotesa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;c. Tujuan dan Kegunaan Penelitian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Tujuan penelitian merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh peneliti sebelum melakukan penelitian dan mengacu pada permasalahan. Berikut ini beberapa contoh cara pengungkapan tujuan penelitian yang umumnya diawali dengan kalimat tujuan penelitian adalah untuk …………. atau penelitian ini bertujuan untuk …………………dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Kegunaan Penelitian&lt;br /&gt;Kegunaan penelitian, menguraikan kontribusi yang diharapkan dari hasil penelitian itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;strong&gt;TINJAUAN PUSTAKA &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Kerangka Teori&lt;br /&gt;b. Hipotesis Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Kerangka Teori&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Kerangka teori sebaiknya menggunakan acuan yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti dan acuan-acuan yang berupa hasil penelitian terdahulu (bisa disajikan di Bab II atau dibuat sub-bab tersendiri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Cara penulisan dari subbab ke subbab yang lain harus tetap mempunyai keterkaitan yang jelas dengan memperhatikan aturan penulisan pustaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Penulisan nama pengarang dalam Endnotes atau Footnotes yang bersumber dari kepustakaan tidak perlu mencantumkan gelar akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Untuk memperoleh hasil penelitian yang baik, studi pustaka harus memenuhi prinsip kemutakhiran dan keterkaitannya dengan permasalahan yang ada. Apabila menggunakan literatur dengan beberapa edisi, maka yang digunakan adalah buku dengan edisi terbaru, jika referensi tidak terbit lagi, referensi tersebut adalah terbitan terakhir. Dan bagi yang menggunakan Jurnal sebagai referensi pembatasan tahun terbitan tidak berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Semakin banyak sumber bacaan, semakin baik, dengan jumlah minimal 10 (sepuluh) sumber, baik dari teks book atau sumber lain misalnya jurnal, artikel dari majalah, Koran, internet dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Pedoman kerangka teori di atas berlaku untuk semua jenis penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Dalam kerangka teori, peubah dicantumkan sebatas yang diteliti dan dapat dikutip dari dua atau lebih karya tulis/bacaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) Teori bukan merupakan pendapat pribadi (kecuali pendapat tersebut sudah ditulis di BUKU)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) Pada akhir kerangka teori bagi penelitian korelasional disajikan model teori, model konsep (apabila diperlukan) dan model hipotesis pada subbab tersendiri, sedangkan penelitian studi kasus cukup menyusun Model teori dan beri keterangan. Model teori dimaksud merupakan kerangka pemikiran penulis dalam penelitian yang sedang dilakukan. Kerangka itu dapat berupa kerangka dari ahli yang sudah ada, maupun kerangka yang berdasarkan teori-teori pendukung yang ada. Dari kerangka teori yang sudah disajikan dalam sebuah skema, harus dijabarkan jika dianggap perlu memberikan batasan-batasan, maka asumsi-asumsi harus dicantumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Hipotesis Penelitian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika penelitian bersifat korelasional maka:&lt;br /&gt;1) Hipotesis penelitian beraspek empiris disajikan pada akhir bab II dalam sub-sub tersendiri dengan memperhatikan teori pendukungnya, sedangkan hipotesis penelitian beraspek statistik disajikan dalam bab III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Apabila analisis data (akhir bab IV) direncanakan tidak untuk menganalisis data secara luas baik masalah utama (mayor) maupun bagian-bagiannya (minor) maka dalam hipotesis tidak perlu dicantumkan hipotesis mayor dan minor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Hipotesis harus berlandaskan teori, jika ingin mengubah harus mencantumkan alasan mengapa merubah teori tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. METODE PENELITIAN &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Jenis Penelitian&lt;br /&gt;b. Peubah dan Pengukuran&lt;br /&gt;c. Populasi dan Sampel&lt;br /&gt;d. Metode Pengumpulan Data&lt;br /&gt;e. Metode Analisis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Jenis Penelitian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian bisa bersifat kuantitaif maupun kualitatif, misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Historis;&lt;br /&gt;b) Deskriptif;&lt;br /&gt;c) Perkembangan;&lt;br /&gt;d) Kasus dan penelitian lapangan;&lt;br /&gt;e) Korelasional;&lt;br /&gt;f) Kausal komparatif;&lt;br /&gt;g) Eksperimen murni;&lt;br /&gt;h) Eksperimen semu;&lt;br /&gt;i) Kaji tindak.&lt;br /&gt;1) Pemilihan jenis penelitian dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Daya tarik permasalahan;&lt;br /&gt;b) Kesesuaian dengan kemampuan dan latar belakang pendidikan;&lt;br /&gt;c) Tersedianya alat dan kondisi kerja;&lt;br /&gt;d) Kesesuaian dengan kemampuan untuk mengumpulkan data yang diperlukan;&lt;br /&gt;e) Kesesuaian dengan waktu, tenaga dan biaya;&lt;br /&gt;f) Resiko kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Jenis penelitian dimaksud dapat dilacak dari judul, latar belakang permasalahan dan tujuan penelitian, sehingga dapat dijelaskan alasan penentuan jenis penelitian tertentu tanpa menyajikan definisi jenis penelitian itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Peubah dan Pengukuran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) “Peubah (Variable) merupakan suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya.” ( Sugiyono, 2003, 32)&lt;br /&gt;2) Peubah harus terukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. &lt;strong&gt;Populasi dan Sampel&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) “Populasi merupakan sekumpulan orang atau objek yang memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal dan yang membentuk masalah pokok dalam suatu riset khusus. Populasi yang akan diteliti harus didefinisikan dengan jelas sebelum penelitian dilakukan.” (Santoso &amp; Tjiptono, 2002, 79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) “ Sampel adalah semacam miniatur (mikrokosmos) dari populasinya” (Santoso &amp; Tjiptono, 2002, 80)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;d. Metode Pengumpulan Data&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Metode pengumpulan data misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) “Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telpon.&lt;br /&gt;2) Kuesioner (angket) dapat dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.&lt;br /&gt;3) Observasi merupakan suatu proses yang komplek , suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.” (Sugiyono, 2003, 130-141) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;e.  Metode Analisis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Metode analisis disesuaikan dengan Rumusan Permasalahan pada Bab I&lt;br /&gt;Jika metode analisis menggunakan regresi dengan Ordinary Least Square (OLS) Estimators, maka uji asumsi klasik harus dilakukan. Lihat buku "Ekonometrika Dasar" oleh Damodar Gujarati alih bahasa Sumarno Zain, 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. HASIL PENELITIAN DAN BAHASAN &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Penyajian Data&lt;br /&gt;Pada subbab ini dipaparkan data yang ada relevansinya dengan topik skripsi.&lt;br /&gt;b. Analisis Data dan Interpretasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. SIMPULAN DAN SARAN &lt;/strong&gt;a. Simpulan&lt;br /&gt;b. Saran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;a. Simpulan menjelaskan butir-butir temuan (hasil penelitian dan bahasan) yang disajikan secara singkat dan jelas.&lt;br /&gt;b. Saran-saran merupakan himbauan kepada instansi terkait maupun peneliti berikutnya yang berdasarkan pada hasil temuan. Saran sebaiknya selaras dengan topik penelitian&lt;br /&gt;Lampiran: memuat hal-hal atau informasi yang mendukung bab-bab sebelumnya, misalnya: data (hasil Questionaire, data time series), Laporan Keuangan perusahaan (Neraca, R/L dsb), informasi yang terkait dengan hasil (misal: olahan komputer, diskripsi , hasil uji validitas dan reliabilitas) dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam IDTESIS&lt;br /&gt;SANJAYA&lt;br /&gt;Mobile: 0817-9448-173&lt;br /&gt;email : idtesis@gmail.com&lt;br /&gt;YM : Sanjaya_jk&lt;br /&gt;situs : http://www.idtesis.com&lt;br /&gt;blog : http://www.idtesis.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-4693218212087039453?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/4693218212087039453/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=4693218212087039453&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/4693218212087039453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/4693218212087039453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/panduan-penulisan-format-skripsi.html' title='PANDUAN PENULISAN FORMAT SKRIPSI'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-4432905797946784067</id><published>2008-09-19T02:47:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T03:09:14.799-07:00</updated><title type='text'>KLASIFIKASI PENGGOLONGAN TES-TES PSIKOLOGI</title><content type='html'>Berdasarkan aspek mental dan psikologis yang diungkap, maka secara garis besar tes psikologis dibagi menjadi dua macam, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Mengungkap aspek kognitif (intelegensi&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes Binet &lt;br /&gt;Tes Wechsler (Wechsler Adult Intelligence Scale, Wechsler Intelligence Scale for Children, Wechsler Preschool and Primary Scale for Intelligence) &lt;br /&gt;Tes Raven (Standard Progressive Matrices, Coloured Progressive Matrices, Advanced Progressive Matrices) &lt;br /&gt;TIKI (Tes Intelegensi Kolektif Indonesia) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Mengungkap aspek kepribadian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Teknik non proyektif (obyektif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPPS (Edwards Personal Preference Schedule) &lt;br /&gt;MMPI (Minessota Multiphasic Personality Inventory) &lt;br /&gt;16 PF &lt;br /&gt;CAQ (Clinical Analysis Questionnaire) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Teknik proyektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAT (Thematic Apperception Test) &lt;br /&gt;Tes Grafis &lt;br /&gt;Tes Wartegg &lt;br /&gt;SSCT (Sack Sentence Completion Test) &lt;br /&gt;Tes Szhondi (sarana proyeksinya foto) &lt;br /&gt;Tes Rorschach (salah satu tes bercak tinta)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-4432905797946784067?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/4432905797946784067/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=4432905797946784067&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/4432905797946784067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/4432905797946784067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/klasifikasi-penggolongan-tes-tes.html' title='KLASIFIKASI PENGGOLONGAN TES-TES PSIKOLOGI'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-4792785688595522072</id><published>2008-09-18T01:13:00.001-07:00</published><updated>2008-09-18T18:37:56.243-07:00</updated><title type='text'>MENGENAL TES PROYEKTIF</title><content type='html'>&lt;strong&gt;PROJECTIVE APPROACHES &lt;/strong&gt;        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tes-tes kepribadian dengan pendekatan proyektif, klien berespon terhadap stimulus yang tidak terstruktur dan ambigu sehingga tanpa sadar klien mengungkap struktur dasar dan dinamika kepribadiannya. Beberapa teknik proyektif yang terkenal dan digunakan secara luas antara lain tes Rorschach, Thematic Apperception Test (TAT), Children’s Apperception Test (CAT), tes Draw-A-Person (DAP), tes Make-A-Picture Story (MAPS), Michigan Picture Story Test, dan Sentence Completion Test.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;THEMATIC APPERCEPTION TEST (TAT) &lt;/strong&gt;           &lt;br /&gt;Dalam tes ini, klien diminta membuat cerita dari beberapa kartu bergambar yang disajikan satu persatu. Klien dapat menulis sendiri ceritanya atau examiner yang menulis cerita klien. Tugas klien adalah menceritakan apa yang sedang terjadi saat ini, sebelumnya (situasi apa yang menimbulkan peristiwa saat ini), bagaimana pikiran dan perasaan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita, dan bagaimana akhir dari cerita yang dibuat klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Cerita yang dibuat klien dianggap memiliki implikasi terhadap konflik atau pun masalah yang dialami klien. Interpretasi klinis yang dilakukan terfokus pada dimensi-dimensi seperti bagaimana tokoh-tokoh berinteraksi, tingkat kehangatan atau konflik dari interaksi tokoh-tokoh, impian atau cita-cita tokoh, harapan tokoh terhadap diri dan lingkungannya, dan level kematangan secara umum yang diindikasikan dari bentuk cerita. Tema-tema dari TAT dapat menggambarkan fungsi kepribadian secara luas dan bermanfaat dalam mengidentifikasi sumber utama konflik sehingga dapat ditentukan intervensi terapeutik yang sesuai. Cerita TAT pada dasarnya menggambarkan lingkungan seperti apa yang klien lihat di sekitar dirinya dan orang-orang seperti apa yang ia rasakan tinggal bersamanya di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bentuk modifikasi dari TAT adalah CAT (Children’s Apperception Test), yang menyediakan gambar yang terfokus pada konflik, hubungan orang tua, permusuhan dengan saudara kandung, toilet training, dan situasi lain yang sering ditemui pada anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes lain yang mirip dengan TAT dan CAT adalah Michigan Picture Story Test (MPST), terdiri dari material yang menggambarkan anak-anak dalam hubungannya dengan orang tua, polisi, dan figur otoriter lainnya, juga teman-teman. Tes ini sangat bermanfaat dalam melihat struktur dari sikap anak-anak terhadap orang dewasa dan teman-teman sekaligus mengevaluasi masalah yang mungkin timbul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu ada juga tes Make-A-Picture Story (MAPS), yang memiliki kesamaan dengan MPST dalam hal tujuan dan potensi interpretasi yang dimiliki. Perbedaan MAPS dengan tes lain yaitu, pada MAPS klien diperbolehkan memilih karakter yang akan diletakkan pada latar belakang panggung yang kecil, untuk kemudian klien membuat cerita berdasarkan situasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;FIGURE DRAWING &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Beberapa pendekatan dalam mengevaluasi kepribadian dengan menggunakan gambar yang dibuat klien telah berkembang. Dalam hal ini, kemampuan menggambar bukanlah faktor utama. Salah satu bentuk tesnya adalah Draw-A-Person (DAP), dimana klien diminta untuk menggambar seorang lelaki dan perempuan menggunakan pensil dan kertas. Gambar orang dapat memberikan kesan pertama dengan segera, seperti sikap bermusuhan atau agresif, atau orang yang pasif dan submisif. Interpretasi juga didasarkan pada ukuran gambar, posisi, postur, apakah gambar orang terlihat percaya diri, ramah, dan sebagainya. Sebaiknya, dalam menginterpretasi DAP juga dikaitkan dengan temuan-temuan dari tes-tes lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;INCOMPLETE SENTENCE TEST &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Dalam metode proyektif ini, klien diberikan sejumlah kalimat yang belum selesai dan diminta untuk melengkapi kalimat sehingga menjadi kalimat yang memiliki arti. Kalimat-kalimat ini memiliki kecenderungan dalam aspek-aspek seperti preokupasi terhadap seksual, perasaan religius, hubungan dengan orang tua, teman, rasa takut, cemas, perasaan bersalah, sikap bermusuhan dan impuls agresi. Bentuk respon klien dapat memberikan insight ke dalam area konflik, termasuk juga kelebihan dan kekurangan dari kepribadian klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;COMPETENCY SCREENING TEST &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Psikolog terkadang dipanggil ke pengadilan untuk mengevaluasi status mental atau inteligensi seseorang untuk membantu pengadilan terkait dengan kasus orang tersebut. Untuk keperluan inilah Competency Screening Test dikembangkan. Tes ini dilakukan dengan cara melengkapi 22 kalimat, dimana setiap kalimat terkait dengan aspek peran terdakwa dalam pengadilan kriminal. Setiap item diskor 0, 1 atau 2 secara manual. Terdakwa yang mendapatkan skor 21 ke atas telah terbukti kompeten dalam pengadilan dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Tes ini membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;RORSCHACH TEST &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Metode proyektif yang paling dikenal dan digunakan secara luas dalam melihat kepribadian seseorang adalah tes Rorschach. Dalam tes ini, klien diperlihatkan sepuluh kartu dengan bentuk ambigu hasil dari cipratan tinta yang hampir simetris. Lima kartu berwarna hitam, putih dan abu-abu yang berbayang, sedangkan lima kartu lainnya memiliki warna. Kebanyakan ahli setuju bahwa tes Rorschach ini merupakan teknik psikodiagnostik yang signifikan dan sensitif. Tes ini mengevaluasi emosi-emosi yang dialami klien dalam hidupnya, tingkat intelektual dan membantu menjelaskan komponen-komponen kepribadian seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Ada tiga kategori penting dalam memberikan skor pada tes ini, yaitu lokasi yang menunjukkan pada bagian mana respon dilihat oleh klien dalam kartu, determinan yang menunjukkan bagaimana respon tersebut dilihat, dan konten yang menunjukkan apa yang dilihat klien dalam kartu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Para psikolog ahli yang sudah berpengalaman dalam tes ini, menemukan bahwa respon yang diberikan klien, baik anak-anak maupun dewasa, mengindikasikan beberapa tipe dari gangguan kepribadian dengan karakteristik respon tertentu. Misalnya pada gangguan psikotik dan skizofrenia lainnya, ditemukan bahwa respon yang diberikan seringkali ganjil dan aneh, kualitas bentuk biasanya lemah, dan ada ketidaksesuaian antara yang dilihat klien dengan stimulus sebenarnya dalam kartu. Klien-klien ini biasanya memfokuskan seluruh perhatian mereka pada detail-detail sementara komponen-komponen utama diabaikan. Terkadang mereka juga terlalu melibatkan emosi mereka pada kartu-kartu dan mempersonalisasikan persepsi mereka dalam cara tertentu sehingga mereka tidak mampu membedakan antara diri mereka dan kartu Rorschach.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dalam beberapa kasus diagnostik dimana terdapat gangguan psikologis seperti gangguan pikiran yang signifikan, penggunaan tes Rorschach sangat disarankan. Tidaklah sulit dalam mengadministrasi maupun menskor tes ini, namun dalam menginterpretasi dibutuhkan psikolog yang handal dan berpengalaman.&lt;br /&gt;© 2006 All Rights Reserved.&lt;br /&gt;Want your own free website like this? Try Freewebs.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-4792785688595522072?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/4792785688595522072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=4792785688595522072&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/4792785688595522072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/4792785688595522072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/mengenal-tes-proyektif.html' title='MENGENAL TES PROYEKTIF'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-1413934382524648194</id><published>2008-09-18T01:13:00.000-07:00</published><updated>2008-09-18T01:16:14.342-07:00</updated><title type='text'>sistem pertahanan ego yang wajib di ketahui</title><content type='html'>Mekanisme pertahanan ego, yang sering disebut sebagai mekanisme pertahanan mental. Adapun mekanisme pertahanan ego adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kompensasi&lt;br /&gt;Proses dimana seseorang memperbaiki penurunan citra diri dengan secara tegas menonjolkan keistimewaan/kelebihan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Penyangkalan (denial)&lt;br /&gt;Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas tersebut. Mekanisme pertahanan ini adalah paling sederhana dan primitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Pemindahan (displacement)&lt;br /&gt;Pengalihan emosi yang semula ditujukan pada seseorang/benda lain yang biasanya netral atau lebih sedikit mengancam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Disosiasi&lt;br /&gt;Pemisahan suatu kelompok proses mental atau perilaku dari kesadaran atau identitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Identifikasi (identification)&lt;br /&gt;Proses dimana seseorang untuk menjadi seseorang yang ia kagumi berupaya dengan mengambil/menirukan pikiran-pikiran, perilaku dan selera orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Intelektualisasi (intelectualization)&lt;br /&gt;Pengguna logika dan alasan yang berlebihan untuk menghindari pengalaman yang mengganggu perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Introjeksi (Introjection)&lt;br /&gt;Suatu jenis identifikasi yang kuat dimana seseorang mengambil dan melebur nilai-nilai dan kualitas seseorang atau suatu kelompok ke dalam struktur egonya sendiri, merupakan hati nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Isolasi&lt;br /&gt;Pemisahan unsur emosional dari suatu pikiran yang mengganggu dapat bersifat sementara atau berjangka lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Proyeksi&lt;br /&gt;Pengalihan buah pikiran atau impuls pada diri sendiri kepada orang lain terutama keinginan, perasaan emosional dan motivasi yang tidak dapat ditoleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.Rasionalisasi&lt;br /&gt;Mengemukakan penjelasan yang tampak logis dan dapat diterima masyarakat untuk menghalalkan/membenarkan impuls, perasaan, perilaku, dan motif yang tidak dapat diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Reaksi formasi&lt;br /&gt;Pengembangan sikap dan pola perilaku yang ia sadari, yang bertentangan dengan apa yang sebenarnya ia rasakan atau ingin lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Regresi&lt;br /&gt;Kemunduran akibat stres terhadap perilaku dan merupakan ciri khas dari suatu taraf perkembangan yang lebih dini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Represi&lt;br /&gt;Pengesampingan secara tidak sadar tentang pikiran, impuls atau ingatan yang menyakitkan atau bertentangan, dari kesadaran seseorang; merupakan pertahanan ego yang primer yang cenderung diperkuat oleh mekanisme lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Pemisahan (splitting)&lt;br /&gt;Sikap mengelompokkan orang / keadaan hanya sebagai semuanya baik atau semuanya buruk; kegagalan untuk memadukan nilai-nilai positif dan negatif di dalam diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Sublimasi&lt;br /&gt;Penerimaan suatu sasaran pengganti yang mulia artinya dimata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami halangan dalam penyalurannya secara normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Supresi&lt;br /&gt;Suatu proses yang digolongkan sebagai mekanisme pertahanan tetapi sebetulnya merupakan analog represi yang disadari; pengesampingan yang disengaja tentang suatu bahan dari kesadaran seseorang; kadang-kadang dapat mengarah pada represi yang berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Undoing&lt;br /&gt;Tindakan/ perilaku atau komunikasi yang menghapuskan sebagian dari tindakan/ perilaku atau komunikasi sebelumnya; merupakan mekanisme pertahanan primitif.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-1413934382524648194?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/1413934382524648194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=1413934382524648194&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/1413934382524648194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/1413934382524648194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/sistem-pertahanan-ego-yang-wajib-di.html' title='sistem pertahanan ego yang wajib di ketahui'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-7670185245471632285</id><published>2008-09-07T08:35:00.000-07:00</published><updated>2008-09-07T08:36:33.206-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-7670185245471632285?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/7670185245471632285/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=7670185245471632285&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/7670185245471632285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/7670185245471632285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/budi-mink-cara-bikin-blogspot.html' title=''/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-4891872483247561619</id><published>2008-09-06T03:54:00.000-07:00</published><updated>2008-09-06T03:58:25.253-07:00</updated><title type='text'>mengenal teori frued</title><content type='html'>Oleh: Dra Kusmawati Hatta,M.Pd[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sigmund Freud is a prominent figure who is very creative and productive in writing his works. One of his famous works is the theory about Psychoanalysis. In this theory, Freud states several key concepts: 1) Perception about human behaviour. Freud states that human behaviour is determined by the irrational power which is not aware of biological motivation and  motivation of certain psychological sexual instinct at the first six years of life; 2) the structure of human personality consists of idea, ego and superego; 3) consciousness and unconsciousness; 4) worries; 5) mechanism how to defend ego; and 6) the development of individuality. This article tries to look at the six key concepts above and its application to counseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Riwayat hidup Sigmund Freud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigmund Freud yang terkenal dengan Teori Psikoanalisis dilahirkan di Morovia, pada tanggal 6 Mei 1856 dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939. Gerald Corey dalam “Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy” menjelaskan bahwa Sigmund Freud adalah anak sulung dari keluarga Viena yang terdiri dari tiga laki-laki dan lima orang wanita. Dalam hidupnya ia ditempa oleh seorang ayah yang sangat otoriter dan dengan uang yang sangat terbatas, sehingga keluarganya terpaksa hidup berdesakan di sebuah aparterment yang sempit, namun demikian orang tuanya tetap berusaha untuk memberikan motivasi terhadap kapasitas intelektual yang tampak jelas dimiliki oleh anak-anaknya.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebahagian besar hidup Freud diabdikan untuk memformulasikan dan mengembangkan tentang teori psikoanalisisnya. Uniknya, saat ia sedang mengalami problema emosional yang sangat berat adalah saat kreativitasnya muncul.  Pada umur paruh pertama empat puluhan ia banyak mengalami bermacam psikomatik, juga rasa nyeri akan datangnya maut dan fobi-fobi lain. Dengan mengeksplorasi makna mimpi-mimpinya sendiri ia mendapat pemahaman tentang dinamika perkembangan kepribadian seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigmund Freud dikenal juga sebagai tokoh yang kreatif dan produktif. Ia sering menghabiskan waktunya 18 jam sehari untuk menulis karya-karyanya, dan karya tersebut terkumpul sampai 24 jilid. Bahkan ia tetap produktif pada usia senja. Karena karya dan produktifitasnya itu, Freud dikenal bukan hanya sebagai pencetus psikoanalisis yang mencuatkan namanya sebagai intelektual, tapi juga telah meletakkan teknik baru untuk bisa memahami perilaku manusia. Hasil usahanya itu adalah sebuah teori kepribadian dan psikoterapi yang sangat komprehenshif dibandingkan dengan teori serupa yang pernah dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikoanalisa dianggap sebagai salah satu gerakan revolusioner di bidang psikologi yang dimulai dari satu metode penyembuhan penderita sakit mental, hingga menjelma menjadi sebuah konsepsi baru tentang manusia. Hipotesis pokok psikoanalisa menyatakan bahwa tingkah laku manusia sebahagian besar ditentukan oleh motif-motif tak sadar, sehingga Freud dijuluki sebagai bapak penjelajah dan pembuat peta ketidaksadaran manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima karya Freud yang sangat terkenal dari beberapa karyanya adalah: (1) The Interpretation of dreams (1900), (2) The Psichopathology of Everiday Life (1901), (3) General Introductory Lectures on Psichoanalysis (1917), (4) New Introductory Lectures on Psichoanalysis (1933) dan (5) An Outline of Psichoanalysis (1940).[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan pada masa itu, Sigmund Freud belum seberapa populer. Menurut A. Supratika, nama Freud baru dikenal pertama kalinya dalam kalangan psikologi akademis pada tahun 1909, ketika ia diundang oleh G. Stanley Hall, seorang sarjana psikologi Amerika, untuk memberikan serangkaian kuliah di universitas Clark di Worcester, Massachusetts. Pengaruh Freud di lingkungan psikologi baru terasa sekitar tahun 1930-an. Akan tetapi  Asosiasi Psikoanalisis Internasional sudah terbentuk tahun 1910, begitu juga  dengan lembaga pendidikan psikoanalisis sudah didirikan di banyak negara.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi tentang sifat manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sigmund Freud, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa aliran teori Freud tentang sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik. Namun demikian menurut Gerald Corey yang mengutip perkataan Kovel, bahwa dengan tertumpu pada dialektika antara sadar dan tidak sadar, determinisme yang telah dinyatakan pada aliran Freud luluh. Lebih jauh Kovel menyatakan bahwa jalan pikiran itu adalah ditentukan, tetapi tidak linier. Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku seseorang itu lebih rumit dari pada apa yang dibayangkan pada orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, Freud memberikan indikasi bahwa tantangan terbesar yang dihadapi manusia adalah bagaimana mengendalikan dorongan agresif itu. Bagi Sigmund Freud, rasa resah dan cemas seseorang itu ada hubungannya dengan kenyataan bahwa mereka tahu umat manusia itu akan punah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur Kepribadian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari  id, ego dan superego. Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”. Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerald Corey menyatakan dalam perspektif aliran Freud ortodoks, manusia dilihat sebagai sistem energi, dimana dinamika kepribadian itu terdiri dari cara-cara untuk mendistribusikan energi psikis kepada id, ego dan super ego, tetapi energi tersebut terbatas, maka satu diantara tiga sistem itu memegang kontrol atas energi yang ada, dengan mengorbankan dua sistem lainnya, jadi kepribadian manusia itu sangat ditentukan oleh energi psikis yang menggerakkan.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Calvil S. Hall dan Lindzey, dalam psikodinamika masing-masing bagian dari kepribadian total mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja dinamika dan mekanisme tersendiri, namun semuanya berinteraksi begitu erat satu sama lainnya, sehingga tidak mungkin dipisahkan. Id bagian tertua dari aparatur mental dan merupakan komponen terpenting sepanjang hidup. Id dan instink-instink lainnya mencerminkan tujuan sejati kehidupan organisme individual. Jadi id merupakan pihak dominan dalam kemitraan struktur kepribadian manusia.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut S. Hall dan Lindzey, dalam Sumadi Suryabarata, cara kerja masing-masing struktur dalam pembentukan kepribadian adalah: (1) apabila rasa id-nya menguasai sebahagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak primitif, implusif dan agresif dan ia akan mengubar impuls-impuls primitifnya, (2) apabila rasa ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya bertindak dengan cara-cara yang realistik, logis, dan rasional, dan (3) apabila rasa super ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak pada hal-hal yang bersifat moralitas, mengejar hal-hal yang sempurna yang kadang-kadang irrasional.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi untuk lebih jelasnya sistem kerja ketiga struktur kepribadian manusia tersebut adalah: Pertama, Id merupakan sistem kepribadian yang orisinil, dimana ketika manusia itu dilahirkan ia hanya memiliki Id saja, karena ia merupakan sumber utama dari energi psikis dan tempat timbulnya instink. Id tidak memiliki organisasi, buta, dan banyak tuntutan dengan selalu memaksakan kehendaknya. Seperti yang ditegaskan oleh A. Supratika, bahwa aktivitas Id dikendalikan oleh prinsip kenikmatan dan proses primer.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Ego mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada di luar dirinya. Di sini ego berperan sebagai “eksekutif” yang memerintah, mengatur dan mengendalikan kepribadian, sehingga prosesnya persis seperti “polisi lalulintas” yang selalu mengontrol jalannya id, super- ego dan dunia luar. Ia bertindak sebagai penengah antara instink dengan dunia di sekelilingnya. Ego ini muncul disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan dari suatu organisme, seperti manusia lapar butuh makan. Jadi lapar adalah kerja Id dan yang memutuskan untuk mencari dan mendapatkan serta melaksanakan itu adalah kerja ego. Sedangkan yang ketiga, superego adalah yang memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, boleh-tidak dan sebagainya. Di sini superego bertindak sebagai  sesuatu yang ideal,  yang sesuai dengan norma-norma moral masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran dan ketidaksadaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman tentang kesadaran dan ketidaksadaran manusia merupakan salah satu sumbangan terbesar dari pemikiran Freud. Menurutnya, kunci untuk memahami perilaku dan problema kepribadian bermula dari hal tersebut. Ketidakasadaran itu tidak dapat dikaji langsung, karena perilaku yang muncul itu merupakan konsekuensi logisnya. Menurut Gerald Corey, bukti klinis untuk membenarkan alam ketidaksadaran manusia dapat dilihat dari hal-hal berikut, seperti: (1) mimpi; hal ini merupakan pantulan dari kebutuhan, keinginan dan konflik yang terjadi dalam diri, (2) salah ucap sesuatu; misalnya nama yang sudah dikenal sebelumnya, (3) sugesti pasca hipnotik, (4) materi yang berasal dari teknik asosiasi bebas, dan (5) materi yang berasal dari teknik proyeksi, serta isi simbolik dari simptom psikotik.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kesadaran itu merupakan suatu bagian terkecil atau tipis dari keseluruhan pikiran manusia. Hal ini dapat diibaratkan seperti gunung es yang ada di bawah permukaan laut, dimana bongkahan es itu lebih besar di dalam ketimbang yang terlihat di permukaan. Demikianlah juga halnya dengan kepribadian manusia, semua pengalaman dan memori yang tertekan akan dihimpun dalam alam ketidaksadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian yang tidak kalah penting dari teori Freud adalah tentang kecemasan. Gerald Corey mengartikan kecemasan itu adalah sebagai suatu keadaan tegang yang memaksa kita untuk berbuat sesuatu. Kecemasan ini menurutnya berkembang dari konflik antara sistem id, ego dan superego tentang sistem kontrol atas energi psikis yang ada. Fungsinya adalah mengingatkan adanya bahaya yang datang.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Calvin S. Hall dan Lindzey, kecemasan itu ada tiga: kecemasan realita, neurotik dan moral. (1) kecemasan realita adalah rasa takut akan bahaya yang datang dari dunia luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat tergantung kepada ancaman nyata. (2) kecemasan neurotik adalah rasa takut kalau-kalau instink akan keluar jalur dan menyebabkan sesorang berbuat  sesuatu yang dapat mebuatnya terhukum, dan (3) kecemasan moral adalah rasa takut terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme pertahanan ego&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghadapi tekanan kecemasan yang berlebihan, sistem ego terpaksa mengambil tindakan ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Tindakan yang demikian itu, disebut mekanisme pertahanan, sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan ego terhadap tekanan kecemasan. Dalam teori Freud, bentuk-bentuk mekanisme pertahanan yang penting adalah: (1) represi; ini merupakan sarana pertahanan yang bisa mengusir pikiran serta perasaan yang menyakitkan dan mengancam keluar dari kesadaran, (2) memungkiri; ini adalah cara mengacaukan apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dilihat seseorang dalam situasi traumatik, (3) pembentukan reaksi; ini adalah menukar suatu impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan melawannya dalam kesadaran, (4) proyeksi; ini berarti memantulkan sesuatu yang sebenarnya terdapat dalam diri kita sendiri ke dunia luar, (5) penggeseran; merupakan suatu cara untuk menangani kecemasan dengan menyalurkan perasaan atau impuls dengan jalan menggeser dari objek yang mengancam ke “sasaran yang lebih aman”, (6) rasionalisasi; ini cara beberapa orang menciptakan alasan yang “masuk akal” untuk menjelaskan disingkirnya ego yang babak belur, (7) sublimasi; ini suatu cara untuk mengalihkan energi seksual kesaluran lain, yang secara sosial umumnya bisa diterima, bahkan ada yang dikagumi, (8) regresi; yaitu berbalik kembali kepada prilaku yang dulu pernah mereka alami, (9) introjeksi; yaitu mekanisme untuk mengundang serta “menelaah” sistem nilai atau standar orang lain, (10) identifikasi, (11) konpensasi, dan (12) ritual dan penghapusan.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan kepribadian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun (dalam A.Supratika), yaitu: (1) tahap oral, (2) tahap anal: 1-3 tahun, (3) tahap palus: 3-6 tahun, (4) tahap laten: 6-12 tahun, (5) tahap genetal: 12-18 tahun, (6) tahap dewasa, yang terbagi dewasa awal, usia setengah baya dan usia senja.[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi Teori Sigmund Freud Dalam Bimbingan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila menyimak konsep kunci dari teori kepribadian Sigmund Freud, maka ada beberapa teorinya yang dapat aplikasikan dalam bimbingan, yaitu:  Pertama, konsep kunci bahwa ”manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dan keinginan”.  Konsep ini dapat dikembangkan dalam proses bimbingan, dengan melihat hakikatnya manusia itu memiliki kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan dasar. Dengan demikian konselor dalam memberikan bimbingan harus selalu berpedoman kepada apa yang dibutuhkan dan yang diinginkan oleh konseli, sehingga bimbingan yang dilakukan benar-benar efektif. Hal ini sesuai dengan fungsi bimbingan itu sendiri. Mortensen (dalam Yusuf Gunawan) membagi fungsi bimbingan kepada tiga yaitu: (1) memahami individu (understanding-individu), (2) preventif dan pengembangan individual, dan (3) membantu individu untuk menyempurnakannya.[13]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami individu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru dan pembimbing dapat memberikan bantuan yang efektif jika mereka dapat memahami dan mengerti persoalan, sifat, kebutuhan, minat, dan kemampuan anak didiknya. Karena itu bimbingan yang efektif menuntut secara mutlak pemahaman diri anak secara keseluruhan. Karena tujuan bimbingan dan pendidikan dapat dicapai jika programnya didasarkan atas pemahaman diri anak didiknya. Sebaliknya bimbingan tidak dapat berfungsi efektif jika konselor kurang pengetahuan dan pengertian mengenai motif dan tingkah laku konseli, sehingga usaha preventif dan treatment tidak dapat berhasil baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Preventif dan pengembangan individual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Preventif dan pengembangan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Preventif berusaha mencegah kemorosotan perkembangan anak dan minimal dapat memelihara apa yang telah dicapai dalam perkembangan anak melalui pemberian pengaruh-pengaruh yang positif, memberikan bantuan untuk mengembangkan sikap dan pola perilaku yang dapat membantu setiap individu untuk mengembangkan dirinya secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membantu individu untuk menyempurnakan. Setiap manusia pada saat tertentu membutuhkan pertolongan dalam menghadapi situasi lingkungannya. Pertolongan setiap individu tidak sama. Perbedaan umumnya lebih pada tingkatannya dari pada macamnya, jadi sangat tergantung apa yang menjadi kebutuhan dan potensi yang ia meliki. Bimbingan dapat memberikan pertolongan pada anak untuk mengadakan pilihan yang sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi  dalam konsep yang lebih luas, dapat dikatakan bahwa teori Freud dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan proses bantuan kepada konseli, sehingga metode dan materi  yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, konsep kunci tentang “kecemasan” yang dimiliki manusia dapat digunakan sebagai wahana pencapaian tujuan bimbingan, yakni membantu individu  supaya mengerti dirinya dan lingkungannya; mampu memilih, memutuskan dan merencanakan hidup secara bijaksana; mampu mengembangkan kemampuan dan kesanggupan, memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya; mampu mengelola aktivitasnya sehari-hari dengan baik dan bijaksana; mampu memahami dan bertindak sesuai dengan norma agama, sosial dalam masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian kecemasan yang dirasakan akibat ketidakmampuannya dapat diatasi dengan baik dan bijaksana. Karena menurut Freud setiap manusia akan selalu hidup dalam kecemasan, kecemasan karena manusia akan punah, kecemasan karena tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan dan banyak lagi kecemasan-kecemasan lain yang dialami manusia, jadi untuk itu maka bimbingan  ini dapat merupakan wadah dalam rangka mengatasi kecemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, konsep psikolanalisis yang menekankan pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan manusia. Walaupun banyak para ahli yang mengkritik, namun dalam beberapa hal konsep ini sesuai dengan konsep pembinaan dini bagi anak-anak dalam pembentukan moral individual. Dalam sistem pemebinaan akhlak individual, Islam menganjurkan agar keluarga dapat melatih dan membiasakan anak-anaknya agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan norma agama dan sosial. Norma-norma ini tidak bisa datang sendiri, akan tetapi melalui proses interaksi yang panjang dari dalam lingkungannya. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini sebuah hadis Nabi menyatakan bahwa “Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang ikut mewarnainya sampai dewasa.” Selain itu seorang penyair menyatakan bahwa “Tumbuhnya generasi muda kita seperti yang dibiasakan oleh ayah-ibunya”.[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis dan syair tersebut di atas sejalan dengan konsep Freud tentang kepribadian manusia yang disimpulkannya sangat tergantung pada apa yang diterimanya ketika ia masih kecil. Namun tentu saja terdapat sisi-sisi yang tidak begitu dapat diaplikasikan, karena pada hakikatnya manusia itu juga bersifat baharu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, teori Freud tentang “tahapan perkembangan kepribadian individu” dapat digunakan dalam proses bimbingan, baik sebagai materi maupun pendekatan. Konsep ini memberi arti bahwa materi, metode dan pola bimbingan harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kepribadian individu, karena pada setiap tahapan itu memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Oleh karena itu konselor yang melakukan bimbingan haruslah selalu melihat tahapan-tahapan perkembangan ini, bila ingin bimbingannya menjadi efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, konsep Freud tentang “ketidaksadaran” dapat digunakan dalam proses  bimbingan yang dilakukan pada individu dengan harapan dapat mengurangi impuls-impuls dorongan Id yang bersifat irrasional  sehingga berubah menjadi rasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Peneliti Aceh Institute, staf pengajar pada IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Gerald Corey, Theory and Practice of Counseling and Psichotherapy,(terjemahan Mulyarto),IKIP Semarang Press, Semarang 1995 hal 138.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Calvia S. Hall dan Gardner Lindzey, terjemahan Yustinus tahun 1995 hl 63.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Theories of Personality ( terjemahan A. Supratika), penerbit Kanisius, Yogyakarta, tahun 1993 hal.51.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Ibid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Op Cit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Sumadi Suryabarata, Psikologi Kepribadian, UGM Yokyakarta 1982:170.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] A. Supratika, Pokok dan Tokoh Psikologi Modern, IKIP Yokyakarta, tahun 1984 hal.52.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Gerald Corey, Op Cit: hal. 142.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Ibid, hal. 143&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Gerald Corey, Op Cit,  hal 145-147.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] A. Supratika, Op Cit, hal. 56.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Yusuf Gunawan, Pengantar Bimbingan dan Konseling: buku panduan mahasiswa, PT Prehalindo Jakarta, tahun 2001 hlm 42-46&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14]. Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh, Psikologi Anak dan Remaja Muslim, Pustaka Al- Kautsar, Tahun 2001 hal. 91&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber http://www.acehinstitute.org/opini_kusmawati_soal_sigmund_freud.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-4891872483247561619?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/4891872483247561619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=4891872483247561619&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/4891872483247561619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/4891872483247561619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/mengenal-teori-frued.html' title='mengenal teori frued'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-1635755152822583452</id><published>2008-09-06T03:14:00.000-07:00</published><updated>2008-09-06T03:15:56.185-07:00</updated><title type='text'>PRIA BERWAJAH LEBAR CENDRUNG AGRESIF</title><content type='html'>SIFAT agresif seseorang mungkin dapat diukur dari lebar wajahnya. Berdasarkan penelitian terbaru, sejumlah peneliti di Kanada menyimpulkan bahwa pria yang berwajah lebar ternyata lebih agresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian dilakukan terhadap sejumlah foto pemain hoki tingkat universitas dan profesional. Masing-masing diukur lebar dan panjang wajahnya. Kemudian, mereka membandingkan jumlah penalti yang dilakukan oleh pemain yang berwajah lebar dan yang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, pemain berwajah lebar cenderung lebih banyak melakukan penalti. Dari sini, mereka menyimpulkan bahwa semakin lebar wajah seseorang, ia juga semakin agresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anda dapat menunjukkan sifat agresivitas pada permainan hoki. Inilah kelebihan permainan ini. Anda tidak akan dipenjara karena menghajar pemain lain dengan menggunakan sikut," kata Justin Carre, seorang peneliti syaraf di Universitas Brock di St. Catharines, Canada. Sebelumnya, Carre juga pernah bermain hoki di NCAA, dan merupakan seorang asisten pelatih untuk tim hoki di kampusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi hasil penelitian ini, Cheryl McCormick, seorang peneliti syaraf di Universitas Brock mengaku terkejut. Ia mengatakan tak pernah berpikir bahwa pengukuran wajah yang sederhana ini dapat memperkirakan tingkat agresivitas pria pada kehidupan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan ini mungkin dapat digunakan untuk mempeljari lebih lanjut perubahan bentuk wajah terakit proses evolusi untuk mengisyaratkan tingkat agresivitas kepada orang lain. Secara umum, pria memang memiliki wajah yang lebih lebar dibandingkan wanita. Perbedaan ini muncul ketika masa pubertas ketika hormon testosteron pria meningkat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-1635755152822583452?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/1635755152822583452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=1635755152822583452&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/1635755152822583452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/1635755152822583452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/pria-berwajah-lebar-cendrung-agresif.html' title='PRIA BERWAJAH LEBAR CENDRUNG AGRESIF'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-8178996171575475595</id><published>2008-09-03T19:52:00.001-07:00</published><updated>2008-09-03T19:53:56.864-07:00</updated><title type='text'>humor dalam psikologi</title><content type='html'>Humor Dalam Bingkai Psikologi&lt;br /&gt;Kategori Kesehatan&lt;br /&gt;Oleh : RR. Ardiningtiyas Pitaloka, M.Psi.&lt;br /&gt;Jakarta, 4/24/2008 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pasti akan terbahak kalau pada tulisan ini saya mendefinisikan apa itu humor. Seperti kekurangan ide aja, mendefinisikan humor sementara hampir setiap detik kita tertawa mendengar gelitik canda dalam bus kota, kereta, mobil, ketika menonton televisi, bermain game komputer, membaca buku, singkatnya di manapun berada kita bisa guyon, humor, bahkan dalam alam pikir kita sendiri. Alam pikir? Ya, buktinya ketika tak ada seorang pun yang melontarkan cerita atau celetukan lucu, tetap saja terjadi seseorang tiba-tiba tersenyum bahkan terkikik sendiri. Artinya kita bisa menciptakan kelucuan dari sekitar dengan atau tanpa orang lain. &lt;br /&gt;Lalu, apa itu lelucon, apa itu lucu? Ini tidak sekedar melucu, karena tidak sedikit penelitian psikologi yang menyelidiki humor, termasuk manfaatnya dalam dunia psikologi praktis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi tentang Humor&lt;br /&gt;Humor is a social instrument that provides an effective way to reduce psychological distress, communicate a range of feelings and ideas, and enhance relationships; also, humor protects social relationships when communicating negative information. (Baldwin,2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humor provides a means to communicate ideas and feelings, convey criticism, and express hostility in a socially acceptable manner (Brownell &amp; Gardner, 1988; Dixon, 1980; Haig, 1986; Martin, 2001 in Baldwin 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan mentertawakan kondisi sekitar, diri sendiri, pilihan sendiri, menjadi salah satu katup yang akan melancarkan kembali kemampatan hidup. Pernah tidak anda mengalami kejadian seperti ini; anda ingin membeli sebuah pesawat televisi, sepertinya begitu sederhana, namun ternyata pilihan yang hadir sangat beragam, tidak hanya itu, anda pun harus menyesuaikan dengan lembaran yang tersedia dalam kantong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda melakukan studi produk dengan membaca informasi dari koran, internet, diskusi dengan teman, kakak, juga orangtua. Lalu, anda mulai melakukan survey ke pusat elektronik terlengkap di kota anda, dijamin deh sesampai di sana anda bisa terbius oleh jajaran pesawat televisi beraneka rupa, ditambah rayuan orang-orang yang seakan tak pernah lelah mengobral keunggulan tiap produk dagangannya. Anda bisa terbius dan akhirnya menunjuk satu kotak ajaib itu, atau perputaran bintang di kepala mendorong anda untuk pulang tanpa satu kotak pilihan pun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin anda memilih yang ke dua, karena anda termasuk orang yang tidak mau membeli sesuatu dalam kondisi 'tak sadar diri'. Sehari kemudian, ketika anda sedang berjalan ke arah mesin ATM dekat kompleks rumah, tiba-tiba mata anda tertuju pada satu toko kecil di samping ATM, toko elektronika. Anda pun memasuki toko itu dan melihat beberapa televisi yang tidak menyala dengan gemerlap seperti di beberapa pusat elektronika megah yang kemarin anda kunjungi. Namun, tidak sampai lima belas menit, anda sudah mengulurkan lembaran uang sebagai transaksi diiringi senyum puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah sukses ini akan mendapat sambutan riuh sahabat anda, "Huu! jauh-jauh kutemani ke pusat elektronika, belinya di samping rumah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang tidak tertawa, atau terguling-guling sakit perut, mungkin kita perlu melihat juga reaksi apa yang terjadi dalam diri sewaktu mengkonsumsi humor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi Kognitif &amp; Afektif&lt;br /&gt;Apresiasi terhadap humor tidak murni merupakan kerja kognitif tetapi diperlukan juga keterlibatan proses afektif di dalamnya. Elemen kognitif di sini mengacu pada pemahaman humor dengan kemampuan mengenali atau mendeteksi disparitas antara materi humor dan pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya (humor comprehensive). Pada sisi lain, elemen afeksi mengacu pada pengalaman menyenangkan (respons emosional) terhadap materi humor tersebut (humor appreciation) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar lelucon, pacuan denyut jantung kita meningkat, kulit tubuh pun bereaksi, disusul segera oleh reaksi afektif yang positif dan kuat (Goldstein, Harman, McGhee, &amp; Karasik, 1975; Katz, 1993; McGhee, 1983 dalam Berry 2004). Inilah yang menjelaskan mengapa badan kita terguncang-guncang, muka memerah, nafas terengah dan telapak tangan memegangi perut ketika mendengar cerita lucu. Semua merupakan kerjasama rapi dan detil dari reaksi kognitif mengenali lelucon yang menjelma dalam reaksi fisik, disertai afeksi menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menertawakan Lelucon&lt;br /&gt;Apa yang membuat satu kejadian mampu memancing tawa pada sekelompok orang namun tidak sama sekali pada orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi menunjukkan kemampuan membedakan antara lucu dan tidak lucunya stimuli visual terkait pada sederhana atau tidaknya peristiwa termasuk konsepnya. Selain itu, humor juga bisa kita lihat menjadi dua jenis yakni humor verbal dan non-verbal. Apresiasi keduanya tentu tidak sama, humor verbal terkait dengan kemampuan abstraksi dan fleksibilitas mental, sementara humor non-verbal terkait dengan atensi visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelucon yang kita dengar dalam suatu percakapan membutuhkan kemampuan membayangkan dan menghadirkan imagi visual untuk menghasilkan reaksi positif yaitu tawa atau perasaan geli. Pada humor non verbal, contohnya membaca komik atau menonton film kartun membutuhkan perhatian visual kita untuk menggelitik sensitivitas humor diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada hal lain, yaitu pola hubungan sosial yang ternyata berpengaruh untuk menerabas perbedaan stimuli humor verbal maupun non-verbal. Misalnya, sekelompok mahasiswa psikologi, kemungkinan besar telah akrab dengan berbagai istilah yang dengan renyah sering menjadi bahan canda, seperti 'proyeksi', atau 'denial'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang dalam kelompok bercerita tentang mahasiswa yang dianggap begitu menyenangi dosen baru padahal di mata dia menyebalkan, kemudian ada celetukan"Proyeksi tuh, padahal wajah lu berbinar juga sekali setiap di kelas dosen ganteng itu" disambut gelak tawa, namun dua mahasiswa Arsitek lain yang kebetulan berada di dekat mereka akan mengernyitkan dahi dan mencoba lebih keras memahami makna kata 'proyeksi'. Apakah sama dengan proyeksi seperti pada gambar perspektif yang sering mereka buat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlaku pula ketika mahasiswa psikologi terkikik melihat cipratan tinta yang secara spontan memancing humor ala test Rosarch, bukan merupakan humor bagi mahasiswa seni rupa misalnya. Maka konteks pun memegang peran di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humor dalam Konseling&lt;br /&gt;Seperti bentuk interaksi lain dalam kehidupan manusia, sesi konseling pun salah satu bentuk interaksi. Komunikasi selalu memerlukan 'kesamaan bahasa' untuk bisa terhubung. Kita mengenal sebuah istilah ice breaking, sebaai salah satu titik krusial dalam menjalin rapport di garis awal sesi ini. Humor telah menjadi pilihan spontan, tidak kecuali bagi konselor dan klien sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konselor perlu melihat dan menentukan kondisi yang tepat ketika akan menyelipkan atau menggunakan humor dalam sesi konselingnya. Penggunaan humor ini menuntut pengukuran tingkat ketepatan dalam waktu dan sensitivitas. Humor yang tepat dan positif bukan tidak mungkin mampu menciptakan great insight bagi kehidupan dan dunia klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pemecah kekakuan dan ketegangan yang mungkin tercipta di awal konseling, idealnya humor mampu meredakan ketegangan dan memberi kemajuan positif dalam interaksi selanjutnya. Studi telah menunjukkan bahwa humor memang instrumen yang ampuh dalam konseling. Interpretasi tepat terhadap atmosfer atau suasana klien (konseling) serta kepribadian klien, menjadi pertimbangan penting bagi konselor untuk mengeluarkan joke-joke segar sebagai pendukung kesuksesan konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humor juga merupakan representasi komunikasi dan ekspresi klien. Klien memanfaatkan humor sebagai alat komunikasi untuk menanggapi berbagai aspek yang disajikan dalam proses konseling. Tidak jarang klien merasa grogi atau cemas ketika memasuki sesi konseling, maka humor menjadi barometer tingkat kenyamanan dan keamanan yang akan didapatkan dari interaksi dengan konselor. Kembali, humor berperan sebagai pemecah kekakuan dan ketegangan yang cukup sensitif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humor Memacu Kreativitas&lt;br /&gt;Humor dan kesehatan telah banyak diperbincangkan dan dibuktikan, karena tertawa berarti melakukan peregangan otot-otot halus tidak hanya di sekitar wajah tapi seluruh tubuh sehingga kita menjadi santai. Humor juga berkhasiat memacu kreativitas, karenanya sangat dianjurkan dalam ruang kelas maupun ruang keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan komunikasi dan interaksi antara orangtua dan anak, pengajar dan anak didik dapat mendorong kreativitas serta kemampuan berpikir, mengenalkan nilai-nilai, mengajarkan perilaku positif dan tanggung jawab pada lingkungan sekitar, menanamkan rasa percaya dan kepercayaan diri anak-anak dengan mengenalkan satu mekanisme untuk menghadapi kesedihan, kekecewaan atau perasaan duka (Lovorn,2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Karena mengapresiasi humor tidak sekedar terbahak, dibutuhkan sensitivitas sosial mencakup momen, siapa dan di mana kita saat itu. Mungkin kita sendiri akan langsung merasa geli menghadai satu kegagalan, tetapi kita perlu berpikir ulang ketika mendapati sahabat yang begitu terpukul pada satu kejadian, tidak serta merta humor bisa menjadi obat kekecewaan. Maka, mengenalkan dan membiasakan humor pada anak-anak, sekaligus melatih banyak aspek seperti terungkap dalam penelitian Lovorn di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JK.Rowling dalam karyanya "Harry Potter" pun menawarkan 'terapi' humor pada pembacanya dengan menciptakan mantra "Ridiculus" untuk melenyapkan Boggart, makhluk non penyihir yang selalu berwujud beda-beda tergantung ketakutan yang dimiliki penyihir. Seperti Ron Weasley yang takut pada laba-laba, maka boggart akan menampakkan dirinya sebagai laba-laba raksasa, mengucapkan mantra Ridiculus dan membayangkan laba-laba (ketakutan) menjadi /melakukan sesuatu yang menggelikan, maka hilanglah ketakutan (Boggart) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menertawakan ketakutan diri sendiri, menjadi obat penawar yang ampuh, itulah yang ingin disampaikan. Semoga bermanfaat !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Literature:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baldwin, Erin (2007) Humor Perception: The Contribution of Cognitive Factors. A Dissertation Submitted in Partial Fulfillment of the Requirements for the Degree of Doctor of Philosophy in the College of Arts and Sciences; Georgia State University&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berry, Karlene (2004) The Use of Humor in Counseling. A Research Paper Submitted in Partial Fulfillment of the Requirements for the Master of Science Degree in Guidance and Counseling:University of Wisconsin-Stout &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lovorn, Michael G (2008) Humor in the Home and in the Classroom: The Benefits of Laughing While We Learn. Journal of Education and Human Development, Volume 2, Issue 1, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-8178996171575475595?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/8178996171575475595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=8178996171575475595&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/8178996171575475595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/8178996171575475595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/humor-dalam-psikologi.html' title='humor dalam psikologi'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-1313308596703545005</id><published>2008-09-03T19:46:00.000-07:00</published><updated>2008-09-03T19:48:37.699-07:00</updated><title type='text'>tips panduan mengatasi kesulitan dalam penulisan kripsi,</title><content type='html'>Kesulitan Menulis Skripsi&lt;br /&gt;Kategori Pendidikan&lt;br /&gt;Oleh : Zainun Mutadin, SPsi. MSi.&lt;br /&gt;Jakarta, 4/4/2002 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah mahasiswa Fakultas Psikologi yang sedang menyusun skripsi. Pada saat ini saya sedang dilanda kebingungan sebab belum tahu topik apa yang harus saya tulis. Setiap kali saya ingin memulai saya tidak tahu harus mulai dari mana dan saya merasa malas sekali. Sekarang ini saya bahkan jadi segan ke kampus karena takut ditanya oleh teman-teman dan dosen pembimbing. Gimana dong caranya supaya saya bisa menyelesaikan skripsi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan di atas adalah salah satu contoh kasus yang banyak ditanyakan oleh para mahasiswa yang sedang menyusun skripsi pada rubrik ruang konseling di website ini. Masalah diatas mungkin mewakili ribuan mahasiswa yang memiliki kesulitan dalam penyusunan skripsi mereka. Kesulitan lain yang seringkali dialami diantaranya kesulitan mencari judul untuk skripsi, kesulitan mencari literatur dan bahan bacaan, dana yang terbatas, atau takut menemui dosen pembimbing. Kesulitanâ€“kesulitan tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan: stress, rendah diri, frustrasi, kehilangan motivasi, menunda penyusunan skripsi dan bahkan ada yang memutuskan untuk tidak menyelesaikan skripsinya. Kondisi ini banyak menimpa mahasiswa di semua fakultas dan jurusan, termasuk mahasiswa fakultas Psikologi. Hal ini tentu saja sangat merugikan mahasiswa yang bersangkutan mengingat bahwa skripsi merupakan tahap paling akhir dan paling menentukan dalam mencapai gelar sarjana. Selain itu usaha dan kerja keras yang telah dilakukan bertahun-tahun sebelumnya menjadi sia-sia jika mahasiswa gagal menyelesaikan skripsi. Pertanyaan kita kemudian adalah bagaimana menyiasati hal tersebut sehingga para mahasiswa ini dapat segera mulai menulis, tidak kehilangan motivasi dan segera dapat menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam artikel ini penulis mencoba untuk mengemukakan beberapa cara untuk menangani permasalahan-permasalahan yang seringkali dialami mahasiswa seperti yang tersebut diatas. Berikut ini adalah beberapa saran yang mungkin berguna untuk diikuti jika anda termasuk dalam kategori mahasiswa yang mengalami masalah dalam penyusunan skripsi: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan yang Matang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melakukan setiap kegiatan biasakan untuk merancang suatu rencana secara matang. Dengan perencanaan yang matang diharapkan tujuan akan lebih mudah dicapai. Hersey dan Blanchard (1995) mengatakan perencanaan adalah penyusunan tujuan dan sasaran serta penyusunan peta kerja yang memperlihatkan cara pencapaian tujuan dan sasaran. Untuk memudahkan langkah pelaksanaan penulisan skripsi, maka mahasiswa dapat membuat suatu peta kegiatan seperti contoh berikut ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta Kegiatan Penyusunan Skripsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No.&lt;br /&gt; AKTIVITAS &lt;br /&gt; April&lt;br /&gt; Mei&lt;br /&gt; Juni&lt;br /&gt; Juli&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1&lt;br /&gt; 2&lt;br /&gt; 3&lt;br /&gt; 4&lt;br /&gt; 1&lt;br /&gt; 2&lt;br /&gt; 3&lt;br /&gt; 4&lt;br /&gt; 1&lt;br /&gt; 2&lt;br /&gt; 3&lt;br /&gt; 4&lt;br /&gt; 1&lt;br /&gt; 2&lt;br /&gt; 3&lt;br /&gt; 4 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt; Mencari literatur &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt; Perumusan Permasalahan &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt; Bimbingan dengan dosen &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt; Proposal Skripsi &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5.&lt;br /&gt; Bab I &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;6.&lt;br /&gt; Bab II &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7.&lt;br /&gt; Bab III &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;8.&lt;br /&gt; Pembuatan Instrumen &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;9.&lt;br /&gt; Pengujian Instrumen &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;10.&lt;br /&gt; Pembuatan Surat Ijin Ke Fakultas &amp; Instansi Terkait &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;11.&lt;br /&gt; Uji Statistik &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;12.&lt;br /&gt; Bab IV &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;13.&lt;br /&gt; Bab V &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;14.&lt;br /&gt; Mengajukan Ujian Skripsi &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; X&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;15.&lt;br /&gt; Revisi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta kegiatan yang di buat harus dilaksanakan dengan disiplin, karena bila terlalu memberi toleransi pada diri sendiri maka semua yang ada di peta tersebut akan sia-sia. Sedangkan hal yang masih boleh ditoleransi adalah bila berhubungan dengan dosen pembimbing dan hal yang berhubungan dengan pengurusan surat-surat keterangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi Diri Anda&lt;br /&gt;Mengapa motivasi penting? Untuk menjelaskannya kita dapat memakai teori dasar dari motivasi yang dikemukakan oleh Vroom (Dunnet, 1990) bahwa Prestasi (P) merupakan hasil dari Motivasi (M) dan Kemampuan/Ability (A) dengan model sebagai berikut P = M x A. Dengan model ini maka bila ada dua orang dengan kemampuan yang sama mengerjakan suatu tugas yang sama pula maka hasilnya bisa sangat berbeda. Misalkan Amir dan Budi sama-sama memiliki kemampuan 100, tetapi Amir memiliki motivasi 1 sedang budi memiliki motivasi 3 maka sesuai model diatas prestasi Amir hanya 100 sedangkan Budi 300. Terlihatlah sekarang betapa motivasi sangat berperan bagi prestasi seseorang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memotivasi diri tampaknya salah satu kalimat dalam suatu iklan produk yang berbunyi "Ayo kamu bisa", harus selalu menjadi pegangan anda. Berkatalah pada diri sendiri "Saya pasti bisa, karena saya mampu". Jangan anggap remeh kemampuan diri anda. Anda adalah seorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Waktu anda sangat banyak, gunakan dengan efektif dan efisien. Dalam 1 minggu ada 7 hari, dalam 1 hari ada 24 jam. Bila anda mengganggap waktu anda sempit, anda salah! Salah besar. Waktu anda dijadwalkan dengan batas waktu yang anda tentukan sendiri, jangan sampai waktu anda "terpaksa" di batasi oleh fakultas, karena masa studi anda sudah hampir habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai hari ini cobalah memotivasi diri anda sejak anda berada di rumah. Buatlah diri anda berharga dan berbahagia. Bawalah kebahagian itu kemana anda berada, baik ke kampus, ke kantor atau ke lingkungan manapun juga. Tapi bagaimana caranya? Itukah yang anda tanyakan! Menurut DePorter dan Hernacki (2001), sebelum anda melakukan hampir semua aktivitas dalam hidup anda, baik secara sadar maupun tidak, anda akan bertanya pada diri anda tentang "Apa manfaat ini bagiku?". Pertanyaan "apa manfaatnya bagiku" tersebut terus anda tanyakan pada diri anda sepanjang hari untuk memilih alternatif-alternatif aktivitas yang akan anda lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelas dapat anda bayangkan hal berikut ini : setiap pagi hari biasanya anda bangun tidur kemudian sembahyang subuh kemudian tidur lagi. Tetapi seharusnya akan lebih sehat bila anda bangun pagi sembahyang subuh kemudian berolahraga pagi. Anda harus menimbang kedua hal tersebut dengan menanyakan "apa manfaatnya bagiku?". Bila anda pilih tidur lagi, ada kemungkinan anda terlambat dalam perkuliahan karena anda bangun kesiangan. Bila anda memilih berolahraga pagi, badan anda terasa segar dan sehat dan andapun dapat berangkat ke kampus tepat waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak situasi menemukan "apa manfaatnya bagiku" sama saja dengan menciptakan minat terhadap sesuatu yang akan kita kerjakan (DePorter &amp; Hernacki, 2001). Untuk beberapa hal mungkin mudah sekali kita tertarik dan berminat melakukannya namun ada juga hal-hal yang harus dipaksa terlebih dahulu sebelum kita tertarik untuk mengerjakannya. Namun demikian, sesulit apapun sesuatu yang harus anda lakukan, anda selalu dapat menemukan sesuatu hal menarik yang dapat memberikan motivasi bagi diri anda. Paling penting bagi anda adalah bahwa anda sudah termotivasi untuk mempelajari suatu hal/informasi baru karena beberapa alasan. Hal inilah yang dapat membantu anda untuk menyelesaikan penulisan skripsi anda. Pada saat anda sudah termotivasi maka segala sesuatu akan terasa lebih ringan dan menyenangkan. Sedangkan rasa bosan dan malas dengan sendirinya akan musnah, bila anda sudah termotivasi dengan baik (istilah kerennya: motivasi menulis skripsi sudah terinternalisasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus pada Materi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mulai menulis cobalah anda tanyakan pada diri sendiri: "Bidang apa dalam Psikologi yang sesuai dengan selera saya; Klinis, Perkembangan, Sosial, Olahraga, Pendidikan, Industri dan Organisasi atau yang lain?". Selanjutnya tentukan pilihan anda dan mulailah memilih topik yang sederhana dan gampang untuk mencari sumber bacaan atau informasi. Jangan menulis suatu topik yang terlalu luas, usahakan fokus pada satu permasalahan dan anda harus dapat membuat batasan secara jelas. Permasalahan yang dirumuskan haruslah logis dan terdukung oleh literatur dan bahan bacaan yang memadai. Hal ini sejalan dengan apa yang pernah dikemukakan oleh Sumadi Suryabrata, Guru besar fakultas Psikologi UGM, bahwa untuk jenjang Strata 1 (S1) bentuk penulisan jangan terlalu sulit, cukup membuktikan hubungan dua variabel atau perbedaan suatu variabel. Dengan perkataan lain, janganlah anda mempersulit diri dengan memilih topik yang hebat-hebat atau heboh padahal anda tidak yakin bahwa anda menguasai materi tersebut, dan jangan terlalu idealis bila anda ingin menyelesaikan skripsi dengan cepat dan tepat waktu. Namun demikian tidak berarti bahwa skripsi boleh dibuat ala kadarnya. Sebagai orang berpendidikan anda juga harus sadar bawa skripsi yang anda hasilkan harus memiliki nilai akademis dan manfaat bagi siapapun yang berkepentingan terhadap skripsi tersebut. &lt;br /&gt;Langkah awal yang terpenting untuk diingat dalam penulisan suatu penelitian ilmiah (Skripsi) adalah kemampuan anda untuk membuat rumusan permasalahan, tujuan penelitian dan manfaat penelitian tersebut. Semua itu harus memiliki landasan teori yang mendasar dan didukung argumen logis dari penulis. Tanpa itu mustahil dapat disetujui oleh dosen pembimbing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkatkan Kemampuan Sosialisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyusun skripsi, menulis bukanlah kemampuan satu-satunya yang harus dikuasai, karena kemampuan sosialisasi memiliki porsi yang cukup vital. Rasa takut untuk menemui dosen pembimbing adalah salah satu cerminan kemampuan sosialisasi yang buruk. Rasa takut ini harus dibuang jauh-jauh dengan memulai dari diri sendiri dengan cara paling sederhana seperi menjaga penampilan fisik dan bersopan santun. Terkadang mahasiswa tidak percaya diri karena penampilan fisik yang tidak layak bagi seorang mahasiswa seperti memakai celana jeans robek, tidak memakai sepatu, rambut gondrong dan dikucir, dan hal lain yang menjadi kebiasaaan buruk dalam penampilan sehari-hari. Bagi sebagian mahasiswa mungkin tidak akan ada masalah jika berhadapan dengan mahasiswa lain atau teman-temannya, tetapi jika berhadapan langsung dengan dosen pembimbing, seringkali mereka menjadi tidak percaya diri. Nah bagi anda yang merasa bahwa penampilan anda kurang oke, cobalah segera memperbaikinya. Bila anda sudah dapat memperbaiki penampilan maka rasa percaya diri akan tumbuh lebih baik. &lt;br /&gt;Selain itu rasa takut muncul lebih besar dikarenakan cerita-cerita dari kakak-kakak senior tentang dosen pembimbing yang killer. Untuk hal ini, sebaiknya anda jangan sekali-kali percaya begitu saja, buktikan terlebih dahulu, karena terkadang reaksi dosen menjadi killer adalah karena sikap mahasiswa yang kurang santun dan tidak memperhatikan situasi dan kondisi. Terlebih lagi bagi anda mahasiswa psikologi yang diharapkan lebih dapat bersikap yang lebih baik dibanding dengan mahasiswa fakultas lain. Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan anda harus dapat memahami kapan waktu dan kondisi yang tepat untuk bertemu dosen pembimbing. Bila perlu cobalah anda pelajari kepribadian dosen pembimbing anda sehingga anda tahu persis bagaimana membina hubungan yang baik demi kelancaran proses penulisan skripsi anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai Sekarang Juga&lt;br /&gt;"Inilah saatnya", jangan menunggu, anda harus mulai mencari literatur sedini mungkin. Saat ini juga baca sebanyak mungkin literatur yang anda suka, kemudian rumuskan menjadi variabel yang siap dituliskan di skripsi anda. Datangi seluruh perpustakaan yang ada, toko buku dan pedagang buku bekas untuk mencari bahan-bahan yang anda butuhkan. Jelajahi juga website-website yang menyediakan informasi yang anda butuhkan. Baca juga ensiklopedia elektronik seperti Encarta, Grolier, Britanica atau yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segeralah lengkapi diri anda dengan buku penuntun penulisan skripsi yang biasanya diterbitkan oleh fakultas, atau bagi anda mahasiswa fakultas Psikologi, anda dapat membaca dan mengikuti ketentuan penulisan karya ilmiah dari APA (American Psychologist Association). Langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah mencatat dengan lengkap nama pengarang, tahun terbit, judul buku, penerbit serta halaman dari kutipan yang anda baca. Mengingat bahwa hal-hal tersebut sangat vital, usahakan anda dapat memperoleh copy dari tulisan yang anda kutip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu data/informasi sudah terkumpul,maka anda harus segera menyusun tulisan berdasarkan bahan yang ada dan memformulasikannya menjadi sebuah proposal yang kemudian diajukan ke fakultas. Jangan pernah menunda untuk menyusun proposal skripsi, sebab sekali tertunda maka akan membutuhkan waktu yang lama bagi anda untuk mulai mengerjakannya kembali. Oleh karena itu, MULAILAH SEKARANG JUGA! Selamat mencoba, semoga sukses&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-1313308596703545005?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/1313308596703545005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=1313308596703545005&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/1313308596703545005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/1313308596703545005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/tips-panduan-mengatasi-kesulitan-dalam.html' title='tips panduan mengatasi kesulitan dalam penulisan kripsi,'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-8422499091102050070</id><published>2008-09-03T19:39:00.000-07:00</published><updated>2008-09-03T19:44:48.284-07:00</updated><title type='text'>phobia sekolah kategori pendidikan/anak</title><content type='html'>Fobia Sekolah&lt;br /&gt;Kategori Pendidikan&lt;br /&gt;Oleh : Jacinta F. Rini&lt;br /&gt;Jakarta, 10/10/2002 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku nggak mau sekolah...pokoknya enggaaaaak!!! Hari ini aku mau ikut Mama ke kantor aja!"&lt;br /&gt;"Perutku sakit, Maaaa...aku nggak enak badan...jadi hari ini aku boleh nggak usah masuk sekolah, yaaaa...!"&lt;br /&gt;"Adek mau main di rumah saja, Ma...please...Adek takut sama Bu Guru...soalnya Bu Guru galak sekali, Adek takut dimarahi sama Bu Guru...boleh ya Ma...boleh ya..."&lt;br /&gt;"Pokoknya aku nggak mau ke sekolah...aku nggak suka sekolah...aku mau di rumah ajaaaa!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat diatas mungkin tidak asing di telinga kita ketika menghadapi anak yang tiba-tiba mogok sekolah. Beberapa alasan tersebut memang seringkali dikemukakan oleh anak-anak ketika mereka tidak ingin pergi ke sekolah. Tidak jarang orangtua hanya bisa terdiam dan termenung bahkan bingung ketika mendengar kata-kata tersebut diucapkan oleh anak tercintanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orangtua yang bingung menghadapi perubahan sikap anaknya yang tiba-tiba mogok tidak mau sekolah dengan berbagai alasan, mulai dari sakit perut, sakit kepala, sakit kaki dan seribu alasan lainnya. Bagi orangtua yang anaknya masih kecil, pemogokkan ini tentu bikin pusing karena menimbulkan kebingungan apakah alasan tersebut benar atau hanya dibuat-buat. Orangtua menjadi bingung: memaksa anak untuk tetap berangkat sekolah takut nanti anaknya menjadi stress; atau kalau ternyata benar apa yang dikemukakan anak, lantas bagaimana harus bersikap? Sementara itu problem yang hampir sama dialami orangtua yang bingung menghadapi penolakan anaknya yang sudah waktunya bersekolah tapi masih saja belum mau masuk sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi kenyataan dan kondisi di atas, apa yang sebaiknya dilakukan orangtua agar kendali pendidikan dan pengasuhan anak tetap berada di pundak mereka sehingga tidak terjadi hal-hal negatif yang dapat merugikan perkembangan fisik dan mental anak di masa yang akan datang. Dalam artikel ini saya mencoba untuk mengulas apa yang dimaksud dengan fobia sekolah (mogok atau tidak mau ke sekolah), apa faktor penyebabnya dan bagaimana orangtua harus menyiasati kondisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Fobia Sekolah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fobia sekolah adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah yang biasanya disertai dengan berbagai keluhan yang tidak pernah muncul atau pun hilang ketika "masa keberangkatan" sudah lewat, atau hari Minggu / libur. Fobia sekolah dapat sewaktu-waktu dialami oleh setiap anak hingga usianya 14 - 15 tahun, saat dirinya mulai bersekolah di sekolah baru atau menghadapi lingkungan baru atau pun ketika ia menghadapai suatu pengalaman yang tidak menyenangkan di sekolahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tingkatan dan Jenis Penolakan Terhadap Sekolah &lt;br /&gt;Para ahli menunjuk adanya beberapa tingkatan school refusal, mulai dari yang ringan hingga yang berat (fobia), yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Initial school refusal behavior &lt;br /&gt;adalah sikap menolak sekolah yang berlangsung dalam waktu yang sangat singkat (seketika/ tiba-tiba) yang berakhir dengan sendirinya tanpa perlu penanganan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Substantial school refusal behavior &lt;br /&gt;adalah sikap penolakan yang berlangsung selama minimal 2 minggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Acute school refusal behavior&lt;br /&gt;adalah sikap penolakan yang bisa berlangsung 2 minggu hingga 1 tahun, dan selama itu anak mengalami masalah setiap kali hendak berangkat sekolah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Chronic school refusal behavior&lt;br /&gt;adalah sikap penolakan yang berlangsung lebih dari setahun, bahkan selama anak tersebut bersekolah di tempat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tanda-tanda Fobia Sekolah &lt;br /&gt;Ada beberapa tanda yang dapat dijadikan sebagai kriteria fobia sekolah atau pun school refusal, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menolak untuk berangkat ke sekolah. &lt;br /&gt;Mau datang ke sekolah, tetapi tidak lama kemudian minta pulang &lt;br /&gt;Pergi ke sekolah dengan menangis, menempel terus dengan mama/papa atau pengasuhnya, atau menunjukkan "tantrum"nya seperti menjerit-jerit di kelas, agresif terhadap anak lainnya (memukul, menggigit, dsb.) atau pun menunjukkan sikap-sikap melawan/menentang gurunya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menunjukkan ekspresi/ raut wajah sedemikian rupa untuk meminta belas kasih guru agar diijinkan pulang - dan ini berlangsung selama periode tertentu. &lt;br /&gt;Tidak masuk sekolah selama beberapa hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keluhan fisik yang sering dijadikan alasan seperti sakit perut, sakit kepala, pusing, mual, muntah-muntah, diare, gatal-gatal, gemetaran, keringatan, atau keluhan lainnya. Anak berharap dengan mengemukakan alasan sakit, maka ia diperbolehkan tinggal di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mengemukakan keluhan lain (di luar keluhan fisik) dengan tujuan tidak usah berangkat ke sekolah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Waktu Berlangsungnya Fobia Sekolah &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berapa lama waktu berlangsungnya fobia sekolah amat tergantung pada penanganan yang dilakukan oleh orangtua. Makin lama anak dibiarkan tidak masuk sekolah (tidak mendapat penanganan apapun), makin lama problem itu akan selesai dan makin sering/ intens keluhan yang dilontarkan anak. Namun, makin cepat ditangani, problem biasanya akan berangsur-angsur pulih dalam waktu sekitar 1 atau 2 minggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;Faktor Penyebab &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa penyebab yang membuat anak seringkali menjadi mogok sekolah. orangtua perlu bersikap hati-hati dan bijaksana dalam menyikapi sikap pemogokan itu, agar dapat memberikan penanganan yang benar-benar tepat. Alangkah baiknya, jika orangtua mau bersikap terbuka dalam mempelajari dan mencari semua kemungkinan yang bisa terjadi. Konsultasi dengan guru di sekolah, sharing dengan sesama orangtua murid, diskusi dengan anak, konsultasi dengan konselor/ psikolog, (kalau perlu) memeriksakan anak ke paramedis/ dokter sesuai keluhan yang dikemukakannya, hingga introspeksi diri - adalah metode yang tepat untuk mendapatkan gambaran penyebab dari fobia sekolah anak. Berhati-hatilah untuk membuat diagnosa secara subyektif, didasarkan pada pendapat pribadi diri sendiri atau keluhan anak semata. Di bawah ini ada beberapa penyebab fobia sekolah dan school refusal: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Separation Anxiety &lt;br /&gt;Separation anxiety pada umumnya dialami anak-anak kecil usia balita (18 - 24 bulan). Kecemasan itu sebenarnya adalah fenomena yang normal. Anak yang lebih besar pun (preschooler, TK hingga awal SD) tidak luput dari separation anxiety. Bagi mereka, sekolah berarti pergi dari rumah untuk jangka waktu yang cukup lama. Mereka tidak hanya akan merasa rindu terhadap orangtua, rumah, atau pun mainannya - tapi mereka pun cemas menghadapi tantangan, pengalaman baru dan tekanan-tekanan yang dijumpai di luar rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Separation anxiety bisa saja dialami anak-anak yang berasal dari keluarga harmonis, hangat dan akrab yang amat dekat hubungannya dengan orangtua. Singkat kata, tidak ada masalah dengan orangtua. Orangtua mereka adalah orangtua yang baik dan peduli pada anak, dan mempunyai kelekatan yang baik. Namun tetap saja anak cemas pada saat sekolah tiba. Tanpa orangtua pahami, anak-anak sering mencemaskan orangtuanya. Mereka takut kalau-kalau orangtua mereka diculik, atau diserang monster atau mengalami kecelakaan sementara mereka tidak berada di dekat orangtua. Ketakutan itu tidak dibuat-buat, namun merupakan fenomena yang biasa hinggap pada anak-anak usia batita dan balita. Oleh sebab itu, mereka tidak ingin berpisah dari orangtua dan malah lengket-nempel terus pada mama-papanya. Peningkatan kecemasan menimbulkan rasa tidak nyaman pada tubuh mereka, dan ini lah yang sering dikeluhkan (perut sakit, mual, pusing, dsb.). Sejalan dengan perkembangan kognisi anak, ketakutan dan kecemasan yang bersifat irrasional itu akan memudar dengan sendirinya karena anak mulai bisa berpikir logis dan realistis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Separation anxiety bisa muncul kala anak selesai menjalani masa liburan panjang atau pun mengalami sakit serius hingga tidak bisa masuk sekolah dalam jangka waktu yang panjang. Selama di rumah atau liburan, kuantitas kedekatan dan interaksi antara orangtua dengan anak tentu saja lebih tinggi dari pada ketika masa sekolah. Situasi demikian, sudah tentu membuat anak nyaman dan aman. Pada waktu sekolah tiba, anak harus menghadapi ketidakpastian yang menimbulkan rasa cemas dan takut. Namun, dengan berjalannya waktu, anak yang memiliki rasa percaya diri, dapat perlahan-lahan beradaptasi dengan situasi sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti berpendapat, anak yang mempunyai rasa percaya diri yang rendah, berpotensi menjadi anak yang anxiety prone-children (anak yang memiliki kecenderungan mudah cemas) dan cenderung mudah mengalami depresi. Banyak orangtua yang tidak sadar bahwa sikap dan pola asuh yang diterapkan pada anak ikut menyumbang terbentuknya dependency (ketergantungan), rasa kurang percaya diri dan kekhawatiran yang berlebihan. Contohnya, sikap orangtua yang overprotective terhadap anak hingga tidak menumbuhkan rasa percaya diri keberanian dan kemandirian. Anak tidak pernah diperbolehkan, dibiarkan atau didorong untuk berani mandiri. Orangtua takut kalau-kalau anaknya kelelahan, terluka, jatuh, tersesat, sakit, dan berbagai alasan lainnya. Anak selalu berada dalam proteksi, pelayanan dan pengawalan melekat dari orangtua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, anak akan tumbuh menjadi anak manja, selalu tergantung pada pelayanan dan bantuan orangtua, penakut, cengeng, dan tidak mampu memecahkan persoalannya sendiri. Banyak orangtua yang tanpa sadar membuat pola ketergantungan ini berlangsung terus-menerus agar mereka merasa selalu dibutuhkan (berarti, berguna) dan sekaligus menjadikan anak sebagai teman "abadi". Padahal, dibalik ketergantungan sang anak terhadap orangtua, tersimpan kebutuhan dan ketergantungan orangtua pada "pengakuan" sang anak. Akibatnya, keduanya tidak dapat memisahkan diri saat anak harus mandiri dan sulit bertumbuh menjadi individu yang dewasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengalaman Negatif di Sekolah atau Lingkungan &lt;br /&gt;Mungkin saja anak menolak ke sekolah karena dirinya kesal, takut dan malu setelah mendapat cemoohan, ejekan atau pun di"ganggu" teman-temannya di sekolah. Atau anak merasa malu karena tidak cantik, tidak kaya, gendut, kurus, hitam, atau takut gagal dan mendapat nilai buruk di sekolah. Di samping itu, persepsi terhadap keberadaan guru yang galak, pilih kasih, atau "seram" membuat anak jadi takut dan cemas menghadapi guru dan mata pelajarannya. Atau, ada hal lain yang membuatnya cemas, seperti mobil jemputan yang tidak nyaman karena ngebut, perjalanan yang panjang dan melelahkan, takut pergi sendiri ke sekolah, takut sekolah setelah mendengar cerita seram di sekolah, takut menyeberang jalan, takut bertemu seseorang yang "menyeramkan" di perjalanan, takut diperas oleh kawanan anak nakal, atau takut melewati jalan yang sepi. Para ahli mengatakan, bahwa masalah-masalah tersebut sudah dapat menimbulkan stress dan kecemasan yang membuat anak menjadi moody, tegang, resah, dan mulai merengek tidak mau sekolah, ketika mulai mendekati waktu keberangkatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, tidak semua anak bisa menceritakan ketakutannya itu karena mereka sendiri terkadang masih sulit memahami, mengekspresikan dan memformulasikan perasaannya. Belum lagi jika mereka takut dimarahi orangtua karena dianggap alasannya itu mengada-ada dan tidak masuk akal. Dengan sibuknya orangtua, sementara anak-anak lebih banyak diurus oleh baby sitter atau mbak, makin membuat anak sulit menyalurkan perasaannya; dan akhirnya yang tampak adalah mogok sekolah, agresif, pemurung, kehilangan nafsu makan, keluhan-keluhan fisik, dan tanda-tanda lain seperti yang telah disebutkan di atas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Problem Dalam Keluarga &lt;br /&gt;Penolakan terhadap sekolah bisa disebabkan oleh problem yang sedang dialami oleh orangtua atau pun keluarga secara keseluruhan. Misalnya, anak sering mendengar atau bahkan melihat pertengkaran yang terjadi antara papa-mamanya, tentu menimbulkan tekanan emosional yang mengganggu konsentrasi belajar. Anak merasa ikut bertanggung jawab atas kesedihan yang dialami orangtuanya, dan ingin melindungi, entah mamanya - atau papanya. Sakitnya salah seorang anggota keluarga, entah orangtua atau kakak/adik, juga dapat membuat anak enggan pergi ke sekolah. Anak takut jika terjadi sesuatu dengan keluarganya yang sakit ketika ia tidak ada di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanganan &lt;br /&gt;Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua dalam menangani masalah fobia sekolah atau pun school refusal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tetap menekankan pentingnya bersekolah &lt;br /&gt;Para ahli pendidikan dan psikolog berpendapat bahwa terapi terbaik untuk anak yang mengalami fobia sekolah adalah dengan mengharuskannya tetap bersekolah setiap hari (the best therapy for school phobia is to be in school every day). Karena rasa takut harus diatasi dengan cara menghadapinya secara langsung. Menurut para ahli tersebut, keharusan untuk mau tidak mau setiap hari masuk sekolah, malah menjadi obat yang paling cepat mengatasi masalah fobia sekolah, karena lambat laun keluhannya akan makin berkurang hari demi hari. Makin lama dia "diijinkan" tidak masuk sekolah, akan makin sulit mengembalikannya lagi ke sekolah, dan bahkan keluhannya akan makin intens dan meningkat. Selain itu, dengan mengijinkannya absen dari sekolah, anak akan makin ketinggalan pelajaran, serta makin sulit menyesuaikan diri dengan teman-temannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan besar anak akan coba-coba bernegosiasi dengan orangtua, untuk menguji ketegasan dan konsistensi orangtua. Jika ternyata pada suatu hari orangtua akhirnya "luluh", maka keesokkan harinya anak akan mengulang pola yang sama. Tetaplah bersikap hangat, penuh pengertian, namun tegas dan bijaksana sambil menenangkan anak bahwa semua akan lebih baik setibanya dia di sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berusahalah untuk tegas dan konsisten &lt;br /&gt;Berusahalah untuk tegas dan konsisten dalam bereaksi terhadap keluhan, rengekan, tantrum atau pun rajukan anak yang tidak mau sekolah.dalam bereaksi terhadap keluhan, rengekan, tantrum atau pun rajukan anak yang tidak mau sekolah. Entah karena pusing mendengar suara anak atau karena amat mengkhawatirkan kesehatan anak, orangtua seringkali meluluskan permintaan anak. Tindakan ini tentu tidak sepenuhnya benar. Jika ketika bangun pagi anak segar bugar dan bisa berlari-lari keliling rumah atau pun sarapan pagi dengan baik, namun pada saat mau berangkat sekolah, tiba-tiba mogok - maka sebaiknya orangtua tidak melayani sikap "negosiasi" anak dan langsung mengantarnya ke sekolah. Satu hal penting untuk diingat adalah hindari sikap menjanjikan hadiah jika anak mau berangkat ke sekolah, karena hal ini akan menjadi pola kebiasaan yang tidak baik (hanya mau sekolah jika diberi hadiah). Anak tidak akan mempunyai kesadaran sendiri kenapa dirinya harus sekolah dan terbiasa memanipulasi orangtua/ lingkungannya. Anak jadi tahu bagaimana taktik atau strategi yang jitu dalam mengupayakan agar keinginannya terlaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sampai terlambat, anak tetap harus berangkat ke sekolah - kalau perlu ditemani/ diantar orangtua. Demikian juga jika sesampai di sekolah anak minta pulang, maka orangtua harus tegas dan bekerja sama dengan pihak guru untuk menenangkan anak agar akhirnya anak merasa nyaman kembali. Jika anak menjerit, menangis, ngamuk, marah-marah atau bertingkah laku aneh-aneh lainnya, orangtua hendaknya sabar. Ajaklah anak ke tempat yang tenang dan bicaralah baik-baik hingga kecemasan dan ketakutannya berkurang/ hilang, dan sesudah itu bawalah anak kembali ke kelasnya. Situasi ini dialami secara berbeda antara satu orang dengan yang lain, tergantung dari kemampuan orangtua menenangkan dan mendekatkan diri pada anak. Namun jika orangtua mengalami kesulitan dalam menghadapi sikap anaknya, mintalah bantuan pada guru atau sesama orangtua murid lainnya yang dikenal cukup dekat oleh anak. Terkadang, keberadaan mereka justru membuat anak lebih bisa mengendalikan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Konsultasikan masalah kesehatan anak pada dokter &lt;br /&gt;Jika orangtua tidak yakin akan kesehatan anak, bawalah segera ke dokter untuk mendapatkan kepastian tentang ada/ tidaknya problem kesehatan anak. orangtua tentu lebih peka terhadap keadaan anaknya setiap hari; perubahan sekecil apapun biasanya akan mudah dideteksi orangtua. Jadi, ketika anak mengeluhkan sesuatu pada tubuhnya (pusing, mual, dsb.), orangtua dapat membawanya ke dokter yang buka praktek di pagi hari agar setelah itu anak tetap dapat kembali ke sekolah. Selain itu, dokter pun dapat membantu orangtua memberikan diagnosa, apakah keluhan anak merupakan pertanda dari adanya stress terhadap sekolah, atau kah karena penyakit lainnya yang perlu ditangani secara seksama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bekerjasama dengan guru kelas atau asisten lain di sekolah &lt;br /&gt;Pada umumnya para guru sudah biasa menangani masalah fobia sekolah atau pun school refusal (terutama guru-guru pre-school hingga TK). Hampir setiap musim sekolah tiba, ada saja murid yang mogok sekolah atau menangis terus tidak mau ditinggal orangtuanya atau bahkan minta pulang. Orangtua bisa minta bantuan pihak guru atau pun school assistant untuk menenangkan anak dengan cara-cara seperti membawanya ke perpustakaan, mengajak anak beristirahat sejenak di tempat yang tenang, atau pada anak yang lebih besar, guru dapat mendiskusikan masalah yang sedang memberati anak. Guru yang bijaksana, tentu bersedia memberikan perhatian ekstra terhadap anak yang mogok untuk mengembalikan kestabilan emosi sambil membantu anak mengatasi persoalan yang dihadapi - yang membuatnya cemas, gelisah dan takut. Selain itu, berdiskusi dengan guru untuk meneliti faktor penyebab di sekolah (misalnya diejek teman, dipukul, dsb) adalah langkah yang bermanfaat dalam upaya memahami situasi yang biasa dihadapi anak setiap hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Luangkan waktu untuk berdiskusi/berbicara dengan anak &lt;br /&gt;Luangkan waktu yang intensif dan tidak tergesa-gesa untuk dapat mendiskusikan apa yang membuat anak takut, cemas atau enggan pergi ke sekolah. Hindarkan sikap mendesak atau bahkan tidak mempercayai kata-kata anak. Cara ini hanya akan membuat anak makin tertutup pada orangtua hingga masalahnya tidak bisa terbuka dan tuntas. Orangtua perlu menyatakan kesediaan untuk mendampingi dan membantu anak mengatasi kecemasannya terhadap sesuatu, termasuk jika masalah bersumber dari dalam rumah tangga sendiri. Orangtua perlu introspeksi diri dan kalau perlu merubah sikap demi memperbaiki keadaan dalam rumah tangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua pun dapat mengajarkan cara-cara atau strategi yang bisa anak gunakan dalam menghadapi situasi yang menakutkannya. Lebih baik membekali anak dengan strategi pemecahan masalah daripada mendorongnya untuk menghindari problem, karena anak akan makin tergantung pada orangtua, makin tidak percaya diri, makin penakut, dan tidak termotivasi untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Lepaskan anak secara bertahap &lt;br /&gt;Pengalaman pertama bersekolah tentu mendatangkan kecemasan bagi anak, terlebih karena ia harus berada di lingkungan baru yang masih asing baginya dan tidak dapat ia kendalikan sebagaimana di rumah. Tidak heran banyak anak menangis sampai menjerit-jerit ketika diantar mamanya ke sekolah. Pada kasus seperti ini, orangtua perlu memberikan kesempatan pada anak menyesuaikan diri dengan lingkungan baru-nya. Pada beberapa sekolah, orangtua/ pengasuh diperbolehkan berada di dalam kelas hingga 1 - 2 minggu atau sampai batas waktu yang telah ditentukan pihak sekolah. Lepaskan anak secara bertahap, misalnya pada hari-hari pertama, orangtua berada di dalam kelas dan lama kelamaan bergeser sedikit-demi sedikit di luar kelas namun masih dalam jangkauan penglihatan anak. Jika anak sudah bisa merasa nyaman dengan lingkungan baru dan tampak "happy" dengan teman-temannya - maka sudah waktunya bagi orangtua untuk meninggalkannya di kelas dan sudah waktunya pula bagi orangtua untuk tidak lagi bersikap overprotective, demi menumbuhkan rasa percaya diri pada anak dan kemandirian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Konsultasikan pada psikolog/konselor jika masalah terjadi berlarut-larut &lt;br /&gt;Jika anak tidak dapat mengatasi fobia sekolahnya hingga jangka waktu yang panjang, hal ini menandakan adanya problem psikologis yang perlu ditangani secara proporsional oleh ahlinya. Apalagi, jika fobia sekolah ini sampai mengakibatkan anak ketinggalan pelajaran, prestasinya menurun dan hambatan penyesuaian diri yang serius - maka secepat mungkin persoalan ini segera dituntaskan. Psikolog/ konselor akan membantu menemukan pokok persoalan yang mendasari ketakutan, kecemasan anak, sekaligus menemukan elemen lain yang tidak terpikirkan oleh keluarga - namun justru timbul dari dalam keluarga sendiri (misalnya takut dapat nilai jelek karena takut dimarahi oleh papanya). Untuk itulah konselor/ psikolog umumnya menghendaki keterlibatan secara aktif dari pihak orangtua dalam menangani masalah yang dihadapi anaknya. Jadi, orangtua pun harus belajar mengenali siapa dirinya dan menilai bagaimana perannya sebagai orangtua melalui masalah-masalah yang timbul dalam diri anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, persoalan mogok sekolah seyogyanya bukanlah masalah yang serius (kecuali ada masalah kesehatan serius). Namun jika dibiarkan berlarut-larut dapat benar-benar menjadi masalah serius. Semoga berguna.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-8422499091102050070?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/8422499091102050070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=8422499091102050070&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/8422499091102050070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/8422499091102050070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/phobia-sekolah-kategori-pendidikananak.html' title='phobia sekolah kategori pendidikan/anak'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-5117491913007813164</id><published>2008-09-03T19:27:00.000-07:00</published><updated>2008-09-03T19:37:02.195-07:00</updated><title type='text'>kategory klinis. apa itu shopaholic.</title><content type='html'>mengenal psopaholic&lt;br /&gt; Kategori Klinis  Oleh : Pudji Susilowati, S.Psi  Jakarta, 4/2/2008   &lt;br /&gt;contoh kasus:&lt;br /&gt;X adalah seseorang yang selalu tidak dapat menahan diri untuk berbelanja baju dan sepatu ketika memiliki uang padahal baju dan sepatunya sudah banyak, meskipun X tahu kalau uang itu untuk membayar kuliahnya. X tetap membelanjakan uang tersebut. Namun, setelah selesai berbelanja dan menghabiskan uangnya, X menyesal kenapa dirinya tidak mampu untuk menahan keinginannya untuk berbelanja. X merasa tersiksa dengan perilaku belanjanya ini. Selain itu, X selalu mempersepsi orang lain berdasarkan banyaknya kepemilikan harta karena baginya, orang lain akan menghormati dan menghargai jika dirinya memiliki banyak barang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini, di kota-kota besar banyak didirikan mall yang menawarkan berbagai produk-produk fashion terbaru. Hal ini akhirnya, membuat sebagian besar masyarakat sering berkunjung ke mall, apalagi bagi orang-orang yang tidak mampu menahan keinginannya untuk berbelanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, saya ingin bertanya pada Anda "Mengapa Anda membeli begitu banyak pasang sepatu dan baju namun tidak mengenakannya? Apa Anda akan mengatakan bahwa sepatu dan baju itu tampak begitu menarik tetapi sesudah membeilnya, Anda merasa kurang menyukainya?"Apakah Anda termasuk orang yang tidak mampu menahan keinginan untuk berbelanja meskipun Anda sebenarnya tidak terlalu membutuhkan barang-barang tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Anda membuka almari pakaian dan sepatu Anda maka akan Anda akan dihadapkan pada setumpuk pakaian dan sepatu dengan berbagai merek. Mungkin seringkali Anda termasuk orang yang mudah terjebak oleh keinginan Anda sendiri untuk mengkonsumsi produk-produk fashion terbaru agar tidak ketinggalan tren yang berlaku. Apalagi, pada saat ini konsumerisme dan gaya hidup hedonis telah menjamur dimana-mana sehingga menyebabkan sebagian besar orang berlomba-lomba mengumpulkan barang-barang sebanyak-banyaknya hanya karena ingin dihormati, dihargai dan agar terlihat percaya diri. Padahal kenyataannya, produk-produk fashion yang ditawarkan selalu berubah-ubah modenya sehingga Anda akan merasa tidak puas dengan apa yang Anda miliki sehingga hal ini dapat membuat Anda terjebak dalam shopaholic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, shopaholic ini dapat membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain karena dapat mengakibatkan seseorang bunuh diri dan melakukan tindak kriminalitas. Oleh karena itu, masalah shopaholic harus ditangani secara serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Definisi Shopaholic&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apa shopaholic itu? Shopaholic berasal dari kata shop yang artinya belanja dan aholic yang artinya suatu ketergantungan yang disadari ataupun tidak. Menurut Oxford Expans (dalam Rizka, 2008) dikemukakan bahwa shopaholic adalah seseorang yang tidak mampu menahan keinginannya untuk berbelanja dan berbelanja sehingga menghabiskan begitu banyak waktu dan uang untuk berbelanja meskipun barang-barang yang dibelinya tidak selalu ia butuhkan. Mungkin muncul pertanyaan dihati Anda, bagaimana gejala-gejala seseorang yang mengalami shopaholic?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala-gejala ShopaholicPerlu diketahui bahwa tidak semua orang yang suka berbelanja atau pergi ke mall dapat dikatakan shopaholic. Menurut Klinik Servo (2007), seseorang dapat dikatakan mengalami shopaholic jika menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:&lt;br /&gt;Suka menghabiskan uang untuk membeli barang yang tidak dimiliki meskipun barang tersebut tidak selalu berguna bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa puas pada saat dirinya dapat membeli apa saja yang diinginkannya, namun setelah selesai berbelanja maka dirinya merasa bersalah dan tertekan dengan apa yang telah dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat merasa stres, maka akan selalu berbelanja untuk meredakan stresnya tersebut.&lt;br /&gt;Memiliki banyak barang-barang seperti baju, sepatu atau barang-barang elektronik, dll yang tidak terhitung jumlahnya, namun tidak pernah digunakan.&lt;br /&gt;Selalu tidak mampu mengontrol diri ketika berbelanja.&lt;br /&gt;Merasa terganggu dengan kebiasaan belanja yang dilakukannya.&lt;br /&gt;Tetap tidak mampu menahan diri untuk berbelanja meskipun dirinya sedang bingung memikirkan hutang-hutangnya.&lt;br /&gt;Sering berbohong pada orang lain tentang uang yang telah dihabiskannya. Setelah Anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengetahui gejala-gejala shopaholic maka Anda dapat mulai mencermati diri Anda sendiri atau keluarga atau rekan dekat Anda apakah telah menderita shopaholic atau tidak. Mungkin muncul pertanyaan dihati Anda, apa dampak dari shopaholic?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dampak Shopaholic&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Shopaholic dapat mengakibatkan berbagai dampak yang merugikan yaitu:&lt;br /&gt;Sering mengalami kehabisan uang padahal masih awal bulan.&lt;br /&gt;Dapat mengakibatkan seseorang memiliki hutang dalam jumlah yang besar karena untuk memenuhi pikiran-pikiran obsesi untuk berbelanja dan berbelanja.&lt;br /&gt;Dapat mengakibatkan seseorang dipecat dari pekerjaannya karena melakukan pemborosan dengan menggunakan uang perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memicu seseorang untuk melakukan tindak kriminal (seperti mencuri, memeras,korupsi dll) hanya karena ingin mendapatkan uang demi memnuhi dorongan untuk belanja yang terus-menerus dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat mengakibatkan perceraian karena pasangan dari si penderita shopaholic merasa tersiksa dengan uang yang selalu dihabiskan pasangannya hanya untuk berbelanja dan berbelanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat mengakibatkan pertengkaran karena pemborosan yang dilakukan oleh penderita shopaholic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat mengakibatkan seseorang bunuh diri karena dalam dirinya selalu muncul pikiran-pikiran obsesi untuk berbelanja dan berbelanja dan si penderita merasa tersiksa jika tidak melakukan pikiran-pikiran obsesinya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari shopaholic memang sangat merugikan bagi kehidupan seseorang bahkan dapat mengancam keselamatan dirinya sendiri dan orang lain. Apakah hanya perempuan saja yang mengalami shopaholic, karena perempuan sering dijuluki kaum yang suka shopping?&lt;br /&gt;Siapa yang berpotensi mengalami Shopaholic? Menurut penelitian dikemukakan bahwa 90% penderita shopaholic adalah perempuan, namun laki-laki juga mengalami shopaholic. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Stanford University mengatakan bahwa laki-laki juga mengalami shopaholic. Dengan demikian, perempuan dan laki-laki dapat menderita shopaholic. Barang-barang apa saja yang sering dibeli oleh perempuan dan laki-laki yang mengalami shopaholic? Perempuan yang mengalami shopaholic akan lebih suka untuk membeli pakaian, make-up, perhiasan, sedangkan laki-laki akan lebih suka membeli barang elektronik seperti HP, MP3 Player, dll (&lt;a href="http://www.rasensi,nl/"&gt;www.rasensi,nl&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyebab Shopaholic&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saat ini, Anda sedang bertanya-tanya apa penyebab seseorang mengalami shopaholic? Menurut Klinikservo (2007),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada beberapa penyebab seseorang mengalami shopaholic, yaitu:&lt;br /&gt;1. Seseorang menganut gaya hidup hedonis (materialis) dan mempersepsi bahwa manusia adalah human having. Human having adalah seseorang yang cenderung mempersepsi orang lain berdasarkan apa yang dimiliki (seperti punya mobil, rumah, jabatan). Human having ini akan mengakibatkan seseorang merasa terus kekurangan, selalu diliputi kecemasan, tidak akan termotivasi untuk mengejar kebutuhan pada tingkat yang lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kecemasan yang berlebihan karena mengalami trauma di masa lalu.&lt;br /&gt;Iklan-iklan yang ditampilkan diberbagai media yang menggambarkan bahwa pola hidup konsumtif dan hedonis merupakan sarana untuk melepaskan diri dari stres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Adanya pikiran-pikiran obsesi yang tidak rasional&lt;br /&gt;Apakah shopaholic merupakan salah satu bentuk gangguan psikologis? Shopaholic merupakan salah satu bentuk dari gangguan obsesi kompulsif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa definisi dan penyebab terjadinya gangguan obsesi kompulsif? Untuk lebih jelasnya, simaklah uraian singkat tentang gangguan obsesi kompulsifApa gangguan obsesif kompulsif itu? Gangguan obsesif kompulsif adalah suatu gangguan psikologis yang ditandai dengan adanya pikiran-pikiran obsesif (pikiran-pikiran yang selalu berulang-ulang menghantui seseorang untuk melakukan suatu perilaku tertentu) dan adanya perilaku kompulsif (perilaku yang selalu dilakukan berulang-ulang, tetapi jika tidak dilakukan maka seseorang akan merasa tersiksa). Penderita obsesi kompulsif sebenarnya merasakan bahwa apa yang dilakukannya tidak rasional namun dirinya tidak mampu mengontrol kebiasaan yang dilakukannya tersebut. Apa saja gejala-gejala seseorang yang mengalami gangguan obsesif kompulsif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala-gejala Gangguan Obsesi KompulsifMenurut e-media (2007), seseorang yang mengalami gangguan obsesif kompulsif akan menunjukkan beberapa gejala-gejala yaitu merasa tertekan oleh pikiran-pikiran obsesi yang muncul dari dalam dirinya, melakukan perilaku kompulsif secara berulang-ulang untuk meredakan rasa tidak nyaman yang dirasakannya, selalu merasa cemas, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Solusi Mengatasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;ShopaholicShopaholic dapat diatasi dengan CBT (Cognitive Behavioral Therapy) dan terapi relaksasi. CBT akan membantu penderita untuk mengatasi pikiran dan perilakunya yang tidak rasional dan mencegah penderita untuk melakukan kebiasaan belanja secara terus-menerus. Selain itu, terapi relaksasi berguna untuk membantu mengurangi kecemasan dan membantu penderita untuk rileks dalam menghadapi pikiran-pikiran obsesinya yang muncul. Penderita Shopaholic juga perlu dilatih untuk membedakan antara keinginan dan kebutuhan sehingga hal dapat mulai mengontrol kebisaan belanjanya yang tidak rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi Untuk Mencegah Seseorang Menderita ShopaholicAgar Anda tidak mengalami Shopaholic maka sebaiknya sesegera mungkin Anda mengontrol diri Anda pada saat berbelanja dan mengatasi stres dengan cara yang positif. Anda dapat melakukan perencanaan pengeluaran Anda ketika akan pergi ke mall sehingga hal dapat mengontrol perilaku belanja Anda yang tidak terkontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Anda juga harus komitmen hanya membeli barang yang benar-benar Anda butuhkan bukan karena godaan sesaat. Selain itu, Anda perlu pembukukan pengeluaran-pengeluaran yang telah Anda lakukan dan mencatat barang-barang kebutuhan pokok apa saja yang memang perlu untuk dibeli sehingga Anda dapat mengontrol perilaku belanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda merasa bahwa diri Anda mengalami gangguan obsesi kompulsif, sebaiknya Anda mencari tahu, apa akar masalah yang menyebabkan Anda kain hari kian gelisah, resah, cemas, tidak bisa tenang, dsb. Sebab, obsesif kompulsif itu merupakan tanda dari adanya masalah yang tidak selesai, atau dihadapi dengan cara yang keliru, sehingga menambah persoalan baru. Setiap orang pasti bisa tahu apa masalahnya, kalau mau jujur pada diri sendiri. Tapi, memang tidak mudah untuk mau berhadapan dengan kenyataan diri. Kalau pun tidak bisa mengetahui / memformulasikan apa masalahnya, maka berkonsultasi dengan pihak yang kompeten, seperti psikolog, akan sangat membantu memberikan petunjuk, arah dan bimbingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sembuh dari shopaholic membutukan usaha dan ketekunan, kedisiplinan dan pengendalian diri. Selain itu, empati dari anggota keluarga dan penderita sangat membantu dalam mempercepat kesembuhan penderita. Dalam kehidupan sekarang yang diwarnai dengan konsumerisme, hendaknya kita menyadari bahwa manusia bukanlah human having tetapi human being. Semoga pembahasan tentang Shopaholic, dapat memberikan manfaat bagi Anda dan dapat mencegah meningkatnya problem shopaholic.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-5117491913007813164?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/5117491913007813164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=5117491913007813164&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/5117491913007813164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/5117491913007813164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/kategory-klinis-apa-itu-shopaholic.html' title='kategory klinis. apa itu shopaholic.'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-7703958506461947661</id><published>2008-09-03T19:19:00.000-07:00</published><updated>2008-09-03T19:22:22.697-07:00</updated><title type='text'>APA ITU NARSIS..?</title><content type='html'>Narisisisme dalam studi psikologiDimensi kepribadian narsistik berasal dari kriteria narsistik dalam gangguan kepribadian, namun narsisme yang kita bahas kali ini lebih ditujukan bagi individu yang masih dapat berfungsi secara normal di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narcissists characterized by a highly positive or inflated self-concept. Narcissists use a range of intrapersonal and interpersonal strategies for maintaining positive self-views.(Campbell, Rudich,&amp;amp; Sedikies , 2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita melihat kata kunci dalam narsistik yaitu: konsep diri yang terlalu melambung. Alexander Lowen dalam bukunya Narcissism: Denial of The True Self mengatakan bahwa secara psikologis, individu sudah dikatakan narsis jika mencurahkan segenap daya upaya untuk membangun image dengan mengorbankan diri sendiri. Mereka sering menipu diri demi penampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narcissist are more concerned with how they appear rather than what they feel. Indeed they deny feeling that contradict the image they seek.(Alexander Lowen, 1985)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep diri yang melambung dari orang narsis juga terlihat dari potret mereka seperti yang dideskripsikan Lowen (1985), bahwa tindakan mereka seringkali tanpa dipikir dan dirasa, manipulative, egois, haus kekuasaan dan ingin pegang kendali, tidak jujur dalam membawa diri dan tidak punya integritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERBEDAAN NARSIS DENGAN KONSEP SELF ESTEEM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas tentang self esteemTerjadi tumpang tindih antara narsistik dan self-esteem. Seringkali orang menyalahartikan definsi antara keduanya. Yang jelas, narsisme bersifat sebagai ancaman dan merusak karena terbentuk dari penilaian diri yang tidak realistik, rasional dan proporsional, sementara self-esteem (dalam kadar proporsional dan rasional / realistik) justru menguntungkan. Self-esteem merupakan derajat penilaian individu terhadap dirinya sendiri. Individu dengan self-esteem tinggi dan sehat akan menilai dirinya secara positif. Dalam interaksi dengan orang lain, ia biasanya percaya diri, dan cenderung mengarah sebagai orang yang tampil dan pemimpin dalam kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, individu yang memiliki self-esteem rendah memandang dirinya kurang. Perasaan kurang ini, bisa nyata, bisa persepsi dirinya semata. Bisa jadi sesungguhnya ia memang punya kemampuan dan cemerlang dalam skill tertentu; namun pada saat yang sama kehilangan kepercayaan diri. &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt;Self defeating behaviorStudi literature menunjukkan individu narsis memiliki perilaku seperti arogan, merendahkan orang lain, merespon ancaman ego dengan kekerasan dan agresivitas, menciptakan atribusi internal bagi kesuksesan (sukses karena kehebatan diri) dan sebaliknya atribusi eksternal ketika menghadapi kegagalan (gagal karena kesalahan lingkungan/pihak di luar diri sendiri), serta menilai masa depan secara berlebihan meski menghadapi kondisi yang tidak mendukung/kondusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Individu narsis juga tidak disukai oleh rekan sebaya/kelompoknya (meski biasanya telah menciptakan impresi diri positif) yang secara psikologis merasa dirugikan (Colvin, Block, &amp;amp; Funder, 1995 dalam Vazire &amp;amp; Funder,2006).&lt;br /&gt;"In short, as they yearn and reach for self-affirmation, [narcissists] destroy the very relationships on which they are dependent"(Vazire &amp;amp; Funder, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narsisime dalam kehidupan sosial Salah satu ciri orang narsis adalah sikap yang berlebihan dalam menilai dirinya. Sifat berlebihan ini yang menyeret diri hingga merusak ikatan sosial dan mendistorsi sikap terhadap masa depan terkait pada estimasi (memperkirakan dan membaca rencana suksesnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa studi psikologi yang mengupas narsistik terkait dengan interaksi sosial sebagian besar menggambarkan hubungan yang tidak sehat dan distorted, corrupted karena karakter ini, di antaranya; fantasi tentang ketenaran atau kekuasaan (Raskin &amp;amp; Novacek, 1991 dalam Campbell, et al 2002), merespon kritik dengan kemarahan dan atribusi pencapaian diri (Campbell, Reeder, Sedikides, &amp;amp; Elliot, 2000; Far-well &amp;amp; Wohlwend-Lloyd, 1998; Rhodewalt &amp;amp; Morf,1996 dalam Campbell et al 2002), juga sikap merendahkan orang yang dianggap mengancam (Kernis &amp;amp; Sun, 1994 dalam Keith,2002). Narsistik juga kurang mampu menjaga komitmen dan memberikan perhatian dalam interaksinya dengan orang lain (Campbell, 1999; Campbell &amp;amp; Foster, 2001 dalam Campbell et al, 2002). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perkembangan lingkungan sosial yang dinamis, kadang kita sering mendengar istilah narsis yang agak bergeser dari makna sesungguhnya. Narsis dalam bahasa gaul, menunjuk pada gaya humor antar individu yang berfungsi untuk mendorong kepercayaan diri dan penilaian diri positif, baik pada si subjek atau lawan bicaranya. Padahal seperti telah di bahas sebelumnya, bahwa seorang yang narsis punya tolok ukur yang tidak rasional-proporsional dalam menilai dirinya, baik secara individual maupun dalam interaksi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran individu narsis di atas bukan berarti susah dijumpai di lingkungan sosial kita. Orang-orang ini lebih dikenal sebagai orang sombong, yang cenderung mementingkan dirinya sendiri, menyelamatkan dirinya sendiri, kurang peka bahkan tidak memedulikan orang lain. Sikapnya jauh dari menyenangkan bahkan bisa berbuat kekerasan (seperti kekerasan verbal) demi melindungi egonya yang dirasakan terancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi karakter narsisme tidak begitu saja terlihat dalam waktu singkat. Mungkin salah satu petunjuk kilatnya adalah, ketika menemukan orang yang dengan renyahnya meremehkan atau merendahkan orang lain guna meninggikan dirinya sendiri dalam percakapan. Tentu tidak sekedar dalam nuansa kalimat, tetapi juga dari sikap dan bahasa tubuhnya. Orang yang sensi dan gampang tersinggung kalau di kasih nasehat, apalagi di tegur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri ini juga dikenal dalam teori outgroup-ingroup di mana salah satu cara untuk meninggikan kelompok adalah dengan merendahkan kelompok lain. Pada kenyataannya, hal ini terkait pada self-esteem diri (kelompok) yang rendah sehingga sangat membutuhkan pihak lain untuk direndahkan/diinjak sehingga ia (kelompok) mendapatkan dampak perasaan lebih baik, lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan untuk pekerjaan rumah (PR) kita, apakah kita sering menemui orang seperti ini, atau kita lah yang insan narsis di lingkungan kita? Bagaimana dengan kelompok sosial kita, bangsa kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Literature&lt;br /&gt;Vazire, Simine., Funder, David C. (2006) Impulsivity and the Self-Defeating Behavior of Narcissists. Personality and Social Psychology Review 2006, Vol. 10, No. 2, 154â€“165&lt;br /&gt;Campbell,W. Keith., Rudich,Eric A., Sedikides,Constantine (2002) Narcissism, Self-Esteem, and the Positivity of Self-views: Two Portraits of Self-Love. PSPB, Vol. 28 No. 3, March 2002 358-368 Â© 2002 by the Society for Personality and Social Psychology, Inc.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Narcissus/mythology"&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Narcissus/mythology&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-7703958506461947661?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/7703958506461947661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=7703958506461947661&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/7703958506461947661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/7703958506461947661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/apa-itu-narsis.html' title='APA ITU NARSIS..?'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-3273920511309616502</id><published>2008-09-03T19:09:00.000-07:00</published><updated>2008-09-03T19:17:18.703-07:00</updated><title type='text'>psikologi perkembangan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Jebakan Dalam Mengasuh Anak&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kategori Anak Oleh : Ubaydillah, AN Jakarta, 8/1/2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jebakan &lt;strong&gt;1 :&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Melarang Anak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apa yang mudah kita lakukan saat mendapati anak yang maunya sendiri atau melakukan sesuatu yang kurang sopan? Yang paling mudah adalah melarangnya dengan nada marah. Sebagai orangtua, kita "berkuasa" melarang anak, dengan berbagai macam bentuk dan cara. Atau juga melakukan kebalikannya, misalnya, dengan membiarkan. Sebagai orang dewasa, kita punya pembenaran untuk membiarkan maupun melarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sulit adalah bagaimana melihat dan menjadikan anak yang banyak maunya sendiri itu sebagai potensi kreativitas dan kemandirian yang perlu diarahkan dan dipupuk. Tapi dia tetap ingin "maunya sendiri dan sulit?" Itu pasti. Untuk menumbuhkan kreativitas dan kemandirian itu pasti tidak sesimpel memotongnya di tengah jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pakar psikologi (Human Development: 1989) menyimpulkan bahwa untuk menumbuhkan kreativitas dan orisinilitas anak-anak itu dibutuhkan beberapa penyikapan penting, antara lain:&lt;br /&gt;Menghormati hak anak untuk menginisiatifkan cara belajar yang pas untuk dirinya&lt;br /&gt;Menghormati hak anak untuk ingin tahu dan mengalami&lt;br /&gt;Menghormati hak anak untuk menolak / menerima berbagai masukan setelah mempertimbangkannya&lt;br /&gt;Mendorong anak untuk lebih merasa tertantang dalam menghadapi masalah&lt;br /&gt;Memberikan kesempatan untuk berkreasiJebakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2 : Membandingkan anak&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Apa yang mudah kita lakukan saat mendapati si anak punya prestasi sekolah yang tidak sama dengan adik atau kakaknya, lebih-lebih ditambah lagi dengan kebiasaannya yang suka melawan? Biasanya paling gampang adalah memberi judgment bahwa dia memang lain, terbelakang atau nakal, tidak seperti adik atau kakaknya yang pintar; Atau dengan memberikan permakluman bahwa memang dia sudah seperti itu dari sono-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sulit adalah bagaimana menemukan kelebihan yang tersembunyi sehingga kita tetap punya opini dan alasan positif untuk memperlakukannya secara positif. Tidak semua anak langsung ketahuan kelebihannya dengan jelas. Kita bisa membayangan bagaimana seandainya ibunya Edison itu termakan oleh omongan guru sang anak yang menyimpulkan si anak terbelakang? Untunglah si ibu tidak percaya dan melakukan hal-hal penting untuk membuktikan keyakinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jebakan 3 : Memanjakan anak&lt;/strong&gt; Apa yang mudah kita lakukan ketika punya materi berlebih dan kita pun punya idealisme untuk memiliki anak agar dapat mewarisi kekayaan dan kebesaran kita? Yang paling mudah adalah memberikan daftar kepada anak tentang sejumlah kursus yang harus dimasuki dan seperangkat disiplin yang berisi perintah dan larangan. Atau juga melakukan sebaliknya, memanjakannya dengan berbagai fasilitas sampai membuat si anak tidak tahu lagi bagaimana mencuci piring dan tidak pernah menginjak dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sulit adalah bagaimana memfasilitasi proses perkembangan atas berbagai kapasitas yang seharusnya dibutuhkan anak di tengah-tengah kemakmuran dan kemanjaan (aktualisasi diri) sehinggan anak tetap memiliki kepekaan, ketahanan, dan anti mengandalkan. Di kampung-kampung kita dulu muncul stigma seolah-olah kalau orangtua itu semakin jaya, anaknya semakin tidak benar. Karena itu ada ungkapan: "generasti pertama membangun, generasi kedua merusak." Tapi, dengan pengetahuan dan kesadaran, stigma itu sudah mulai dilawan oleh realitas. Banyak orangtua yang bagus dan bagus pula dalam mendidik anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah beberapa hal yang bisa kita sebut sebagai jebakan ekstrimitas dalam parenting. Kita cenderung memilih hal-hal mudah dengan cara terlalu membebaskan atau terlalu mengekang. Padahal hal-hal mudah itu tidak selamanya memberikan akibat yang mudah dihadapi. Apa akibatnya? Tergantung pada perjalanan hidup si anak. Kalau nanti si anak mendapatkan "hidayah", ia akan berinisiatif melakukan perbaikan dengan melakukan kebalikanya. Contohnya banyak kita temukan dari kehidupan para nabi atau orang biasa yang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bila tidak, si anak akan membawa pengaruh itu ke dalam kultur hidupnya. Inilah yang kita kenal dengan istilah bawaan (trait). Bawaan ini ada yang positif dan ada yang negatif. Bawaan ini merupakan bagian dari diri seseorang yang sulit diubah, bukan karena faktor genetik, tapi karena sudah terlalu melekat. Karena itu kita temukan ada kemalasan bawaan dan kemalasan keadaan (misalnya karena gagal usaha, dimarahi, atau mood jelek). Kemalasan keadaan itu umumnya mudah diatasi. Ada cinta ilmu bawaan dan ada cinta karena keadaan. Cinta bawaan akan membuat seseorang tidak merasa bahagia kalau ilmunya tidak bertambah meskipun kekayaannya bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak ada orangtua dan perjalanan anak yang sempurna, maka Tuhan memberikan fasilitas tambahan untuk perbaikan. Misalnya saja problem, krisis, musibah, dan hal-hal yang tidak kita inginkan lainnya. Konon, Mas Iwan Fals dulu menjadi proses parenting yang relatif "mudah". Ketika musibah terjadi, ia jadikan musibah itu sebagai perubahan ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskannyadalam enam bulan pertama." (Buckminster Fuller)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Beberapa Gaya Parenting&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Diana Baumrind (1978) mengkelompokkan berbagai gaya parenting di dunia ini menjadi empat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Authoritatif&lt;br /&gt;Orangtua yang otoritatif memberikan arahan yang kuat pada seluruh aktivitas anak, namun tetap memberikan wilayah yang bebas ditentukan si anak. Orangtua dulu menjelaskannya dengan ungkapan: "pegang kakinya namun biarkan kepalanya bergerak". Mekanisme kontrol yang dipakai tidak kaku, tidak mengancamnya dengan hukuman, dan menghilangkan batasan-batasan yang tidak terlalu penting. Orangtua berusaha memberikan perhatian supaya anak memahami hal yang mendasar sebagai hal yang mendasar dan memahami hal yang tidak mendasar sebagai hal yang tidak mendasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Authoritarian&lt;br /&gt;Orangtua yang authoritarian berusaha membentuk anak, mengontrol seluruh aktivitas anak berdasarkan nilai-nilai tradisional yang berlaku dalam keluarga, dan memberikan standar prilaku yang baku. Orangtua memegang kepalanya dan sekaligus kakinya. Orangtua lebih sering memberikan tekanan, kewajiban, menuntut ketaatan penuh, dan memberikan ancaman hukuman. Orangtua melihat anaknya adalah makhluk yang ia miliki sepenuhnya dan ingin dibentuk sesuai dengan keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Permissive&lt;br /&gt;Orangtua yang permisif cenderung mencari aman, menghindari hal-hal yang sulit, menerima atau mengikuti apa kemauan si anak secara utuh. Orangtua permisif membolehkan apa yang dinginkan anak. Anak diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengontrol tindakannya. Posisi orangtua di sini sebagai penegas saja atas apa yang dikonsultasikan anak kepadanya. Kalau anak bertanya boleh nggak minum es pada saat dia pilek, si orangtua bilang ya. Jawaban ya di situ karena orangtua tidak mau pusing mendengar anaknya menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Neglectful&lt;br /&gt;Orangtua yang neglectful di sini derajatnya lebih dari permisif. Kalau di permisif masih ada keterlibatan interaksi, tetapi untuk yang neglectful ini, orangtua sama sekali tidak terlibat kecuali sebatas memberikan kebutuhan fisik lahiriah si anak, seperti makan, minum, pakaian, atau obatan-obatan. Gaya neglectful ini sangat mudah diterapkan oleh orangtua yang bercerai atau yang sudah tidak harmonis lagi. Si ayah atau si ibu hanya berpatokan pada bukti transfer uang atau kirim wesel ke sebuah pesantren, ke kakek neneknya, atau ke sekolah berasrama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara hitam putih teori, gaya yang paling bagus adalah yang pertama, otoritatif. Orangtua memberikan arahan, patokan dan pedoman yang jelas dan tegas, namun soal tehniknya dikembalikan ke anak dengan bimbingan dan pengembangan. Apa ada orangtua yang bisa begini seratus persen dan tidak pernah terjebak ke gaya lain? Kalau di prakteknya, mungkin kita bisa bersepakat mengatakan tidak ada orangtua yang bisa melakukan itu. Pasti pernah ada melesetnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu disebutnya sebagai gaya (style). Gaya kita bukanlah diri kita seutuhnya, melainkan diri kita pada mayoritasnya. Dan yang paling penting lagi adalah tujuan akhirnya. Mungkin kita harus permisif, namun itu kita jadikan sebagai perantara untuk menjadi otoritatif. Mungkin kita harus otoritarian, namun tujuan kita akhirnya adalah otoritatif.&lt;br /&gt;"Hadapilah sesuatu yang terus berubah dengan melakukan perubahan yang terus menerus." (Tao)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Prinsip Menjadi Otoritatif:Dewasa kini sudah banyak dikembangkan berbagai tips, trik, dan teknik parenting. Ini bisa kita baca di buku, majalah, koran, internet, dan lain-lain. Namun kalau menelaah ke prakteknya, berbagai tips itu tidak bisa menggantikan sejumlah prinsip mendasar, yang jumlahnya tidak banyak, dan umumnya sudah kita ketahui. Prinsip itu mutlak dijalankan dan tidak ada penggantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranannya mirip seperti rukun dalam ibadah yang tidak bisa di-copy-paste atau membayar orang lain. Apa saja prinsip itu? Di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. KreatifDi lapangan, pasti ada perlawanan dan perdebatan. Kita sudah memberi arahan dan pedoman, misalnya jangan membeli sesuatu yang kegunaannya sedikit atau mubadzir. Tetapi si anak tetap tidak mau peduli. Jika kita kasih masukan yang lembut, dia tidak mendengar, tapi kalau kita kasih yang keras, kita takut memotong inisiatif. Bagaimana seperti ini?&lt;br /&gt;Di sinilah pentingnya kreativitas. Artinya, kita perlu merasa tertantang untuk memunculkan berbagai ide, cara, penyikapan, dan perlakuan agar si anak tetap pada pedoman utama, namun tetap memperhatikan hak dia untuk berinisiatif atau mengambil keputusan. Rasa tertantang di sini menjadi kunci, sebab kalau ini hilang, kita akan cenderung menggunakan jurus yang mudah, yaitu menang-kalah. Kalau mau main kalah-menang, kita pasti menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sabar Sabar di sini tentunya bukan membiarkan. Membiarkan adalah kelemahan, sedangakan kesabaran adalah kekuatan. Sabar adalah konsistensi untuk mengupayakan hal-hal yang baik atau yang bermanfaat lebih banyak, meskipun kita menghadapi penolakan atau hasilnya belum ketahuan. Pesan agama yang paling mendasar tentang kesabaran adalah jangan sampai kita memberikan reaksi negatif atas realitas permukaan. Reaksi ini sangat terkait dengan pemahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja kita merasa bahwa pola asuh yang sudah kita perjuangkan sebegitu rupa selama ini tidak memberikan diferensiasi apa-apa pada anak kita. Menurut kita, biasa-biasa saja atau sama seperti anak orang lain yang diasuh secara ekstrim, dan semisalnya. Perasaan seperti ini bisa menggagalkan konsistensi kita. Padahal, secara konsepnya, semua orang punya kapasitas untuk menjadi konsisten asalkan terus mengembangkan kemampuannya dalam melihat dan memahami realitas ke tingkat yang lebih substansial atau esensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau melihat bukti-bukti dari realitas yang lebih esensial, pola asuh tertentu itu pasti menghasilkan pribadi anak yang tertentu juga. Bahwa ada perbedaan yang cepat kelihatan dan ada yang lambat, ini soal proses dan keunikan juga. Ibarat orang yang menanam benih, tentu saja tergantung benihnya. Kalau yang kita tanam kelapa, pasti lama. Intinya, tanpa kesabaran kita akan gagal menjadi otoritatif meskipun sudah menerapkan berbagai tip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Peduli Semua orangtua punya naluri untuk peduli pada anak. Bedanya, ada kepedulian yang digerakkan oleh dorongan untuk memenuhi kebutuhan anak berdasarkan perkembangannya. Orangtua melihat perkembangan anak lalu hasilnya digunakan untuk memberi sesuatu. Ada kepedulian yang digerakkan oleh keinginan subyektif orangtua saja. Orangtua memberi si anak tanpa / kurang melihat kebutuhannya. Ada juga kepedulian yang dikalahkan oleh egoisme, kemarahan, dan rasa malu sehingga tampilannya menjadi tidak peduli. Untuk menjadi otoritatif, peduli yang paling dibutuhkan adalah peduli yang dihasilkan dari bacaan kita terhadap perkembangan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bisa kita praktekkan nanti setelah punya buah hati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-3273920511309616502?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/3273920511309616502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=3273920511309616502&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/3273920511309616502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/3273920511309616502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/psikologi-perkembangan-anak.html' title='psikologi perkembangan'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-4888602912063485132</id><published>2008-09-03T08:38:00.001-07:00</published><updated>2008-09-03T08:40:30.505-07:00</updated><title type='text'>tips cara menghilangkan kecemasan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;bagaimana menghilangkan kecemasan, ada beberapa tip sederhana&lt;br /&gt;menghilangkan kecemasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;1. Yakinlah Kecemasan BUKAN Berasal dari Dalam&lt;br /&gt;Kebanyakan kita percaya bahwa seluruh hidup ini patut dicemaskan! Untuk&lt;br /&gt;mengatasi kecemasan ini secara efektif, Anda mesti menyadari bahwa Anda&lt;br /&gt;TIDAK perlu mencemaskan hidup Anda, Sebagai manusia biasa, Anda pun juga&lt;br /&gt;tidak berbeda dengan orang lain. Jika orang lain mampu mengatasi kecemasan,&lt;br /&gt;itu berarti Anda pun bisa! Anda hanya perlu mendapat pedoman, pengertian dan&lt;br /&gt;rencana aksi yang tepat untuk mewujudkan sesuatu perubahan. Percayalah,&lt;br /&gt;sudah banyak berhasil, keberhasilan ini tidak bisa diraih dalam semalam. Ada&lt;br /&gt;proses yang harus dilalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Anda tidak Harus Cerdas dan Sempurna&lt;br /&gt;karena semua orang pasti mengalami ketidaksempurnaan, dan semua orang itu&lt;br /&gt;tidak pernah melakukan sesuatu dengan sempurna, begitu pun anda, anda tidak&lt;br /&gt;harus sempurna juga bukan. jadi kenapa harus cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sesungguhnya Dunia menginginkan Anda Berhasil&lt;br /&gt;Sesungguhnya, sebagian besar dari orang di dunia ini sangat takut terhdap&lt;br /&gt;perubaha banyak.ketika Anda bergerak, dunia tahu risiko kegagalan yang Anda&lt;br /&gt;ambil ketika Anda bergera maju Mereka mengagumi keberanian Anda mengambil&lt;br /&gt;risiko itu. Mereka akan di pihak Anda, apa pun yang terjadi. Ini artinya,&lt;br /&gt;sebagian besar khalayak itu bisa memahami jika Anda membuat kesalahan.&lt;br /&gt;Tingkat toleransi mereka terhadap kesalahan Anda cukup tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Berolah raga lah. olakukan olah raga ringan setiap pagi minimal&lt;br /&gt;jalan-jalan selama 15 s/d 30 menit.Jika selama olah raga tersebut pikiran&lt;br /&gt;kita isi dengan hal-hal yang positif (bersyukur, mengangumi keindahan alam&lt;br /&gt;dsb) maka pikiran kita akan lebih fresh dan jernih untuk&lt;br /&gt;mengerjakan/melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ambil jarak terhadap masalah yang ada. Lakukan analisa dan jika perlu&lt;br /&gt;minta pendapat orang lain agar lebih objektif. Endapkan hasil analisa tsb.&lt;br /&gt;beberapa hari sebelum Anda membuat keputusan. Apabila telah Anda putuskan,&lt;br /&gt;terima apapun hasilnya sebagai resiko.Bagaimana jika kecemasan menyerang&lt;br /&gt;secara tiba tiba ? Hentikan aktifitas yang sedang Anda lakukan. Jika&lt;br /&gt;mungkin, pilih tempat yang lapang / terbuka. Bernafaslah lebih dalam dan&lt;br /&gt;lambat. Lakukan gerakan ringan untuk melemaskan otot otot Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memang perubahan sebesar apa pun lebih mudah diucapkan daripada&lt;br /&gt;dilaksanakan. Kita sering lebih suka bermain di wilayah penderitaan yang&lt;br /&gt;sudah kita kenal ketimbang di wilayah metamorfosis yang belum kita kenal.&lt;br /&gt;Setiap hari, cara berpikir, cara bertindak, dan cara kita merasakan, akan&lt;br /&gt;membentuk kontur hidup kita. Kita harus mempunyai komitmen untuk menghormati&lt;br /&gt;perubahan; dan transformasi secara alamiah akan terjadi dengan sendirinya.&lt;br /&gt;Banyak orang jadi ragu, cemas, khawatir ketika mau memulai sesuatu yang&lt;br /&gt;baru. Yang kadang berlebihan ketika sebelumnya pernah mengalami hal yang&lt;br /&gt;sama namun meninggalkan trauma kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi diatas kecemasan itu kita harus Tetap optimis sehingga dapat meluluhkan&lt;br /&gt;kecemasan tersebut. Untuk menghilangkan rasa cemas itu kita harus menghadapi&lt;br /&gt;hidup dengan ketenangan dan senyuman. Sambutlah kebahagiaan hidup. Lewati&lt;br /&gt;semua halang rintang dan lika-liku dalam perjalanan kehidupan. Jangan pernah&lt;br /&gt;memejamkan mata setelah melihat masalah yang nyata, hidup jangan dibuat&lt;br /&gt;susah. Hadapi hidup apa yang sekarang ada di depanmu, lawan Cemas, Ragu dan&lt;br /&gt;takut. Maka Hadapilah cemas dalam menghadapi tantangan, ayo rubah cemas&lt;br /&gt;menjadi senyum....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-4888602912063485132?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/4888602912063485132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=4888602912063485132&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/4888602912063485132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/4888602912063485132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/tips-cara-menghilangkan-kecemasan.html' title='tips cara menghilangkan kecemasan'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-5513477858580678526</id><published>2008-09-03T08:26:00.000-07:00</published><updated>2008-09-03T08:29:54.964-07:00</updated><title type='text'>lakukan senam otak untuk sehatkan pikiran.</title><content type='html'>Seringkali kita menggunakan organ tubuh sebelah kanan. Penggunaan organ tubuh sebelah kanan dalam waktu yang terus menerus, dapat menyebabkan otak kiri terbebani. Hal ini terjadi, karena sistem kerja otak dan tubuh kita menyilang. Kondisi yang demikian menyebabkan otak kanan dan otak kiri menjadi timpang, tidak seimbang. Menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri sangat penting. Otak kanan biasanya berisi hal-hal yang bersifat emosional, seni, dan berperasaan. Sedangkan otak kiri lebih bersifat rasional dan abstrak. Umumnya, otak sebelah kanan banyak digunakan oleh wanita, dan otak kiri lebih banyak digunakan untuk pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senam otak dapat membantu memaksimalkan kerja otak kanan dan otak kiri. Senam otak terkait dengan ilmu gerak tubuh, yaitu gerakan tubuh yang dirangkai dan dipadukan, sehingga dapat membantu memaksimalkan fungsi otak. Senam otak akan memfasilitasi agar beban otak kanan dan otak kiri sama dan seimbang. Senam otak tidak hanya untuk mereka yang berusia lanjut. Senam otak juga baik dilakukan oleh ibu-ibu hamil, karena dapat membantu meredakan ketegangan, menyiapkan otot-otot, atau berefek relaksasi saat persalinan. Senam otak juga penting dilakukan bayi, anak yang berusia di bawah 3 tahun, atau usia pra sekolah. Mereka yang sering merasa was-was dan stres juga sangat baik melakukan senam ini. Senam otak dapat membuat orang yang melakukannya :&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Terhindar dari rasa stres&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Merasa lebih awet muda&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Dapat menyikapi permasalahan dengan lebih tenang&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Bugar, sehat, dan fit&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Menunda kedatangan menopause&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Sebagai sarana untuk mencegah dan memudahkan penyembuhan terhadap penyakit&lt;br /&gt;Senam otak sangat mudah dilakukan dan sederhana. Gerakan senam otak ini haruslah dilakukan secara berurutan. Awali dengan minum air putih secukupnya, untuk membantu memberikan energi langsung ke otak, membantu pencernaan, dan metabolisme tubuh. Anda dapat melakukannya hanya dengan menghabiskan waktu sekitar 7 menit setiap berlatih. Urutan gerakannya antara lain seperti :&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Minum air putih secukupnya.&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Lakukan pernafasan perut (menghirup lalu mengeluarkannya kembali sebanyak 4 hingga 8 kali).&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Melihat ke kanan dan ke kiri selama 4 hingga 8 kali dengan melakukan pernafasan perut.&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Santai selama 4 hingga 8 kali pernafasan perut.&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Letakkan kaki rata di atas lantai. Ujung-ujung jari tangan dan kaki saling bersentuhan selama 4 hingga 8 kali pernafasan perut.&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Rentangkan kedua tangan Anda seluas mungkin dan senyaman mungkin. Gerakan ini dilakukan untuk memadukan otak. Sementara itu bayangkan otak kiri dan otak kanan menjadi satu, dengan menyatukan kedua tangan selama 4 hingga 8 kali pernafasan perut.&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Sentuh titik-titik di bagian kepala bagian kiri dan kanan selama 4 hingga 8 kali pernafasan perut.&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Silangkan kaki secara bergantian sebanyak 10 hingga 25 kali.&lt;br /&gt;Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga kesegaran otak :&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Hindari rasa stres, cemas, dan depresi.&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Hindari polusi. Udara yang polusi dapat mengakibatkan berkurangnya oksigen yang terserap ke otak, sehingga otak tidak dapat berkembang dengan optimal.&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Makanlah makanan yang bergizi.&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Berolahraga secara teratur untuk menjaga keseimbangan otak dan memaksimalkannya.&lt;br /&gt;Sumber : http://www.info-sehat.com/content.php?s_sid=1417&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-5513477858580678526?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/5513477858580678526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=5513477858580678526&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/5513477858580678526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/5513477858580678526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/lakukan-senam-otak-untuk-sehatkan.html' title='lakukan senam otak untuk sehatkan pikiran.'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-382544729418554428</id><published>2008-09-03T08:13:00.000-07:00</published><updated>2008-09-03T08:22:24.486-07:00</updated><title type='text'>mengenal konsep diri</title><content type='html'>1. Percaya akan kompetensi/kemampuan diri, hingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan, atau pun rasa hormat orang lain&lt;br /&gt;Tidak terdorong untuk menunjukkan sikap konformis demi diterima oleh orang lain atau kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain – berani menjadi diri kamu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Punya pengendalian diri yang baik (tidak moody dan emosi kamu kudu stabil)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memiliki internal locus of control (memandang keberhasilan atau kegagalan, tergantung dari usaha diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak tergantung/mengharapkan bantuan orang lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang lain dan situasi di luar dirinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Menganggap manusia sama, sama-sama punya makhluk ciptaan Allah yang memiliki kelemahan dan kelebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalam&lt;br /&gt;semoga bermanfaat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-382544729418554428?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/382544729418554428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=382544729418554428&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/382544729418554428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/382544729418554428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/tips-cara-meningkatkan-konsep-diri.html' title='mengenal konsep diri'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-5690135562000004202</id><published>2008-09-03T07:51:00.000-07:00</published><updated>2008-09-03T08:07:37.681-07:00</updated><title type='text'>MENGENAL ILMU  PSIKOLOGI</title><content type='html'>&lt;strong&gt;ABOUT PSYCHOLOGY&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Psikologi dari bahasa Yunani Kuno: psyche = jiwa dan logos = kata) dalam arti bebas psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa/mental. Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya, sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental&lt;br /&gt;Daftar isi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sejarah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikologi adalah ilmu yang tergolong muda (sekitar akhir 1800an.) Tetapi, orang di sepanjang sejarah telah memperhatikan masalah psikologi. Seperti filsuf yunani terutama Plato dan Aristoteles. Setelah itu St. Augustine (354-430) dianggap tokoh besar dalam psikologi modern karena perhatiannya pada intropeksi dan keingintahuannya tentang fenomena psikologi. Descrates (1596-1650) mengajukan teori bahwa hewan adalah mesin yang dapat dipelajari sebagaimana mesin lainnya. Ia juga memperkenalkan konsep kerja refleks. Banyak ahli filsafat terkenal lain dalam abad tujuh belas dan delapan belas—Leibnits, Hobbes, Locke, Kant, dan Hume—memberikan sumbangan dalam bidang psikologi. Pada waktu itu psikologi masih berbentuk wacana belum menjadi ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikologi kontemporer&lt;br /&gt;Diawali pada abad ke 19, dimana saat itu berkembang 2 teori dalam menjelaskan tingkah laku, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikologi Fakultas&lt;br /&gt;Psikologi fakultas adalah dokrin abad 19 tentang adanya kekuatan mental bawaan, menurut teori ini, kemampuan psikologi terkotak-kotak dalam beberapa ‘fakultas’ yang meliputi: berpikir, merasa, dan berkeinginan. Fakultas ini terbagi lagi menjadi beberapa subfakultas: kita mengingat melalui subfakultas memori, pembayangan melalui subfakultas imaginer, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikologi Asosiasi&lt;br /&gt;Bagian dari psikologi kontemporer abad 19 yang mempercayai bahwa proses psikologi pada dasarnya adalah ‘asosiasi ide.’ Dimana ide masuk melalui alat indra dan diasosiasikan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu seperti kemiripan, kontras, dan kedekatan.&lt;br /&gt;Dalam perkembangan ilmu psikologi kemudian, ditandai dengan berdirinya laboratorium psikologi oleh Wundt (1879.) Pada saat itu pengkajian psikologi didasarkan atas metode ilmiah (eksperimental.) Juga mulai diperkenalkan metode intropeksi, eksperimen, dsb. Beberapa sejarah yang patut dicatat antara lain: F. Galton &gt; merintis test psikologi. C. Darwin &gt; memulai melakukan komparasi dengan binatang. A. Mesmer &gt; merintis penggunaan hipnosis S. freud &gt; merintis psikoanalisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikologi Sebagai Ilmu Pengetahuan&lt;br /&gt;Walaupun sejak dulu telah ada pemikiran tentang ilmu yang mempelajari manusia dalam kurun waktu bersamaan dengan adanya pemikiran tentang ilmu yang mempelajari alam, akan tetapi karena kekompleksan dan kedinamisan manusia untuk dipahami, maka psikologi baru tercipta sebagai ilmu sejak akhir 1800-an yaitu sewaktu Wilhem Wundt mendirikan laboratorium psikologi pertama didunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laboratorium Wundt&lt;br /&gt;Pada tahun 1879 Wilhem Wundt mendirikan laboratorium Psikologi pertama di University of Leipzig, jerman. Dengan Berdirinya laboratorium ini, metode ilmiah untuk lebih mamahami manusia telah ditemukan walau tidak terlalu memadai. dengan berdirinya laboratorium ini pula, lengkaplah syarat psikologi untuk menjadi ilmu pengetahuan, sehingga tahun berdirinya laboratorium Wundt diakui pula sebagai tanggal berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Berdirinya Aliran Psikoanalisa&lt;br /&gt;Berdirinya Aliran Behavioris&lt;br /&gt;Berdirinya Aliran Fenomenologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="Fungsi_Psikologi_Sebagai_Ilmu"&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;Fungsi Psikologi Sebagai Ilmu&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Psikologi memiliki tiga fungsi sebagai ilmu yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menjelaskan&lt;br /&gt;Yaitu mampu menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasilnya penjelasan berupa deskripsi atau bahasan yang bersifat deskriptif.&lt;br /&gt;Memprediksikan&lt;br /&gt;Yaitu mampu meramalkan atau memprediksikan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasil prediksi berupa prognosa, prediksi atau estimasi.&lt;br /&gt;2. Pengendalian&lt;br /&gt;Yaitu mengendalikan tingkah laku sesuai dengan yang diharapkan. Perwujudannya berupa tindakan atau treatment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;Pendekatan Psikologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tingkah laku dapat dijelaskan dengan cara yang berbeda-beda, dalam psikologi sedikitnya ada 5 cara pendekatan, yaitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendekatan Neurobiological&lt;br /&gt;Tingkah laku manusia pada dasarnya dikendalikan oleh aktivitas otak dan sistem syaraf. Pendekatan neurobiological berupaya mengaitkan prilaku yang terlihat dengan implus listrik dan kimia yang terjadi didalam tubuh serta menentukan proses neurobiologi yang mendasari prilaku dan proses mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pendekatan Prilaku&lt;br /&gt;Menurut pendekatan ini tingkah laku pada dasarnya adalah respon atas stimulus yang datang. Secara sederhana dapat digambarkan dalam model S – R atau suatu kaitan Stimulus – Respon. Ini berarti tingkah laku itu seperti reflek tanpa kerja mental sama sekali. Pendekatan ini dipelopori oleh J.B. Watson kemudian dikembangkan oleh banyak ahli, seperti Skinner, dan melahirkan banyak sub-aliran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pendekatan Kognitif&lt;br /&gt;Pendekatan ini menekankan bahwa tingkah laku adalah proses mental, dimana individu (organisme) aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan, dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Jika dibuatkan model adalah sebagai berikut S – O – R. Individu menerima stimulus lalu melakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Pendekatan Psikoanalisa&lt;br /&gt;Pendekatan ini dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, implus, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Pendekatan Fenomenologi&lt;br /&gt;Pendekatan ini lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif individu karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah laku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kajian Psikologi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Psikologi adalah ilmu yang luas dan ambisius, dilengkapi oleh biologi pada perbatasannya dengan ilmu alam dan dilengkapi oleh sosiologi dan anthropologi pada perbatasannya dengan ilmu sosial. beberapa kajian ilmu psikologi diantaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Psikologi perkembangan&lt;br /&gt;Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari perkembangan manusia dan faktor-faktor yang membentuk prilaku seseorang sejak lahir sampai lanjut usia. Psikologi perkembangan berkaitan erat dengan psikologi sosial, karena sebagian besar perkembangan terjadi dalam konteks adanya interaksi sosial. Dan juga berkaitan erat dengan psikologi kepribadian, karena perkembangan individu dapat membentuk kepribadian khas dari individu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Psikologi sosial&lt;br /&gt;mempunyai 3 ruang lingkup, yaitu :&lt;br /&gt;studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individu, misalnya : studi tentang persepsi, motivasi proses belajar, atribusi (sifat)&lt;br /&gt;studi tentang proses-proses individual bersama, seperti bahasa, sikap sosial, perilaku meniru dan lain-lain&lt;br /&gt;studi tentang interaksi kelompok, misalnya : kepemimpinan, komunikasi hubungan kekuasaan, kerjasama, persaingan, konflik;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Psikologi kepribadian&lt;br /&gt;Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, psikologi kepribadian berkaitan erat dengan psikologi perkembangan dan psikologi sosial, karena kepribadian adalah hasil dari perkembangan individu sejak masih kecil dan bagaimana cara individu itu sendiri dalam berinteraksi sosial dengan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Psikologi kognitif&lt;br /&gt;Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari kemampuan kognisi, seperti: Persepsi, proses belajar, kemampuan memori, atensi, kemampuan bahasa dan emosi. Wilayah Aplikasi Psikologi&lt;br /&gt;Wilayah Aplikasi psikologi adalah wilayah-wilayah dimana kajian psikologi dapat diterapkan. walaupun demikian, belum terbiasanya orang-orang indonesia dengan spesialisasi membuat wilayah aplikasi ini rancu. misalnya, seorang ahli psikologi pendidikan mungkin saja bekerja pada HRD sebuah perusahaan, atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Psikologi pendidikan&lt;br /&gt;Psikologi pendidikan adalah perkembangan dari psikologi perkembangan dan psikologi sosial, sehingga hampir sebagian besar teori-teori dalam psikologi perkembangan dan psikologi sosial digunakan di psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan mempelajari bagaimana manusia belajar dalam setting pendidikan, keefektifan sebuah pengajaran, cara mengajar, dan pengelolaan organisasi sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Psikologi sekolah&lt;br /&gt;Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi.&lt;br /&gt;Psikologi Industri dan Organisasi&lt;br /&gt;Psikologi industri memfokuskan pada menggembangan, mengevaluasi dan memprediksi kinerja suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh individu, sedangkan psikologi organisasi mempelajari bagaimana suatu organisasi memengaruhi dan berinteraksi dengan anggota-anggotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Psikologi Kerekayasaan&lt;br /&gt;Penerapan Psikologi yang berkaitan dengan interaksi antara manusia dan mesin untuk meminimalisasikan kesalahan manusia ketika berhubungan dengan mesin (human error).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Psikologi Klinis&lt;br /&gt;Adalah bidang studi psikologi dan juga penerapan psikologi dalam memahami, mencegah dan memulihkan keadaan psikologis individu ke ambang normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Salah Kaprah Tentang Psikologi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Psikologi Bukan Ilmu Pengetahuan&lt;br /&gt;Psikologi telah memiliki syarat untuk dapat berdiri sendiri sebagai ilmu pengetahuan terlepas dari Filsafat. (Syarat Ilmu Pengetahuan: Memiliki Objek (Tingkah laku), memiliki Metode Penelitian (sejak laboratorium Wundt didirikan psikologi telah membuktikan memiliki Metode Ilmiah),sistematis,dan bersifat universal.&lt;br /&gt;Lihat keterangan lebih lanjut dari bahasan ini dalam artikel Kontroversi ilmu psikologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Salah Penggolongan&lt;br /&gt;Berbagai hal yang berbau kepribadian sering dimasukan kedalam psikologi, semisal: ramalan-ramalan seputar kepribadian (palmistry, chirology, dll.) sehingga terbentuk pandangan tentang psikologi bukanlah ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Terjebak Dengan Kata Psikotes&lt;br /&gt;Psikologi bukan hanya psikotes, tetapi inilah bagian dari psikologi yang paling populer di masyarakat. banyak kalangan yang sinis dengan psikologi karena psikotes, bagaimana psikolog dapat memvonis potensi seseorang dengan hanya selembar test? tidak, masih banyak metode lain yang dapat digunakan, akan tetapi (misalkan dalam test lamaran pekerjaan) sangat tidak mungkin menerapkan semua metode yang dimiliki psikologi dalam waktu yang sempit dan klien yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Psikologi Melakukan De-humanisasi&lt;br /&gt;kebalikannya, psikologi memandang setiap individu adalah unik, bahkan psikotes dilakukan untuk lebih memahami keunikan dari setiap individu. Justru, kalangan yang menyamaratakan setiap individu secara tidak langsung memvonis manusia adalah robot (dehumanisasi) yang tidak memiliki keunikan satu sama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Parapsikologi Bagian dari Psikologi&lt;br /&gt;Parapsikologi walaupun terdapat nama psikologi bukanlah psikologi ataupun cabang dari ilmu psikologi. parapsikologi berkembang tersendiri terlepas dari psikologi. parapsikologi mempelajari semua hal yang berhubungan dengan manusia dan pikirannya (dalam hal ini, sebagian besar dengan ramalan) sedangkan psikologi hanya mempelajari tingkah laku manusia yang dapat dilihat (observerble) dan dapat diukur (measureable).&lt;br /&gt;&lt;a name="Referensi"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Referensi&lt;br /&gt;Atkinson, Pengantar Psikologi. Interaksara, Batam. (2 jilid)&lt;br /&gt;Chaplin, James P., Kamus Lengkap Psikologi. Rajawali Press, Jakarta, 2005.&lt;br /&gt;Sudarsono, Pengantar Kuliah Psikologi Umum, Fak. psikologi Unas Pasim, 2004.&lt;br /&gt;Suryabrata, Sumadi, Psikologi Kepribadian. Rajawali Press, Jakarta, 1982.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-5690135562000004202?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/5690135562000004202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=5690135562000004202&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/5690135562000004202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/5690135562000004202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/mengenal-ilmu-psikologi.html' title='MENGENAL ILMU  PSIKOLOGI'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-1517912323946336603</id><published>2008-09-01T23:51:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T00:00:14.071-07:00</updated><title type='text'>Tips membaca cepat, praktis dan langsung nyerap.</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Ada beberapa faktor yang menyebabkan kecepatan baca seseorang terhambat, antara lain&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.     Vokalisasi, yaitu membaca sambil bersuara atau mengucapkan kata demi kata yang dibaca.&lt;br /&gt;b.     Gerakan bibir pada waktu membaca baik bersuara mauapun tak bersuara.&lt;br /&gt;c.      Gerakan kepala mengikuti kata-kata yang dibacanya.&lt;br /&gt;d.     Menunjuk (dengan jari atau alat lain) kata-kata yang dibaca pada waktu membaca.&lt;br /&gt;e.     Regresi, yaitu gerakan mata melihat kembali beberapa kata yang telah dibacanya.&lt;br /&gt;f.       Subvokalisasi, yaitu melafalkan apa yang dibacanya dalam hati atau pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan kecepatan baca kita, pertama-tama kita perlu mengukur kecepatan baca kita. Untuk itu perlu diadakan pengukuran kecepatan baca kita. Rumusnya :&lt;br /&gt;(Jumlah kata yang dibaca dibagi jumlah detik untuk membaca dikalikan 60) dikalikan prosentase pemahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecepatan baca bergantung pada kebutuhan dan bahan yang dihadapinya. Pada umumnya kecepatan baca dapat dirinci sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.     Membaca secara skimmming dan scannning (lebih dari 1000 kpm)&lt;br /&gt;Tipe membaca seperti ini biasanya digunakan untuk&lt;br /&gt;-         mengenal bahan-bahan yang akan dibaca&lt;br /&gt;-         mencari jawaban atas pertanyaan tertentu&lt;br /&gt;-         mendapat struktur dan organisasi bacaan serta menentukan gagasan umum dari bacaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.     Membaca dengan kecepatan tingngi (500 – 800 kpm)&lt;br /&gt;Tipe membaca seperti ini biasanya digunakan untuk&lt;br /&gt;-         membaca bahan-bahan yang mudah dan telah dikenali sebelumnya&lt;br /&gt;-         membaca novel ringan untuk mengikuti jalan ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.      Membaca secara cepat (350 – 500 kpm)&lt;br /&gt;      Biasanya digunakan untuk&lt;br /&gt;-         membaca bacaan yang mudah dalam bentuk deskripsi dan bahan-bahan nonfiksi.&lt;br /&gt;-         Membaca fiksi yang agak sulit untuk menikmati keindahan sastranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.     Membaca dengan kecepatan rata-rata (250 – 350 kpm)&lt;br /&gt;Biasanya digunakan untuk&lt;br /&gt;-         membaca fiksi yang komplek untuk analisis watak dan jalan ceritanya.&lt;br /&gt;-         Membaca nonfiksi yang agak sulit untuk mendapatkan detail, mencari hubungan,evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.     Membaca lambat (100 – 125 kpm)&lt;br /&gt;Biasanya digunakan untuk&lt;br /&gt;-         mempelajari bahan-bahan yang sulit dan untuk menguasai isinya.&lt;br /&gt;-         Menguasai bahan-bahan ilmiah yang sulit dan bersifat teknis&lt;br /&gt;-         Membuat analisis bahan-bahan bernilai sastra klasik&lt;br /&gt;-         Memecahkan persoalan yang ditunjuk dengan bacaan yang bersifat instruksional (petunjuk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;MEMBACA PEMAHAMAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Membaca pemahaman berkaitan erat dengan usaha memahami hal-hal penting dari apa yang dibacanya. Yang dimaksud membaca pemahaman atau komprehensi adalah kemampuan membaca ntuk mengerti ide pokok, detail penting, dan seluruh pengertian. Pemahaman ini berkaitan erat dengan kemampuan mengingat bahan yang dibacanya. Usaha efektif untuk memahami dan mengingat lebih lama dapat dilakukan dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.     mengorganisasikan bahan yang dibacanya dalam kaitan yang mudah dipahami.&lt;br /&gt;b.     Mengaitkan fakta yang satu dengana fakta yang lain atau menghubungkannya dengan fakta dan konteks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat pemahaman dalam membaca berkaitan pula dengan sistem membaca yang dipakainya. Umumnya orang cendenrung langsung membaca teks tanpa mempersiapkan prakondisi sehingga pembacaaan terssebut menjadi efektif.&lt;br /&gt;Ada beberapa sistem membaca, antara lain&lt;br /&gt;1. SQ3R      : survey-question-read-recite-review&lt;br /&gt;2. SQ4R      : survey-question-read-recite-rite-review&lt;br /&gt;3. POINT     : purpose-overview-interpret-note-test&lt;br /&gt;4. OK4R      : overview-key ideas-read-summarize-test&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahsatu sistem yang banyak dikenal dan dipakai orang adalah SQ3R. Sistem membaca SQ3R dikemukakan oleh Francis P. Robinson pada tahun 1941. SQ3R merupakan proses membaca yang terdiri dari lima langkah, yaitu&lt;br /&gt;1.     SURVEI&lt;br /&gt;Survei atau prabaca adalah teknik mengenal bahan sebelum membacanya secara lengkap. Tujuan srvei adalah&lt;br /&gt;mempercepat menangkap arti&lt;br /&gt;mendapatkan abastrak&lt;br /&gt;mengetahui ide-ide penting&lt;br /&gt;melihan susunan (organisasi) bahan bacaan.&lt;br /&gt;Mendapatkan minat perhatian yang seksama terhadap bacaan.&lt;br /&gt;Memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah.&lt;br /&gt;Ada beberapa teknik dalam melakukan survei. Untuk tiap jenis bacaan, teknik surveinya berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekni survei buku&lt;br /&gt;- telusuri daftar isinya&lt;br /&gt;- baca kata pengantar&lt;br /&gt;- lihat tabel, grafik&lt;br /&gt;- lihan apendiks&lt;br /&gt;- telusuri indeks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik survei bab&lt;br /&gt;- lihat paragraf pertama dan terakhir&lt;br /&gt;- lihat ringkasan&lt;br /&gt;              - lihat subjudul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik survei artikel&lt;br /&gt;- baca judul&lt;br /&gt;- baca semua subjudul&lt;br /&gt;              - amati tabel&lt;br /&gt;              - baca pengantar&lt;br /&gt;              - baca kalimat pertama subbab&lt;br /&gt;              - buatlah keputusan (dibaca atau tidak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik survei klipping&lt;br /&gt;- perhatikan judul&lt;br /&gt;- perhatikan penulisnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.     QUESTION&lt;br /&gt;Pada langkah ini kita mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya tentang isi bacaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.     READ&lt;br /&gt;Perlu disadari bahwa membaca merupakan langkah ketiga, bukan langkah pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.     RECITE/RECALL&lt;br /&gt;Pada tahap ini Anda dapat membuat catatan seperlunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.     REVIEW&lt;br /&gt;Pada tahal ini Anda mencoba mengingat kembali dengan membaca ulang bacaan yang Anda baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menemukan Ide Pokok Wacana&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Memahami suatu teks berarti memahami ide pokok yang hendak disampaikan oleh penulis teks tersebut. Untuk itu fokus pembacaan haruslah diletakkan pada usaha memahami ide pokok penulis. Ide pokok suatu buku dapat dikenali dalam&lt;br /&gt;a.     ikhtisar umum yang ada di awal buku&lt;br /&gt;b.     ikhtisar bab&lt;br /&gt;c.      ikhtisar bagian bab&lt;br /&gt;d.     ide pokok paragraf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang orang terlalu membuang waktu untuk detail sebelum dia menemukan ide pokoknya. Detail adalah fakta atau informasi yang dikemas dalam paragraf untuk membuktikan, menjabarkan, dan memberikan contoh yang mendukung ide pokok. Salahsatu cara mengenali detail penting adalah dengan mencari petunjuk-petunjuk yang digunakan oleh penulis untuk membantu pembaca, antara lain dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.     ditulis cetak miring&lt;br /&gt;b.     digarisbawahi&lt;br /&gt;c.      dicetak tebal&lt;br /&gt;d.     dibubuhi angka-angka&lt;br /&gt;e.     ditulis dengan kode huruf (a,b,c,d)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata kunci merupakan kata penuntun untuk membantu mengetahui jalan pikiran penulis. Kata kunci antara lain&lt;br /&gt;a.     ungkapan penekanan&lt;br /&gt;b.     kata yang mengubah arah&lt;br /&gt;c.      kata ilustrasi&lt;br /&gt;d.     kata tambahan&lt;br /&gt;e.     kata simpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;strong&gt;MEMBACA KRITIS&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Membaca secara kritis adalah cara membaca dengan melihat motif penulis dan menilainya. Dengan demikian, pembca tidak sekedar membaca, melainkan juga berpikir tentang masalah yang dibahas. Hal yang harus diingat dalam membaca kritis adalah bahwa tidak semua yang ditulis itu benar.&lt;br /&gt;Untuk itu kita harus mengikuti jalan pikiran penulis dengan cepat, akurat, dan kritis. Akurat artinya mampu membedakan hal yang relevan dan tidak relevan. Kritis artinya menerima pemikiran yang ditulis dengan dasar yang baik, logis, benar, dan realistis.&lt;br /&gt;Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam membaca kritis adalah&lt;br /&gt;a.     mengerti isi bacaan&lt;br /&gt;b.     menguji sumber penulisan&lt;br /&gt;c.      ada interaksi antara penulis dan pembaca.&lt;br /&gt;d.     Memutuskan :menerima atau menolak ide penulis&lt;br /&gt;Untuk dapat melakukan evaluasi terhadap gagasan orang lain, kita perlu mengingat-ingat secara lebih seksama apa saja yang dikemukakan oleh penulis. Untuk itu, ingatan sangat penting. Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh agar kita dapat mengingat lebih lama ddan lebih baik, yiatu&lt;br /&gt;a.     hadapi bahan dengan tujuan&lt;br /&gt;b.     survei apa saja yang perlu diingat&lt;br /&gt;c.      cai fakta dan dapatkan dalam hubungannya dengana konteks&lt;br /&gt;d.     kaitkan apa yang dibaca dengan yang telah diketahui.&lt;br /&gt;e.     Perhatikan apa yang penting bagi Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usaha menanggapi pendapata orang lain, kita tidak boleh melupakan hal-hal yang penting yang diungkapkan oleh penulis. Agar tidak terlupakan perlu dibuat sejumlah catatan dari bacaan yang kita baca. Pokok-pokok yang perlu dicatat antara lain&lt;br /&gt;a.     bagian-bagian kunci :ide pokok, masalah, informasi penting&lt;br /&gt;b.     asumsi penulis tentang segi tertentu&lt;br /&gt;c.      detail atau fakta yang kita perlukan&lt;br /&gt;d.     pokok-pokok yang menarik&lt;br /&gt;Ada tiga jenis catatan, yaitu&lt;br /&gt;a.     catatan berupa koleksi fakta dan detail penting&lt;br /&gt;b.     catatan berupa kutipan kalimat, paragraf, kata kunci&lt;br /&gt;c.      catatan berupa ringkasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V.              &lt;strong&gt;SKIMMING DAN SCANNING&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Skimming adalah cara membaca yang hanya untuk mendapatkan ide pokok bacaan. Scanning adalah cara membaca dengan cara melompat langsung ke sasaran yang dicari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian-bagian yanag dapat dilompati antara lain&lt;br /&gt;a.     bagian yang telah diketahui dari buku lain&lt;br /&gt;b.     bagian yang berisi informasi yang tidak memenuhi tujuan membaca&lt;br /&gt;c.      bagian yang hanya merupakan contoh atau ilustrasi&lt;br /&gt;d.     bagian yang merupakan ringkasan bab sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud skimming adalah mencari hal-hal penting dari bacaaan. Fungsi skimming adalah&lt;br /&gt;a.     untuk mengenali topik bacaan&lt;br /&gt;b.     untuk mengetahui pendapat/opini orang&lt;br /&gt;c.      untuk mendapatkan bagian penting yang kita butuhkan&lt;br /&gt;d.     untuk mengetahui organisasi penulisan, urutan ide pokok, dan cara berpikir penulis.&lt;br /&gt;e.     Untuk penyegaran apa yang pernah dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Scanning adalah teknik membaca untuk mendapatkan suatu informasi tanpa membaca yang lain. Scanning biasa digunakan untuk&lt;br /&gt;a.     mencari nomor telepon&lt;br /&gt;b.     mencari kata pada kamus&lt;br /&gt;c.      mencari eintri pada indeks&lt;br /&gt;d.     mencari angka statistik&lt;br /&gt;e.     melihat acara siaran televisi&lt;br /&gt;f.       melihat daftar perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMOGA BERMANFAAT.....SELAMAT MENCOBANYA. WASSALAM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-1517912323946336603?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/1517912323946336603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=1517912323946336603&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/1517912323946336603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/1517912323946336603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/tips-membaca-cepat-praktis-dan-langsung.html' title='Tips membaca cepat, praktis dan langsung nyerap.'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-549661317138620958</id><published>2008-08-31T18:23:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T23:44:46.709-07:00</updated><title type='text'>teori-teori dari tokoh psikologi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PSIKOLOGI ADLER&lt;br /&gt;Psikologi Individu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada 3 era : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1. Perpecahan dengan Psikoanalisis (Adler)&lt;br /&gt;2. Era Rudolf Dreikers&lt;br /&gt;3. Era Don Dinkermeyer (Pertumbohan Psikologi Individu.) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;PANDAIAN TERHADAP MANUSIA &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Manusia sentiasa menuju kearah kebaikan yang boleh mengarah ke tingkahlaku Superior. Jika tingkahlaku superior ini disalahgunakan ia akan menjadi tingkahlaku yang self-defeat (kurang realistik dan menyebabkan perasaan Inferior) yang membawa kecelaruan tingkahlaku. Kesannya neurosis, psikosis, masalah dadah, jenayah dan bunuh diri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adler mencadangkan semak kembali life style klien untuk selaraskan minat individu dengan minat masyarakat kerana manusia dilihat sebagai berfenomenologikal .&lt;br /&gt;Manusia tidak didorong oleh masa lampau atau dikawal oleh tenaga luar tetapi dikuasai oleh masa depan dan diri mereka sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Self-defeating : Merugikan diri&lt;br /&gt;Fenomenologikal : Where you came from?&lt;br /&gt;: Manusia semua unik dan berbeza&lt;br /&gt;: Apa yang dilalui akan membentuk life style&lt;br /&gt;: Tingkahlaku didorongi oleh matlamat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Life Script : Skrip kehidupan atau cara gaya kehidupan ke arah keunggulan dan harus diselaraskan dengan tuntutan masyarakat.&lt;br /&gt;Tugas Kaunselor : mempertingkatkan sosialisasi dengan mengajar semula life style supaya individu itu boleh hidup dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEORI PERSONALITI ADLER &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1. Manusia dilihat sebagai organisma yang bersatu dan fully integrated dan mempunyai perkaitan yang rapat dengan persekitaran.&lt;br /&gt;2. Manusia didorongi oleh minat sosial untuk memperbaiki diri&lt;br /&gt;3. Tingkahlaku kita adalah didorong oleh tuntutan/desakan masyarakat&lt;br /&gt;4. Personaliti ditentukan oleh society&lt;br /&gt;5. Ibubapa dan keluarga sebagai environment. Adler menekankan didikan ibubapa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;PERBEZAAN ANTARA ADLER DAN FREUD &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1. Desakan sosial lebih utama dari desakan seksual&lt;br /&gt;2. Conciousness lebih utama dari unconcious&lt;br /&gt;3. Tingkahlaku manusia bertujuan dan bermatlamat (bukan kerana baka/seksual)&lt;br /&gt;4. Perkembangan manusia adalah normal bukan memperlihatkan sakit mental&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rumusan :&lt;br /&gt;Terpulang kepada individu untuk menentukan erti hidup (suratan dan takdir). Dalam kita meredhakan, kita harus sedar kelemahan dan terus memperbaiki (jangan nafi). Bila kita dapat menerima dugaan (takdir), kita akan dapat pengertian hidup yang akan memberi pengertian sosial - lakukan sesuatu untuk memenuhi cabaran masyarakat.&lt;br /&gt;** orang yang menentang takdir seolah-olah menentang dirinya sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;3&lt;strong&gt; TUGAS UTAMA DALAM KEHIDUPAN (No Man Is An Island) &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;1. Tugas Kemasyarakatan&lt;br /&gt;Bertujuan kembangkan tanggungjawab manusia terhadap persekitaran dan kemanusiaan. ‘Task for fulfill’. Try to be rensponsible. Individu yang individualistik adalah berpenyakit.&lt;br /&gt;e.g Anak menangis-kita biar - jiran tegur - kita tersinggung/tak seronok. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;2. Tugas Pekerjaan&lt;br /&gt;Individu harus belajar bekerjasama demi kepuasan diri dan ada kemahuan untuk mencapai kejayaan dalam pekerjaan - jamin kejayaan dalam masyarakat. Kalau individu tidak berfungsi, masyarakat kurang harmoni. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;3. Tugas Seks`&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Individu tidak harus melihat peranan kejantinaan sebagai ‘stereo type’ . Lihat sebagai setara agar kesempurnaan manusia tercapai. Berganding bahu.&lt;br /&gt;Perempuan boleh - lelaki pun boleh. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu ada 3 tugas :&lt;br /&gt;1. Manusia perlu ada hubungan dengan spiritual. Sifat keTuhanan supaya keimanan dapat dijamin.&lt;br /&gt;2. Lihat diri dari sudut ‘I’ dan ‘Me’&lt;br /&gt;‘I’ - Adalah diri yang subjektif (Luas, kabur dan extensif)&lt;br /&gt;‘Me’ - Adalah diri yang objektif (Lebih spesifik)&lt;br /&gt;Antara ‘I’ dan ‘Me” perlu ada perhubungan yang dapat memuaskan diri dan masyarakat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan :&lt;br /&gt;Tugas kehidupan harus dilihat sebagai menyeluruh kelima-limanya dan tidak boleh dipisahkan Jangan tumpu satu tugas sahaja.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAGAIMANA MANUSIA BERMASALAH?&lt;br /&gt;1. Matlamat Fictional (Apa yang diidamkan) &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ia bercorak futuristik dan subjektif (Didasari oleh unconcious). Fictional ini bermula dari kecil (situasi keluarga) - manusia belajar mengolah kawasan dirinya. Akan terbentuk penilaian dari fikiran yang tidak logik tapi bagi mereka logik. (dikenali sebagai as if). ‘As if ini akan mengajak manusia berfikir secara ‘only if’ - ini akan dirujuk kepada&lt;br /&gt;‘fear of rejection’. Misalnya jika aku baik/jahat aku akan dihormati. Betul atau salah tidak penting tapi bagi individu itu ia tetap benar terbentuklah private logik - dikonseplisasikan - jadi life style. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Matlamat Superiority (Matlamat sebenar)&lt;br /&gt;Fictional&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Inferiority (Keadaan sebenar)&lt;br /&gt;- Bersifat futuristik&lt;br /&gt;- Mengolah kawasan sendiri ‘as if (Andaian yang dirasanya betul)&lt;br /&gt;- Menjadi ‘only if’ - membentuk private logik.&lt;br /&gt;eg. C’s student fikir only if dia dapat A - semua orang hormatnya.(Private logic) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;- Jika gagal capai matlamat Fictional - try to overcome +ve Fully Functioning&lt;br /&gt;-ve Not Fully Functioning &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;-Matlamat Fictional baik untuk wawasan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Penyesuaian Yang Berjaya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergantung kepada minat sosial yang dimiliki. Seseorang itu harus mempelajari cara yang sesuai untuk mengatasi masalahnya. Jika berjaya menyelesaikan masalah maka pencapaian matlamatnya selaras dengan kehendak masyarakat. Jika sebaliknya, maka satu lagi matlamat fictional yang akan dibesar-besarkan untuk mencapai personal superiority.&lt;br /&gt;Akibatnya akan menghasilkan ketidakfungsian dan menghasilkan kecelaruan tingkahlaku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;3. Pencapaian Kepada Matlamat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Boleh diklasifikasikan kepada pelbagai jenis, bergantung kepada cara seseorangitu dibesarkan dan cara ia diperkukuhkan. Ada 4 cara :&lt;br /&gt;3.1 Ruling : Individu ini lebih dominon. Dalam perhubungan banyak aktiviti diperlihatkan manakala sedikit minat sosial dipamerkan. Kurang diterima oleh orang lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;3.2 Getting : Individu ini menjangkakan sesuatu dari orang lain dan jangkaan dari&lt;br /&gt;orang lain.Kurang minat sosial dan aktiviti yang dipamerkan.&lt;br /&gt;Contoh: Suka kata orang dan asyik minta tolong sahaja pada orang.&lt;br /&gt;Suka take advantage, tak kira apa orang rasa asalkan dia dapat apa yang dia mahu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;3.3 Avoiding : Lari dari masalah yang dihadapi dan kurang libatkan diri dalam aktiviti dan minat sosial. Ada masalah dia tekan kedalam diri dan anggap sudah solve tapi sekali keluar...meletup seperti gunung berapi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;3.4 Being socially useful :&lt;br /&gt;Hidup bersama dan sumbangan kepada orang lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;4. Life Style.&lt;br /&gt;Bermula dengan private logic kemudiab menghasilkan life script (life style).&lt;br /&gt;Bila klien datang harus fahami : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;4.1 Dari mana dia datang&lt;br /&gt;-Fahami latar belakang keluarganya.&lt;br /&gt;-Adakah tingkahlakunya mencapai matlamat fictonalnya? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;4.2 Kemana arah tujunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Adakah Matlamat fictionalnya selaras dengan minat masyarakat? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAGAIMANA KONFLIK BERLAKU?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Individu VS Persekitaran&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Individu mempunyai pendapat yang salah mengenai diri dan persekitarannya. Kerap merasakan persekitaran tidak adil&lt;br /&gt;Contoh : Bila lihat sekelilingnya orang kaya dan dia miskin, dikatakannya masyarakat tidak adil dan timbullah konflik. Akhirnya pecah amanah untuk samakan taraf.&lt;br /&gt;Bagi Adler, manusia dan persekitaran tidak boleh bercanggah. Jika bercanggah matlamat fictional akan berlaku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2. Tingkahlaku luar biasa&lt;br /&gt;Untuk mencapai matlamat fictional yang telah dibentuk dia akan buat tingkahlaku yang luarbiasa. Jika gagal dia terpaksa mempertahankan maruah diri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;3. Maruah&lt;br /&gt;Penjagaan maruah ini diperhebatkan bila lebih banyak kegagalan dijangkakan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;4. Self centered&lt;br /&gt;Bila terlalu nak jaga maruah dia akan jadi self centered&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;5. Tidak sedar apa yang sedang dan akan berlaku&lt;br /&gt;Tidak pentingkan kehendak masyarakat dan menjadi individu yang breakdown.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kesimpulan :&lt;br /&gt;Manusia akan menjadi inferiority complex (kagum dengan kelemahan diri sendiri)&lt;br /&gt;sehingga enggan membaiki diri diri lagi.&lt;br /&gt;Berbeza dengan inferiority feeling yang dimiliki oleh semua individu untuk memperbaiki kelemahan diri.&lt;br /&gt;Inferiority complex untuk capai superiority akan menyebabkan masculine protest (untuk capai matlamat superiority /unggul). Kalau perempuan akan nampak watak kelelakiannya tetapi kalau lelaki akan nampak kejantanan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;PUNCA KONFLIK&lt;br /&gt;1. Family Constellation : &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;1.1 Ciri Ahli Keluarga&lt;br /&gt;Bagaimana sikap ibubapanya. Dipercayai sikap ini akan mempengaruhi anak (orang ketiga) kerana telah disosialisasikan begitu. Kalau hendak tahu siapa kita, lihat anak kita.&lt;br /&gt;1.2 Susunan Kelahiran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Pertama : Manja, penuh kasih sayang, terlalu banyak perhatian (kadang-kadang tidak membenarkan children grow). Akhirnya anak itu jadi soft like jelly dan tidak responsible.&lt;br /&gt;Anak Kedua : Kelahirannya tidak dirancang/dijangkakan. Cried for attention. Jadi aggresif untuk dapat perhatian. Rebellious and stubborn kerana ibubapa tiada masa untuk melayan.&lt;br /&gt;Anak Bongsu : Suka Menyampuk, manja,&lt;br /&gt;1.3 Jantina&lt;br /&gt;Jika 1,2,3,4 lelaki tapi 5 perempuan (boyish)&lt;br /&gt;(Ibubapa kena bentuk semula)&lt;br /&gt;1.4 Saiz keluarga&lt;br /&gt;Kecil : cuai dan tidak bertanggungjawab kerana apa yang dia hendak dapat.&lt;br /&gt;tak sayang harta.&lt;br /&gt;Besar: Tahu berkongsi, pandai tolak ansur.&lt;br /&gt;2. Family Atmosphere&lt;br /&gt;Keluarga yang budaya positif selalu tiada masalah kerana penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;3 SALAHSUAI KETIKA ANAK-ANAK MEMBESAR. (Shulman 1973)&lt;br /&gt;1. Sering kanak-kanak dikategorikan dan diajar sikap yang tidak betul terhadap diri sendiri orang lain dan persekitaran. seolah-olah semuanya tidak adil dan tidak baik). Akhir sering berebut dalam familiy soal-soal kewangan dan kasih sayang.&lt;br /&gt;2. Lahirkan matlamat yang tidak betul dan kaedah pencapaian yang tidak sempurna.”Saya mestilah sempurna dan tidak peduli apa yang akan menghalang saya” Kena jadi perfect.&lt;br /&gt;3. Menanamkan idea yang tidak sempurna dan kesimpulannya.&lt;br /&gt;“ Saya mestilah terbagus oleh itu saya akan dapat nombor satu dan di hadapan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;PENDEKATAN ADLER DALAM MENGENDALIKAN KLIEN.&lt;br /&gt;1. Mendengar dengan aktif&lt;br /&gt;2. Confrontation&lt;br /&gt;3. Paradoxical Intention&lt;br /&gt;- Besar-besarkan isu/simptom hingga klien muak dengan kelakuan dan perasaannya&lt;br /&gt;- Setelah muak klien akan keluar dari sarang masalahnya dan berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tanda orang suka dengan sarang masalah : suka self pity dan suka kecil hati.&lt;br /&gt;4. Creating Images :&lt;br /&gt;-Ajar klien cara create image yang menyenangkan bila berada dalam keadaan yang kritikal atau takut.&lt;br /&gt;5. The Question :&lt;br /&gt;- Guna sebagai alat diagnostik untuk kenalpasti masalah klien. Lihat dari sudut fizikal dan psikologi.&lt;br /&gt;6. Catching Oneself (Tangkap Diri Sendiri)&lt;br /&gt;- Ajar klien tangkap diri sendiri dengan stop sign bila samapai tingkahlaku yang merugikan diri atau tidak dibenarkan. (contoh: istigfar)&lt;br /&gt;7. Push Button :&lt;br /&gt;- Gunakan kepada klien yang berkata bahawa mereka dikawal oeh emosi.&lt;br /&gt;- Ajar klien untuk imagine dan push button unpleasant kepada pleasant emotion&lt;br /&gt;8. Spitting in the soup&lt;br /&gt;-Kaunselor membesarkan masalah pelajar contoh...ish..ish dasyatnya, awak sukakah macam tu?.- hingga klien rasa tidak mahu lagi hidup dalam masalah itu.&lt;br /&gt;-Klien akan rasa tidak selesa dan ingin keluar dari kepompong masalah.&lt;br /&gt;9. Avoiding the tar baby&lt;br /&gt;- Klien masuk sesi dengan membawa semua masalah dan ingin dimasukkan semua masalahnya kedalam kaunselor. Dia ingin melihat kaunselor rasa bersalah.&lt;br /&gt;-Contoh,”Saya dah berbulan bersesi dengan encik tapi saya tak berubah pun!”.&lt;br /&gt;Kaunselor harus jawab, “Anda cuba mematahkan semangat anda dan semangat saya,You have to wake up and do it”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-549661317138620958?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/549661317138620958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=549661317138620958&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/549661317138620958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/549661317138620958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/08/psikologi-adler-psikologi-individu-ada.html' title='teori-teori dari tokoh psikologi'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-8784439810553295177</id><published>2008-08-16T07:21:00.000-07:00</published><updated>2008-08-16T07:26:40.906-07:00</updated><title type='text'>Cara meningkatkan kinerja otak</title><content type='html'>1. Pelajari satu kata dan seringkali gunakan itu dalam percakapan.&lt;br /&gt;2. Lakukan Devil''s advocate (saya tidak tahu pasti jika itu sebuah permainan atau hanya sebuah idiom).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sikat gigi dengan tangan yang lain.&lt;br /&gt;4. Mandi dengan mata tertutup.&lt;br /&gt;5. Main Sudoku&lt;br /&gt;6. Konsumsi suplemen minyak ikan atau lebih baik makan ikan saja.&lt;br /&gt;7. Pergi ke kantor atau tempat lain dengan menggunakan jalan yang belum pernah dilalui sebelumnya.&lt;br /&gt;8. Meditasi.&lt;br /&gt;9. Bicara dengan orang asing. (Lebih baik daripada berbicara dengan diri sendiri...hehe)&lt;br /&gt;10. Menghitung mundur waktu.&lt;br /&gt;11. Menghindari kafein paling tidak satu minggu sebelum sebuah tes penting. (Jadi, saya pikir tidak boleh mengkonsumsi apel dan es teh. Mengerti?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Menghafalkan daftar belanjaan.&lt;br /&gt;13. Melakukan modafinil (sesuatu untuk mengobati epilepsi)&lt;br /&gt;14. Jalan mengelilingi rumah dengan menutup mata, ini akan meningkatkan intelegensi ruang anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Taruh 12 barang di atas baki. Ingat tempat mereka masing-masing dan mintalah pertolongan orang lain untuk memindahkan beberapa barang dan anda menebak mana yang pindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah banyak cara untuk meningkatkan kinerja otak kita , coba praktekan, biar semakin cerdas ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-8784439810553295177?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/8784439810553295177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=8784439810553295177&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/8784439810553295177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/8784439810553295177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/08/1.html' title='Cara meningkatkan kinerja otak'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1930471357655495149.post-5025176244224893887</id><published>2008-08-16T06:21:00.000-07:00</published><updated>2008-08-16T07:20:58.538-07:00</updated><title type='text'>think the best, do the best, be the best... ok !</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#660000;"&gt;Salam sukses..&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#660000;"&gt;buat teman-teman ku yang satu jurusan...&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#660000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Wah akhirnya terciptalah sebuah website yang menjaring semua ide-ide dari teman-teman semua, yah meskipun ini cuma sebuah blog, Ana harapkan teman-teman satu jurusan psikologi bisa menulis apapun khususnya yang berkaitan dengan psikologi, apakah itu sebuah &lt;strong&gt;artikel,&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;tulisan, saran, kritik, ataupun ide-ide yang membangun kampus kita ke depan&lt;/strong&gt;, karna kita yakin dan percaya tanpa adanya kerja sama dan kesatuan dari kita, kita tak akan bisa mewujudkan suatu harapan ke depan. yah inilah harapan Ana kedepannya. agar mahasiswa bisa menciptakan kreatifitasnya dan menggali ilmu lebih dalam untuk disebar dan dibagikan, berkat adanya blog ini, mudah-mudahan teman-teman semua bisa menuangkan segala yang terlintas dipikiran, unek-unek, kritikan, saran atau pun masukan-masukan jangan disimpan dalam hati, tuangkan disini,, biar kampus kita tetap eksis dan bermutu... Amiin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SALAM DARI ANA ... pencetus ide kreatif ini ...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1930471357655495149-5025176244224893887?l=psikologiupi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiupi.blogspot.com/feeds/5025176244224893887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1930471357655495149&amp;postID=5025176244224893887&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/5025176244224893887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1930471357655495149/posts/default/5025176244224893887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiupi.blogspot.com/2008/08/think-best-do-best-be-best-ok.html' title='think the best, do the best, be the best... ok !'/><author><name>the clubs of psychology</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
